Breaking News:

HUMAN INTEREST

Kisah Buyung, Penjual Kacang Rebus yang Terdampak Pandemi Covid: Sekarang Susah

Buyung, penjual kacang rebus dan jagung manis di Tanjungpinang mengakui adanya perbedaan saat ia berjualan di masa pandemi covid dan sebelum pandemi

Penulis: Muhammad ilham | Editor: Dewi Haryati
Tribunbatam.id/Muhammad Ilham
Buyung, penjual kacang dan jagung manis rebus di dekat Pos Polisi Simpang Tiga Lampu Merah Bintan Center, Jalan DI. Panjaitan, Kilometer 9, Tanjungpinang. Foto diambil Jumat (17/9/2021) 

TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Di pinggir jalan dekat Pos Polisi Simpang Tiga Lampu Merah Bintan Center, Kilometer 9, Tanjungpinang, terlihat seorang pria paruh baya yang sedang menunggu orang datang untuk membeli dagangannya.

Ia biasa disapa Pak Buyung. Pria asal Sumatera Barat itu sudah puluhan tahun merantau ke Kota Gurindam ini.

"Saya merantau ke sini dari Sumbar sekitar tahun 1998," kata Buyung, Jumat (17/9/2021).

Sehari-hari ia bekerja sebagai penjual kacang rebus di dekat Pos Polisi Simpang Tiga Lampu Merah Bintan Center, Kilometer 9, Tanjungpinang.

Di tengah kesibukan arus lalu lintas, Buyung terlihat sedang menanti kendaraan yang singgah di depan lapak jualannya untuk membeli dagangannya.

Di sana ia menjual kacang rebus dan juga jagung manis rebus.

Baca juga: KISAH Nakes di Batam Kena Covid-19 saat Hamil, Ajak Bumil Jangan Takut Divaksin

Baca juga: Kisah Ali Penambang Boat Pancung di Tanjungpinang Bertahan Saat Pandemi Covid-19

Kacang rebus yang dijualnya dibanderol per 1 kaleng sarden.

"Kalau kacang, 1 kaleng sarden ini harganya Rp 10 ribu, kalau setengah kaleng itu cuma Rp 7 ribu," ujarnya.

Sedangkan untuk jagung rebus dijual per buah hanya Rp 7 ribu.

Ia mengenang masa-masa sebelum pandemi covid-19 melanda tanah air. Sebelum Corona datang, ia bisa menghabiskan sekitar 31 kilogram jagung manis dalam sehari.

Halaman
12
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved