Benarkah Masyarakat Indonesia Tak Cemas Bahaya Corona?
Di tengah kecemasan sebagian besar masyarakat global terhadap pandemi Covid-19 terdapat kelompok masyarakat Indonesia yang tak cemas akan virus corona
TRIBUNBATAM.id - Pandemi virus corona atau Covid-19 masih terus meneror dunia, termasuk Indonesia.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, termasuk otoritas kesehatan internasional dan lokal telah berulangkali menyatakan tentang bahaya Covid-19.
Tak seperti virus pada umumnya, Covid-19 bisa bermutasi dan memunculkan varian-varian baru yang berbahaya jika menginfeksi manusia.
Menariknya, di tengah kecemasan sebagian besar masyarakat global, terdapat kelompok masyarakat Indonesia yang tak cemas akan corona.
Dibanding warga negara lain, masyarakat Indonesia mempunyai level relatif lebih rendah terkait kecemasan dan ketakutan terhadap Covid-19, seperti diungkap penelitian terbaru Jhons Hopkins University.
Dilansir dari Tribunnews.com (13/10/2021), studi tersebut meneliti perilaku masyarakat terhadap Covid-19.
Baca juga: Tanjung Pinang Cetak Rekor, Nol Kasus Kematian Baru Covid-19 Selain PPKM Level I
Baca juga: BINTAN dan Lingga Nol Kasus Baru Covid-19, Tanjungpinang Terbanyak Kasus Baru di Kepri
Menurut Perwakilan Communication Science and Research Jhons Hopkins Center For Communication Program, Yunita Wahyu Nigrum, kurangnya kecemasan atau kekhawatiran ini berisiko menimbulkan dampak tidak baik.
Di mana masyarakat akan menjadi lengah terhadap protokol kesehatan.
"Jadi kalau melihat di sini itu, kalau orang semakin rendah memandang bahwa ini ancaman rendah, itu akan berakibat orang tersebut menjadi lengah.
Tidak melihat Covid-19 berpotensi masih berisiko," ungkapnya dalam seminar virtual.
Namun perubahan perilaku telah terlihat di level individu, bahkan sudah bergeser menjadi norma sosial.
Berdasarkan pada penelitian yang sama, sebanyak 78 persen orang mengaku yakin dengan vaksinasi.
"Yang menarik di sini ada data yang menunjukkan 75 persen orang yakin bahwa hampir semua atau kebanyakan orang sekarang sudah divaksin," kata Yunita, dikutip dari health.
Namun di sisi lain, perilaku menjaga jarak masih terhitung rendah.
Kemudian menghindari kontak, menurut penelitian, masih perlu dibudayakan untuk menjadikan norma sosial.
Baca juga: Jumlah Pasien Covid-19 di RSKI Galang Terus Turun, Kembali Pulangkan 59 Pasien
Baca juga: Benarkan Ada Gelombang Ketiga Covid-19? IDI Menjawab, Epidemiolog Jelaskan Kondisi Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/17-5-2021-warga-berkerumun-di-pantai.jpg)