Senin, 11 Mei 2026

BERITA SINGAPURA

Singapura Dibuat Pusing, Krisis Energi Gegara Migas Laut Natuna Kepri

Singapura mengalami krisis energi. Kondisi ini tak lepas dari aktivitas migas di Laut Natuna Utara, Provinsi Kepri. Kok bisa?

Tayang:
ROSLAN RAHMAN / AFP
SINGAPURA - Singapura alami krisis energi akibat distribusi gas dari Laut Natuna Utara, Kepri. Foto pemandangan gedung distrik bisnis keuangan di Singapura pada 28 Juni 2021. 

SINGAPURA, TRIBUNBATAM.id - Tambang migas di Laut Natuna Utara, Provinsi Kepri buat Singapura pusing.

Negeri Singa itu bahkan mengalami krisis energi.

Pasokan gas alam dari perbatasan Indonesia melalui pipa West Natuna yang mengalami gangguan sejak Juli 2021 diketahui menjadi penyebabnya.

Seperti diketahui, Singapura merupakan negara yang bergantung pada gas untuk pembangkit listrik.

Negara ini pun hampir memenuhi semua kebutuhan energinya dengan impor.

Gangguan distribusi dari Indonesia ke Singapura sejak Juli 2021 dibenarkan SKK Migas.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno menegaskan jika distribusi sudah kembali normal.

Kondisi ini disebabkan penurunan laju produksi gas akibat penghentian yang tidak direncanakan (unplanned shutdown) di Lapangan Anoa.

Baca juga: Singapura Masih Berjuang Lawan Covid-19, Tenaga Kesehatan Mulai Frustasi

Baca juga: Aksi Tak Pantas Ayah di Singapura, Khawatir Celaka Putri Sendiri Jadi Korban

Selain itu, sempat ada pengurangan pasokan gas karena pemeliharaan terencana (planned shutdown) di Lapangan Gajah Baru.

Produksi kedua lapangan migas yang terletak di Natuna itu telah menyebabkan produksi gas di Natuna turun 27,5 persen dari puncak sebelumnya menjadi 370 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd).

"Memang terjadi unplanned shutdown di salah satu produsen gas kita.

Tetapi hanya beberapa hari saja dan sekarang sudah kembali normal operation," ungkapnya seperti dikutip Kompas.com, Kamis (21/10/2021).

Kendati distribusi ke Singapura sudah kembali normal, tetapi pasokan gas dari Indonesia belum sepenuhnya bisa memenuhi permintaan Singapura.

"Sekarang sudah normal tetapi masih di batas bawah, jadi kalau ada demand (permintaan) lebih ke buyer (pihak pembeli) belum bisa terpenuhi," kata Julius.

Mengutip Channel News Asia (CNA), Kamis (21/10/2021), regulator energi Singapura, Energy Market Authority (EMA) menyatakan, pasokan gas yang lebih rendah dari Indonesia dan dibarengi tingginya permintaan listrik dari biasanya, telah membuat harga listrik di negara itu melonjak.

Baca juga: Dekat Singapura Malaysia, Tanjung Pinang Diminta Waspada Penyakit Hewan

Baca juga: SINGAPURA Belum Izinkan Warganya Masuk Batam, Pemko Bidik Wisman Negara Lain

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yakni permintaan listrik yang lebih tinggi dari biasanya di dalam negeri dan pengurangan pasokan gas alam perpipaan dari Indonesia.

Di sisi lain, harga gas alam cair (LNG) di global yang meningkat pesat saat ini, turut menjadi penyebab krisis energi.

Hal itu membuat perusahaan pembangkit listrik di Singapura sulit beralih ke pembelian LNG untuk menutupi kekurangan pasokan gas pipa dari Indonesia.

Tingginya harga gas yang berimbas pada lonjakan harga listrik di Singapura, setidaknya telah membuat tiga perusahaan listrik menyetop usaha mereka.

Ketiganya yakni Best Electricity Supply, Ohm Energy, dan iSwitch Energy.

Sementara, salah satu perusahaan energi listrik lainnya, Union Power menyatakan, pada awal pekan bahwa mereka mengurangi 850 akun pelanggan terutama komersial di tengah tarif listrik yang tinggi.

Langkah ini diambil sebagai bagian dari reorganisasi bisnis. (TribunBatam.id) (Kompas.com/Yohana Artha Uly)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Singapura

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved