Jumat, 5 Juni 2026

China Punya Jebakan Utang Bikin Inggris Waspada, Indonesia Bagaimana?

Skema jebakan utang China buat Inggris waspada. Kepala intelijen mereka (MI6) memperingatkan bahaya itu. Bagaimana Indonesia?

Tayang:
KOMPAS
Negara di Eropa ini mewaspadai skema jebakan utang China yang dikemas dalam bentuk investasi. FOTO: Potret Shanghai Shipyard Riverside Park, China belum lama ini. 

CHINA, TRIBUNBATAM.id - Dominasi China akan dunia terus saja mereka lancarkan.

Salah satu yang paling nyata adalah kebijakan dalam bidang ekonomi.

Sebagai salah satu negara berpengaruh dan diperhitungkan di dunia, China menjalin kerja sama dengan sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Yang terbaru, perusahaan asal China, Chengtun Mining Group Co, akan kembali berinvestasi pada sebuah pabrik nickel matte yang merupakan bahan baku untuk bahan kimia baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia.

Total investasi proyek dilaporkan mencapai US$ 245 juta.

Dalam keterbukaan informasi pada Hari Kamis (2/12), Chengtun Mining mengatakan masuk pasar Indonesia lewat perusahan patungan bernama PT ChengMach Nickel.

Unit Chengtun Hongcheng International akan memegang 70% ekuitas ChengMach Nickel. Lalu sisanya dipegang oleh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Singapura yakni Extension Investment Pte seperti dikutip Kontan.co.id.

Baca juga: China Usik Laut Natuna Utara Kepri, Desak Indonesia Stop Pengeboran Migas

Baca juga: Petenis China Buat Gempar, WTA Sampai Tangguhkan Turnamen Akibat Pengakuannya

Data Bank Indonesia menunjukkan utang luar negeri Indonesia ke China per Agustus 2021 berjumlah 21,2 miliar dollar AS (Rp 305 triliun).

China merupakan peminjam terbesar keempat kepada Indonesia, setelah Singapura, Amerika Serikat, dan Jepang.

Data juga menunjukkan bahwa jumlah utang Indonesia meningkat lebih dari 400 persen dalam 10 tahun terakhir.

Selain itu, China juga merupakan negara kedua dengan nilai investasi terbesar kedua di Indonesia setelah Singapura.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai investasi China di Indonesia pada 2020 berjumlah 4,8 miliar dollar AS (Rp68,9 triliun).

Nilai investasi itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2018 lalu yang berkisar 2,37 miliar dollar AS.

Peningkatan investasi China tidak lepas dari proyek Belt and Road (BRI), program ambisius Presiden Xi Jinping yang dimulai pada 2013.

Baca juga: China Buat AS hingga Inggris Cemas, Kembangkan Senjata Mematikan sampai Kecerdasan Buatan

Baca juga: China Kerahkan 27 Jet Tempur Masuk Zona Udara Taiwan Buntut Kunjungan Delegasi AS

Indonesia mendapatkan 72 proyek BRI bernilai total 21 miliar dollar AS sejak 2015.

Salah satu proyek besar BRI di Indonesia adalah pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung yang dikerjakan melalui joint venture China Railways International Co Ltd dan PT Pilar Sinergi BUMN.

Proyek kereta cepat ini mulanya bernilai 6,07 miliar dollar AS atau sekitar Rp 86,5 triliun, namun belakangan membengkak menjadi 8 miliar miliar dollar AS atau setara Rp114,24 triliun.

Skema kebijakan ekonomi berbalut investasi ini rupanya membuat Inggris waspada.

Kepala Badan Intelijen Inggris (MI6) Richard Moore memperingatkan tentang jebakan utang dan jebakan data oleh China.

Melalui wawancara perdananya yang disiarkan langsung pada BBC Radio 4, Moore, yang dikenal sebagai 'C', mengatakan jebakan China itu mengancam kedaulatan sehingga dia mengusulkan langkah-langkah defensif.

China menurutnya memiliki kapasitas untuk mengumpulkan data dari seluruh dunia dan menggunakan uang untuk membuat orang lain tertarik.

Mantan agen rahasia ini menyebut Beijing mencoba memanfaatkan pengaruhnya melalui kebijakan ekonomi yang bertujuan membuat orang-orang terperangkap.

"Ketika Anda mengizinkan negara lain mengakses data yang sangat penting terkait masyarakat di negara Anda, seiring berjalannya waktu hal itu akan mengikis kedaulatan. Anda tidak lagi memiliki kendali atas data tersebut. Hal itu sangat kami waspadai di Inggris, dan kami telah mengambil langkah-langkah defensif," ucapnya seperti dikutip Kompas.com.

Moore menyebut China telah menjadi prioritas tunggal terbesar bagi MI6 ketika dia berbicara di Institut Internasional untuk Studi Strategis di London.

Dia juga memperingatkan potensi salah perhitungan akibat kepercayaan diri Beijing pada isu seperti situasi di Taiwan, yang bisa menimbulkan ancaman serius pagi perdamaian global.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan kepada BBC Indonesia bahwa potensi Indonesia terkena jebakan utang China selalu ada.

Apalagi, investasi China berkembang sangat cepat dalam lima tahun terakhir dan kesepakatan yang terbangun tidak hanya melalui pemerintah, namun juga swasta dan BUMN.

Menurut dia, apabila jebakan utang yang dimaksud adalah penyerahan pengelolaan aset kepada China karena gagal membayar utang, maka kasus seperti ini memang belum terjadi di Indonesia.

Namun beberapa negara sudah mengalaminya, seperti Uganda yang menyerahkan pengelolaan Bandara Internasional Entebbe karena gagal membayar utang.

Kemudian Srilanka yang pada 2018 lalu menyerahkan pengelolaan Pelabuhan Hambantota yang dibangun melalui bantuan utang China sebesar 1,5 miliar miliar dollar AS.

"Apakah kita sudah masuk dalam jebakan utang, belum. Tetapi risikonya tetap ada. Itu yang perlu diantisipasi," kata Faisal.

Baca juga: Taiwan Andalkan Amerika Serikat Sejak Berkonflik dengan China, Faktanya?

Baca juga: Selebgram China Nasibnya Memilukan, Nekat Akhiri Hidup, Abu Kremasinya Malah Dicuri

Dia mengatakan pembengkakan biaya pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung menjadi salah satu indikasi buruk akan potensi tersebut.

Sebab, pemerintah akhirnya ikut menjamin proyek tersebut melalui penanaman modal sebesar Rp 4 triliun untuk membantu menutupi pembengkakan biaya. Meski pada kesepakatan awalnya pemerintah tidak ikut menjamin proyek itu.

"Potensi seperti itu harus diantisipasi dengan perencanaan yang lebih baik, sehingga tidak ada pembengkakan biaya yang besar, juga konsistensi antara kesepakatan awal dengan realisasinya," ujar Faisal.

Jauh sebelum itu, pada 2019 lalu, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meyakini bahwa Indonesia bisa terhindar dari jebakan utang China.

"Ada yang memperingatkan debt trap, itu untuk yang skemanya tidak seperti kita. Kita tidak melakukan perjanjian G to G (antarpemerintah). Skema B to B (antarbadan usaha) itu sangat baik untuk mengurangi risiko jebakan ini," kata Luhut pada 26 April 2019, dikutip dari situs resmi Kemenko Marves.(TribunBatam.id) (Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru) (Kontan.co.id)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita Tentang China

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved