Selasa, 28 April 2026

Obat Covid Molnupiravir Dipakai Inggris untuk Pasien Corona, Benarkah Ampuh?

Temuan tentang manfaat obat antivirus molnupiravir mencegah sakit parah pada pasien Covid-19 yang baru didiagnosis telah terungkap sejak awal Oktober

Handout / Merck & Co,Inc. / AFP | Kena Betancur / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP via Tribunnews
Foto obat molnupiravir dan papan nama gedung perusahaan Merck 

TRIBUNBATAM.id - Temuan tentang manfaat obat antivirus molnupiravir mencegah sakit parah pada pasien Covid-19 yang baru didiagnosis telah terungkap sejak awal Oktober 2021.

Pil Merck molnupiravir diyakini bisa mengurangi kemampuan virus bereplikasi, sehingga memperlambat penyakit.

Inggris menjadi negara pertama di dunia yang mulai menggunakan pil Covid Merck molnupiravir secara luas, direkomendasikan pada pasien Covid-19 untuk meringankan gejala infeksi disebabkan virus corona SARS-CoV-2.

Oktober lalu, Indonesia pun melirik manfaat obat antivirus tersebut untuk digunakan sebagai salah satu obat bagi pasien Covid-19.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk me-review obat-obatan baru yang potensial bagi perawatan Covid-19.

"Tapi juga bisa obat-obatan anti virus baru seperti yang sekarang lagi ramai didiskusikan Molnupiravir dariMerck, Sharp & Dohme (MSD). Jadi obatan-obatan tersebut sudah kita approach pabrikannya," ungkap Budi dalam telekonferensi pers di Jakarta, Senin (4/10/2021).

Baca juga: 6 Fakta Obat Covid-19 Pil Merck Molnupiravir, Dipesan Hingga Jutaan Dosis

Baca juga: Perintah Langsung Jokowi ke Penglima TNI, Angkat Obat Covid-19 Pakai Pesawat Hercules

Secara resmi penggunaan pil Covid buatan Merck ini telah disetujui pada Kamis (4/11/2021).

Dikutip dari Stat News, pemberian obat molnupiravir selama lima hari di awal infeksi, dapat mengurangi waktu perawatan di rumah sakit dan risiko kematian akibat Covid-19, dibandingkan dengan menggunakan obat plasebo.

Dalam pengujian terhadap pil Covid molnupiravir buatan Merck, Sharp & Dohme (MSD) ini, tim membagi peserta menjadi dua kelompok, yakni kelompok plasebo dan kelompok yang diberi obat antivirus molnupiravir.

"Hari ini (Kamis) adalah hari bersejarah bagi negara kita, karena Inggris sekarang menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui antivirus yang dapat dibawa pulang untuk Covid-19," kata Menteri Kesehatan Sajid Javid, dikutip dari AFP.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir 2 tahun, para ilmuwan sejauh ini masih terus berupaya mencari obat yang tepat untuk perawatan bagi penyakit ini, di samping penemuan vaksin Covid-19 yang terus berjalan.

Obat Covid-19 pertama bisa diminum

Kepala eksekutif MHRA June Raine mengatakan bahwa pil Covid molnupiravir sebagai tambahan senjata untuk melawan Covid-19.

"Ini juga merupakan (obat) antivirus pertama yang disetujui di dunia untuk penyakit ini yang dapat diminum alih-alih diberikan secara intravena," tambahnya dilansir dari Kompas.

"Ini penting karena (obat) itu berarti dapat diberikan di luar rumah sakit."

Baca juga: Ilmuan China Kembangkan Obat Corona, Klaim Lebih Efisien dan Sudah Miliki 5 Calon Vaksin Covid-19

Baca juga: CATAT! Ini Daftar Obat Corona yang Dianggap Ampuh Menyembuhkan Pasien Covid-19

Ketua Komisi Human Medicines Munir Pirmohamed mengatakan, pil molnupiravir tersebut efektif mengurangi risiko masuk rumah sakit, atau kematian pada orang dewasa yang tidak dirawat di rumah sakit yang berisiko hingga 50 persen.

Kendati telah menjadi obat antivirus untuk perawatan Covid-19, Munir Pirmohamed mengatakan bahwa pil Covid molnupiravir tidak dimaksudkan sebagai pengganti vaksin Covid-19.

Diborong WHO?

Nama molnupiravir buatan Merck & Co (MRK.N) jadi perbincangan dunia dan dianggap sebagai salah satu obat Covid-19.

Kabar yang beredar, molnupiravir kemungkinan besar menjadi salah satu obat yang akan dibeli Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Seperti diketahui, hingga saat ini obat pil untuk mengobati pasien Covid-19 ringan masih dalam pengembangan.

Namun, molnupiravir sejauh ini jadi satu-satunya obat oral yang sudah memaparkan hasil positif dalam uji coba tahap akhir.

Dokumen Access to Covid-19 Tools Accelerator (ACT-A) memaparkan, hingga September 2022 akan melakukan pengadaan obat-obatan untuk mengobati 120 juta pasien secara global.

