Breaking News:

HUMAN INTEREST

Kisah Warsih Merantau Jadi Penjual Jamu Keliling di Natuna, Kini Punya Rumah Sendiri

Sudah 10 tahun, Warsih berjualan jamu di Natuna membantu ekonomi keluarga. Karena keuletannya, Warsih bisa beli tanah, kini sudah dibangun rumah

Penulis: Kontributor Natuna | Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Wina
Kisah Warsih Merantau Jadi Penjual Jamu Keliling di Natuna, Kini Punya Rumah Sendiri. Foto Warsih penjual jamu keliling di Natuna 

Laporan Kontributor Tribunbatam.id di Natuna, Wina

NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Gerimis yang turun di Ranai, Natuna, tidak mengurungkan niat Warsih (41).

Ia tetap keluar rumah menjajakan jamu tradisional buatannya. Dengan Yamaha Jupiternya, Warsih membelah angin dan gerimis demi mengais rezeki.

Sudah 10 tahun sejak awal tiba di Ranai, Warsih berjualan jamu untuk membantu perekonomian keluarganya.

Dengan modal sekali berjualan Rp 100 ribu, ia bisa mengantongi keuntungan bersih Rp 50 ribu.

Meski keuntungan yang diperoleh tidaklah banyak, namun hasil itu sudah cukup membantu ia dan keluarganya.

Baca juga: Kisah Anak Nelayan di Bintan Bersinar di Kejuaraan Dunia Karate, Tapi Redup di Daerah

Warsih sadar, hidup di rantau tidaklah mudah. Apalagi ia dan suami sama sekali tidak memiliki sanak saudara di Ranai. Suami Warsih, Sutarman hanya penjual Cilok di Pasar Ranai.

"Hidup di perantauan tak boleh malas, mbak. Kalau malas kita tak makan, anak-anak tak sekolah," tuturnya sambil melayani pembeli di Sepempang, Sabtu (17/7/2021).

Setiap hari, aktivitasnya membuat jamu dimulai pukul 03.00 WIB. Diawali dari menyiapkan bahan, hingga mengolahnya menjadi jamu, semua dikerjakan sendiri oleh Warsih.

Tangannya sudah lihai memproduksi jamu sendiri. Sebelum menjual jamu sendiri di Ranai, semasa gadis Warsih sudah bekerja sebagai tukang jamu keliling di Jakarta.

Halaman
12
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved