WISATA KEPRI

Mengenal Pernikahan Adat Melayu Kepri, Identik dengan 3 Warna Cerah

Yuk melihat lebih dekat adat pernikahan Melayu di Provinsi Kepri. Salah satunya bisa kita temukan di Batam.

media centre batam
Pernikahan adat melayu didominasi warna kuning, peninggalan Kesultanan Riau Lingga. 

"Pe" artinya peti atau kotak, "rak" artinya bertingkat, dan "ne" artinya lebih dari satu. Jumlah tingkatan tersebut harus ganjil sesuai dengan budaya Islam yang sering menggunakan angka-angka ganjil.

Baca juga: Melihat Masjid Tertua di Anambas, Jadi Destinasi Wisata Kepri

Baca juga: Kuliner Kepri Nan Legit Ini Sudah Terkenal Hingga Negeri Jiran, Enak Dimakan Selagi Hangat

Sanggar Seni Diram Perkase, Desa Sungai Buluh, Kabupaten Lingga, Kepri pentaskan budaya seni bangsawan melayu dalam bentuk film atau video di masa pandemi Covid-19.
Sanggar Seni Diram Perkase, Desa Sungai Buluh, Kabupaten Lingga, Kepri pentaskan budaya seni bangsawan melayu dalam bentuk film atau video di masa pandemi Covid-19. (TribunBatam.id/Febriyuanda)

Untuk jumlah tingkatannya sendiri disesuaikan dengan hadirin yang datang, yakni tiga tingkatan pada umumnya untuk para datuk, dan lima untuk kerabat Sultan.

Selain itu, terdapat bantal sadok di belakangnya serta tempat bersandar, kemudian tabir selak dipasang di kanan dan kiri.

Di dalam tempat bersanding itu, hal yang wajib disediakan adalah peti atau kotak.

Di tempat bersanding, kedua pengantin biasa melakukan acara saling suap pulut kuning.

Acara ini dibimbing oleh Mak Andam, dan dilakukan sebanyak tiga kali bergantian.

Urutannya, istri kepada suami dan suami kepada istri. Seusai suapan, sang suami mengajak istri turun dari peterakne dengan mengaitkan dua kelingking.

Sama halnya dengan tempat bersanding pengantin di daerah lain, terdapat payung-payung sebagai hiasannya. Namun payung berwarna khas kuning itu ditutup, dan baru boleh dibuka saat sedang berarak.

Sedangkan warna-warni kebesaran adat Melayu yaitu kuning, hijau, biru, hitam dan merah juga dipakai oleh para pembesar, contohnya warna kuning untuk kerabat sultan dan anak-anaknya, warna hijau untuk para alim ulama, warna biru untuk pembesar istana, warna merah untuk laksmana dan panglima, dan hitam untuk pemangku adat.

Baca juga: Pulau Penyengat Destinasi Wisata, Pemprov Kepri Segera Benahi Infrastruktur Hingga Cagar Budaya

Baca juga: Deretan Kuliner Khas Kepri, Mie Lendir hingga Teh Obeng

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kepri, Buralimar mengatakan, kebudayaan Melayu seperti kuliner, adat perkawinan serta busananya harus dijunjung tinggi.

Ia juga senantiasa mengajak masyarakat Kota Batam agar lebih mengenal dan mencintai budaya Melayu. Seluk beluk tentang adat melayu ini secara detil dapat diperoleh di Kantor Disbudpar Batam, Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam.

“Melayu melekat di Batam dan hadir di setiap kegiatan kebudayaan di Kepri," ujarnya.
(TribunBatam.id/Hening Sekar Utami)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang Wisata Kepri

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved