UMK BATAM 2022
NILAI UMK Batam 2022 Jadi Perdebatan, Ini Pesan Ketua DPRD Batam
Ketua DPRD Kota Batam, Nuryanto menyoroti perdebatan besaran UMK Batam 2022 yang terjadi antara serikat buruh dan pihak pengusaha.
Pihaknya mengimbau seluruh perusahaan di Batam untuk segera menghitung dan mengupdate perhitungan struktur dan skala upahnya karena jika tidak ada akan ada sanksi dari pemerintah.
Tentunya kepada seluruh pihak terkait untuk menjaga iklim investasi yang kondusif di Batam ini karena investasi kita sedang terpuruk dan investasi baru sangat dibutuhkan untuk membuka lapangan pekerjaan," tuturnya.
Mengingat, tingkat pengangguran terbuka di Kota Batam telah mencapai 11 persen yakni kurang melonjak dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya di kisaran 7 hingga 8 persen.
"Jika iklim investasi kurang kondusif maka investor akan enggan datang ke Batam dan saudara-saudara kita yang sedang menganggur tentunya akan semakin sulit mendapatkan pekerjaan," sebutnya.
BURUH Desak Rp 4,6 Juta
Kenaikan UMK sebelumnya menjadi kerinduan setiap pekerja termasuk mereka yang saat ini mengadu nasib di Kota Batam.
Kerinduan itu mengalir juga dari hati Siska (25), seorang karyawati pada sebuah perusahaan di kawasan Batu Ampar Batam.
"Kalau saya pribadi sangat berharap agar UMK Batam naik paling tidak 5-7 persen. Sebab, UMK Batam Tahun 2021 tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup selama satu bulan," ujar Siska kepada TRIBUNBATAM.id, Selasa, (9/11/2021) sore.
Dia mengakui, selama ini harga sejumlah barang seperti sembako kian hari semakin meningkat.
Baca juga: DAFTAR Syarat WNI Bisa Masuk Singapura Tanpa Karantina, Berlaku 29 November 2021
"Saya yang masih lajang saja tidak mencukupi bahkan terkadang minus. Apalagi mereka yang sudah menikah dan punya anak. Wah itu pasti puyeng mencari uang tambahan," ungkap Siska.
Menurut Siska, kondisi seperti ini sangat dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah.
Di tambah lagi dengan hantaman pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir tentu membuat situasi semakin runyam.
"Bagi saya pribadi, alhamdulillah meskipun dalam situasi pandemi Covid-19 namun saya masih bisa menerima gaji yakni Rp 4,1 juta. Itu belum dipotong BPJS," cerita Siska.
Dia mengaku uang tersebut setelah dirincikan masih lebih besar pengeluaran jika dibandingkan dengan gajinya.
"Saya kerja hanya untuk bertahan hidup saja. Tahulah saya masih ada adik-adik dua lagi yang kesehariannya masih minta uang kepada saya selaku anak sulung. Ini saja sudah saya ngirit seirit-iritnya biar bisa mencukupi kebutuhan selama satu bulan," kata Siska.
Pada kesempatan itu, dia mengaku pengeluarannya selama satu bulan dialokasikan untuk belanja sembako, kebutuhan MCK, beli data pulsa, bayar listrik, minyak motor untuk keperluan pulang dan pergi kerja, jajan adik, kosmetik hingga kebutuhan sehari-hari yang tidak terduga.
"Meski masih ada mama namun saya sebagai anak pertama harus lebih banyak membantu keluarga saya di rumah," ujar Siska.
Hal serupa juga di sampaikan oleh Nopika (19).
Dia mengaku dan memohon kepada Pemerintah Kota Batam agar bisa mengusulkan UMK Batam Tahun 2022 lebih tinggi dari UMK Batam Tahun 2021.
"Kita tahu ini situasi pandemi Covid-19. Hanya saja yang paling banyak terdampak yakni masyarakat ketimbang pemilik perusahaan. Karena itu mohon untuk dipertimbangkan kembali, paling tidak UMK Batam naik menjadi Rp 4,5 juga," harap Nopika.
Baik Siksa maupun Nopika hanya berharap kepada Pemerintah Kota Batam saja.
Karena mereka hanyalah masyarakat biasa yang mengadu ke pemerintah.
“Semoga Pemerintah Kota Batam menyaring aspirasi masyarakat dan memutuskan yang terbaik untuk masyarakat Batam,” kata Nopika. (TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami/Roma Uly Sianturi/Rebekha Ashari Diana Putri/Ronnye Lodo Laleng)
*Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang UMK
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ketua-dprd-batam-nuryanto-soal-tagihan-air-naik-warga-batam.jpg)