Rabu, 22 April 2026

Obat Covid Molnupiravir Dipakai Inggris untuk Pasien Corona, Benarkah Ampuh?

Temuan tentang manfaat obat antivirus molnupiravir mencegah sakit parah pada pasien Covid-19 yang baru didiagnosis telah terungkap sejak awal Oktober

Handout / Merck & Co,Inc. / AFP | Kena Betancur / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP via Tribunnews
Foto obat molnupiravir dan papan nama gedung perusahaan Merck 

Ketua Komisi Human Medicines Munir Pirmohamed mengatakan, pil molnupiravir tersebut efektif mengurangi risiko masuk rumah sakit, atau kematian pada orang dewasa yang tidak dirawat di rumah sakit yang berisiko hingga 50 persen.

Kendati telah menjadi obat antivirus untuk perawatan Covid-19, Munir Pirmohamed mengatakan bahwa pil Covid molnupiravir tidak dimaksudkan sebagai pengganti vaksin Covid-19.

Diborong WHO?

Nama molnupiravir buatan Merck & Co (MRK.N) jadi perbincangan dunia dan dianggap sebagai salah satu obat Covid-19.

Kabar yang beredar, molnupiravir kemungkinan besar menjadi salah satu obat yang akan dibeli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Seperti diketahui, hingga saat ini obat pil untuk mengobati pasien Covid-19 ringan masih dalam pengembangan.

Namun, molnupiravir sejauh ini jadi satu-satunya obat oral yang sudah memaparkan hasil positif dalam uji coba tahap akhir.

Dokumen Access to Covid-19 Tools Accelerator (ACT-A) memaparkan, hingga September 2022 akan melakukan pengadaan obat-obatan untuk mengobati 120 juta pasien secara global.

Aktivitas tersebut adalah bagian dari program global yang membantu negara miskin mendapat vaksin, tes, dan pengobatan Covid-19 berencana mengamankan obat-obatan antivirus untuk pasien bergejala ringan.

Menurut draf dokumen yang dilihat Reuters, program yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini akan memberi obat antivirus tersebut dengan harga terendah 10 dollar AS atau sekitar Rp 140.770 per paket.

Reuters pada Rabu (20/10/2021) menjelaskan, pil eksperimental molnupiravir buatan Merck & Co (MRK.N), kemungkinan besar menjadi salah satu obat yang akan dibeli WHO.

Baca juga: Iran Klaim Hasil Uji Obat Corona Buatannya Berhasil Turunkan Gejala Pasien dalam 48 Jam

Baca juga: Proses Uji Obat Corona Buatan Iran, Mereka Berhasil Turunkan Gejala Pasien dalam 48 Jam

Rencana tersebut menyoroti bagaimana WHO ingin menopang pasokan obat-obatan dan tes Covid-19 dengan harga relatif rendah.

Itu karena badan PBB itu "kalah" dalam perlombaan menyimpan vaksin Covid-19 dari negara-negara kaya.

Dengan obat-obatan ditopang oleh WHO, ada kesempatan bagi negara miskin untuk memperoleh obat-obatan itu dengan harga lebih rendah.

Di sisi lain, juru bicara ACT-A mengatakan, dokumen tertanggal 13 Oktober 2021 itu masih dalam tahap konsultasi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved