Jumat, 24 April 2026

Obat Covid Molnupiravir Dipakai Inggris untuk Pasien Corona, Benarkah Ampuh?

Temuan tentang manfaat obat antivirus molnupiravir mencegah sakit parah pada pasien Covid-19 yang baru didiagnosis telah terungkap sejak awal Oktober

Handout / Merck & Co,Inc. / AFP | Kena Betancur / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP via Tribunnews
Foto obat molnupiravir dan papan nama gedung perusahaan Merck 

Oleh sebab itu, dia menolak mengomentari isinya sebelum difinalisasi.

Namun, dokumen tersebut akan dikirim ke para pemimpin global menjelang KTT G20 di Roma pada akhir bulan ini.

Berapa harganya?

Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Harvard, memperkirakan molnupiravir kemungkinan dibandrol dengan harga sekitar 20 dollar AS (Rp 280.000) per paket, jika diproduksi oleh pembuat obat generik.

Namun, kisaran harga itu bisa turun menjadi 7,7 dollar AS (Rp 108.000) jika produksinya dioptimalkan.

Targetnya, dokumen ACT-1 akan mencapai kesepakatan di akhir November agar bisa mengamankan pasokan obat Covid-19 rawat jalan.

Jika hal ini berjalan lancar, ditargetkan obat tersedia mulai kuartal pertama tahun 2022.

"Jumlah tambahan yang lebih besar dari obat antivirus oral baru untuk mengobati pasien ringan juga diharapkan akan diperoleh pada tahap selanjutnya," kata dokumen itu.

Selain itu, program tersebut berharap dapat membeli 4,3 juta paket pil Covid-19 untuk mengobati pasien kritis seharga 28 dollar AS (Rp 393.000) per paket.

Baca juga: Kabar Bahagia, WHO Rekomendasikan 2 Jenis Obat Covid-19, Diklaim Kurangi Resiko Kematian

Baca juga: Rekomendasi Obat Covid-19 untuk Isolasi Mandiri menurut Dokter Spesialis Paru

Masih dari Kompas, tidak disebutkan obat apa yang dimaksud dalam dokumen itu.

ACT-A juga berharap mampu memenuhi kebutuhan oksigen medis esensial dari 6-8 juta pasien parah dan kritis pada September 2022.

Sumbang dana tambahan

ACT-A meminta KTT G20 dan donor lainnya untuk menyumbang dana tambahan sebesar 22,8 miliar dollar AS (Rp 320,1 triliun) hingga September 2022.

Dana itu akan dipakai untuk membeli dan mendistribusikan vaksin, obat-obatan dan tes Covid-19 ke negara-negara miskin, supaya mempersempit kesenjangan pasokan dengan negara kaya.

Para donor sejauh ini telah menjanjikan 18,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 260 triliun) untuk program tersebut.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved