WISATA KEPRI
Misteri Ambung Gila Permainan Rakyat Kepri Penuh Nuansa Magis
Ambung Gila menjadi salah satu permainan rakyat di Kepri yang kerap dimainkan oleh masyarakat lokal.
LINGGA, TRIBUNBATAM.id - Wisata di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri tak hanya melulu indahnya alam saja.
Daerah yang masih kental dengan budaya Melayu menyimpan adat dan kebudayaan dari turun temurun.
Mulai dari adat perkawinan, tepuk tepung tawar, mandi sapar, hingga permainan rakyat yang dimainkan dari peninggalan kerajaan atau peninggalan sejak dulu.
Salah satu yang cukup menarik adalah permainan rakyat yang menyimpan banyak misteri saat dimainkan.
Permainan Ambung Gila namanya.
Baca juga: Wan Siswandi Ingin Natuna Jadi Wajah Wisata Indonesia di Mata Dunia
Baca juga: Ansar Ahmad Lobi Pusat Buka Pariwisata Kepri
Dari namanya, Ambung memiliki arti keranjang dan gila berati menggila.
Permainan Ambung Gila ini merupakan warisan budaya Melayu di Lingga yang masih dipercaya berbau mistis.
Disebut Ambung Gila, karena saat dimainkan sebuah Ambung ini akan bergerak dengan sendirinya setelah dibacakan mantra oleh bomo atau orang yang mempunyai ilmu untuk memainkan.
Permainan ini berbau magis ini masih ditemukan di Desa Mepar, Kecamatan Lingga, Provinsi Kepri
Permainan ini pun hanya dimainkan oleh dua atau tiga orang.
Ambung ini pun dipegang oleh orang yang memainkannya dan diletakkan di atas kemenyan atau dupa yang telah dibacakan doa atau mantra oleh bomo.
Saat dibacakan doa oleh bomo atau dukun, perlahan Ambung ini pun menjadi berat dan bergerak dengan sendiri.
Semakin lama ia dipegang, maka Ambung ini akan bergerak dengan sangat cepat hingga bisa membuat pemainnya hilang kendali dan harus memegang erat.
Beberapa orang kadang diceritakan ada yang terpelanting dan memaksanya untuk memegang kuat Ambung ini saat bergerak dan menggila.
Menurut dukun atau seorang bapak yang membaca mantra, Ambung itu bisa bergerak karena ada roh yang memasukinya, sehingga bisa bergerak tidak tentu arah.
Baca juga: Rahma Ajak Gali Potensi Pariwisata di Kota Tanjungpinang
Baca juga: PESONA Vihara Dharma Sasana Tanjungpinang, Destinasi Wisata Religi Sejak Abad 17
Pantauan TribunBatam.id, ada beberapa orang juga tidak bisa menikmati sensasi Ambung ini saat menggila.
Terkadang Ambung itu tidak bereaksi apa-apa kepada orang-orang tertentu.
"Kalau orang lemah semangat, Ambong ini tak mau bergerak," kata Azhar, seorang pria tua yang membacakan mantra pada Ambung di Desa Mepar, beberapa waktu lalu.
Tidak setiap orang mampu menjadi Bomo atau dukun.
Selain memerlukan keyakinan, juga harus memiliki kekuatan mental dan keberanian menghadapi sejumlah kemungkinan hal gaib yang mungkin saja terjadi saat permainan dilaksanakan.
Oleh sebab itu, para pemain dan Bomo tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.
Pemerhati sejarah dari Dinas Kebudayaan Lingga, Lazuardy mengatakan, bahwa permainan ini sudah jarang ditemui, namun masih dilestarikan di Desa Mepar.
Ia mengatakan, Ambung Gila itu dimainkan saat menjadi sebuah pertunjukan, penyambutan, atau permainan suka ria, dan bisa dimainkan pada acara nikah kawin budaya Melayu.
"Untuk memainkan permainan ini harus ada Khalifah atau bomo yang paham.
Jadi untuk pelestarian ini memang kekurangan seorang Khalifah, sehingga tidak semua wilayah bisa memainkan ini.
Jadi untuk zaman ini, memang jarang sekali ditemukan," kata Lazuardy kepada TribunBatam.id baru-baru ini.
Baca juga: Melihat Wisata Kepri Pantai Pongkar di Karimun
Baca juga: Wisata Batam Kampung Tua di Kepri, Khas Suasana Alami Kental Budaya Melayu
Lazuardy mengungkapkan, bahwa ia pernah menemui seorang bomo atau sebutan Khalifah di Desa Mepar ini untuk menanyakan mantra saat memainkan Ambung Gila.
Hal itu ia lakukan, karena ingin membuat sebuah tulisan di buku sebagai acuan mengenal permainan rakyat di Kabupaten Lingga.
Dalam naskah-naskah lama peninggalan kerajaan yang ia temui, masih belum menemukan tulisan menyinggung permainan Ambung Gila di zaman kerajaan.
"Tapi itu tidak memungkinkan kalau Permainan ini telah diperkenalkan oleh masyarakat dulu.
Namun, belum ditemukan permainan ini saat di zaman kerajaan pada kepemimpinan Sultan siapa," jelas pria yang pecinta ilmu sejarah Melayu ini.
Meski sering dianggap berbau mistis, Lazuardy mengatakan bahwa permainan ini hanya sebagai tontonan atau penghimbur.
Ia mengatakan, permainan ini pun tidak berisiko terhadap orang yang memainkannya.
Menurutnya, permainan ini jarang ditemui karena sedikit bertolak belakang dengan ajaran agama.
Namun, tidak berarti ada larangan saat memainkannya.
Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kepri Buralimar sebelumnya optimistis geliat pariwisata di Kepri perlahan namun pasti bangkit dari pandemi covid-19.
Di tengah pandemi Covid-19 saat ini Buralimar berharap Kepulauan Riau yang menjadi pintu masuk bagi wisatawan asing bisa disambut dengan baik.
Ia juga berharap di tahun 2022 di awal Januari mendatang tidak ada lagi antigen maupun PCR.
Meski demikian, pemberian vaksinasi corona secara penuh wajib dilakukan untu menjamin imun tubuh.
Baca juga: Budaya Melayu Jadi Daya Tarik Wisata Kepri, Pemerintah Daerah Meliriknya
Baca juga: Pantai Saudara Kite Pulau Bintan, Destinasi Wisata Kepri Cocok Buat Swafoto
Berdasarkan data hasil dari Pemko Batam sudah 70,1 persen tingkat kekebalan masyarakat Batam.
Tempat atau destinasi wisata setidaknya masyarakat disekitar lokasi sudah divaksin seluruhnya.
Seperti di Lagoi sudah 2000 ribu masyarakat nya yang divaksin, kemudian Nongsa sekitar 3000 yang divaksin.
"Kami berharap semoga keadaan ini segera pulih, minimal travel agent. Apalagi saat ini perkembangan Covid-19 kita belum terlalu stabil, namun di bulan Desember kita siap bagi teman-teman yang menyediakan paket - paket sudah bisa segera dipersiapkan. Saat ini juga antigen sudah turun ya harganya, lalu PCR juga sudah cukup terjangkau harganya," kata Buralimar.
Ada pun beberapa alat yang dimainkan saat permainan Ambung Gila ini, di antaranya:
1. Sebuah Ambung atau keranjang
2. Kemenyan atau dupa
3. Sebuah talam atau alas aluminium.(TribunBatam.id/Febriyuanda)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Wisata Kepri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/sensasi-ambung-gila-di-pulau-mepar.jpg)