Vaksin Johnson & Johnson Buatan AS Dinilai Ampuh Lawan Semua Varian Covid-19
Vaksin Covid-19 yang diproduksi Johnson & Johnson disebut bisa menghasilkan beberapa respons kekebalan yang efektif melawan berbagai varian virus.
WASHINGTON DC, TRIBUNBATAM.id - Virus corona penyebab Covid-19 telah menginfeksi Indonesia selama satu tahun, sejak 2 Maret 2020.
Ketika itu Presiden Joko Widodo didampingi oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan dua kasus pertama virus corona di Indonesia.
"Orang Jepang ke Indonesia bertemu siapa, ditelusuri dan ketemu. Ternyata orang yang terkena virus corona berhubungan dengan dua orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun," kata Jokowi kala itu di Istana Kepresidenan, Jakarta saat itu.
"Dicek dan tadi pagi saya dapat laporan dari Pak Menkes bahwa ibu ini dan putrinya positif corona," kata Jokowi lagi.
Baca juga: Ratusan Warga Binaan dan Petugas di Rutan Karimun Disuntik Vaksin Covid-19
Hingga kini, sejumlah daerah di Indonesia masih ada pasien covid-19, termasuk Batam, Provinsi Kepri.
Baru-baru ini, Pemprov Kepri tengah berusaha melakukan vaksin ke semua lapisan masyarakat. Mulai dari ASN, pegawai swasta,TNI-Polri dan masyarakat sipil lainnya.
Diketahui, vaksin yang digunakan adalah merek vaksin Sinovac dan AstraZeneca.
Baca juga: Dua Orang Dengan Gangguan Jiwa di Toapaya Bintan Ikut Divaksinasi Covid-19
Vaksin Johnson & Johnson
Vaksin Covid-19 yang diproduksi Johnson & Johnson disebut bisa menghasilkan beberapa respons kekebalan yang efektif melawan berbagai varian virus.
Hal ini jadi temuan terbaru menurut penelitian yang dirilis Rabu (9/6/2021) di Nature.
Laporan yang dikutip The Hill ini menyebut, vaksin Johnson & Johnson mengaktifkan respons imun terhadap galur virus corona asli, serta varian terbarunya seperti Alfa, Beta, Gamma, dan Epsilon.
Kesimpulannya, vaksin Johnson & Johnson "menawarkan perlindungan yang kuat terhadap kasus gejala Covid-19", baik di Afrika Selatan atau Brasil, di mana variannya telah menyebabkan sebagian besar kasus.
Para peneliti mempelajari antibodi dan respons imun seluler dari 20 sukarelawan yang berusia antara 18 dan 55 tahun.
Baca juga: Pemerintah Daerah Anambas Gelar Rakor Percepatan Vaksinasi Covid-19
Studi ini memang menemukan bahwa antibodi yang menetralkan, muncul lebih sedikit ketika melawan varian Beta dan Gamma, varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dan Brasil.
Antibodi penetral muncul lebih sedikit dibanding saat diuji dengan strain Covid-19 asli.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin_20160626_221929.jpg)