Aktivitas tersebut adalah bagian dari program global yang membantu negara miskin mendapat vaksin, tes, dan pengobatan Covid-19 berencana mengamankan obat-obatan antivirus untuk pasien bergejala ringan.

Menurut draf dokumen yang dilihat Reuters, program yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini akan memberi obat antivirus tersebut dengan harga terendah 10 dollar AS atau sekitar Rp 140.770 per paket.

Reuters pada Rabu (20/10/2021) menjelaskan, pil eksperimental molnupiravir buatan Merck & Co (MRK.N), kemungkinan besar menjadi salah satu obat yang akan dibeli WHO.

Baca juga: Iran Klaim Hasil Uji Obat Corona Buatannya Berhasil Turunkan Gejala Pasien dalam 48 Jam

Baca juga: Proses Uji Obat Corona Buatan Iran, Mereka Berhasil Turunkan Gejala Pasien dalam 48 Jam

Rencana tersebut menyoroti bagaimana WHO ingin menopang pasokan obat-obatan dan tes Covid-19 dengan harga relatif rendah.

Itu karena badan PBB itu "kalah" dalam perlombaan menyimpan vaksin Covid-19 dari negara-negara kaya.

Dengan obat-obatan ditopang oleh WHO, ada kesempatan bagi negara miskin untuk memperoleh obat-obatan itu dengan harga lebih rendah.

Di sisi lain, juru bicara ACT-A mengatakan, dokumen tertanggal 13 Oktober 2021 itu masih dalam tahap konsultasi.

Oleh sebab itu, dia menolak mengomentari isinya sebelum difinalisasi.

Namun, dokumen tersebut akan dikirim ke para pemimpin global menjelang KTT G20 di Roma pada akhir bulan ini.

Berapa harganya?

Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Harvard, memperkirakan molnupiravir kemungkinan dibandrol dengan harga sekitar 20 dollar AS (Rp 280.000) per paket, jika diproduksi oleh pembuat obat generik.

Namun, kisaran harga itu bisa turun menjadi 7,7 dollar AS (Rp 108.000) jika produksinya dioptimalkan.

Targetnya, dokumen ACT-1 akan mencapai kesepakatan di akhir November agar bisa mengamankan pasokan obat Covid-19 rawat jalan.

Jika hal ini berjalan lancar, ditargetkan obat tersedia mulai kuartal pertama tahun 2022.

"Jumlah tambahan yang lebih besar dari obat antivirus oral baru untuk mengobati pasien ringan juga diharapkan akan diperoleh pada tahap selanjutnya," kata dokumen itu.

Selain itu, program tersebut berharap dapat membeli 4,3 juta paket pil Covid-19 untuk mengobati pasien kritis seharga 28 dollar AS (Rp 393.000) per paket.

Baca juga: Kabar Bahagia, WHO Rekomendasikan 2 Jenis Obat Covid-19, Diklaim Kurangi Resiko Kematian

Baca juga: Rekomendasi Obat Covid-19 untuk Isolasi Mandiri menurut Dokter Spesialis Paru

Masih dari Kompas, tidak disebutkan obat apa yang dimaksud dalam dokumen itu.

ACT-A juga berharap mampu memenuhi kebutuhan oksigen medis esensial dari 6-8 juta pasien parah dan kritis pada September 2022.

Sumbang dana tambahan

ACT-A meminta KTT G20 dan donor lainnya untuk menyumbang dana tambahan sebesar 22,8 miliar dollar AS (Rp 320,1 triliun) hingga September 2022.

Dana itu akan dipakai untuk membeli dan mendistribusikan vaksin, obat-obatan dan tes Covid-19 ke negara-negara miskin, supaya mempersempit kesenjangan pasokan dengan negara kaya.

Para donor sejauh ini telah menjanjikan 18,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 260 triliun) untuk program tersebut.

Permintaan dana itu didasarkan pada perkiraan rinci harga obat, perawatan dan tes, yang memperhitungkan pengeluaran terbesar selain ongkos distribusi vaksin.

Memang, dokumen ACT-A tidak secara eksplisit menyebut akan membeli molnupiravir.

Namun dokumen itu memaparkan akan membayar 10 dolar AS (Rp 141.000) per paket obat pil antivirus terbaru untuk pasien ringan atau sedang.

Hingga saat ini, obat pil untuk mengobati pasien Covid-19 ringan masih dalam pengembangan.

Baca juga: BIN Ikut Serahkan Hasil Uji Klinis Kombinasi Obat Covid-19, Ahli Biologi Molekuler Minta Tak Euforia

Baca juga: Dexamethasone Diklaim Jadi Obat Covid-19, BPOM Kepri Ungkap Sebaliknya, Ini Efek Sampingnya

Namun, molnupiravir sejauh ini menjadi satu-satunya obat oral yang sudah memaparkan hasil positif dalam uji coba tahap akhir.

ACT-A sedang berunding dengan Merck & Co dan produsen obat generik untuk membeli obat-obatan tersebut.

Jika dibandingkan harga yang disepakati AS, 700 dollar AS (Rp 9.851.800) per paket untuk membeli 1,7 juta paket pengobatan Covid-19, harga yang akan dibeli WHO itu sangat murah.

.

.

.

(*/ TRIBUNBATAM.id)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved