China Punya Obat Covid-19, Klaim Tekan Risiko Rawat Inap hingga Kematian
Obat covid-19 hasil pengembangan China ini bahkan diikuti Inggris dan otoritas kesehatan Uni Eropa.
Meski pil lebih mudah digunakan, pengobatan paling efektif untuk Covid saat ini melibatkan antibodi monoklonal yang diberikan melalui infus.
Baca juga: China Gak ada Lawan? Sederet Alasan Mengapa Banyak Produk Made in China
Baca juga: China Gelagapan! WHO Temukan Lab Lain di Wuhan Dipindahkan Diam-diam Otoritas Xi Jinping
China juga 'dikejar' dengan semakin banyak penelitian yang menunjukkan vaksinnya memiliki tingkat kemanjuran lebih rendah daripada banyak vaksin yang dibuat di luar negeri.
Data percobaan menunjukkan bahwa terapi kombinasi dapat mengurangi risiko rawat inap dan kematian pada pasien berisiko tinggi sekitar 80 persen, menurut keterangan Universitas Tsinghua di media sosial pada Rabu malam.
Laporan media pemerintah bulan lalu menambahkan, pengobatan tersebut juga telah digunakan pada pasien yang terinfeksi wabah lokal.
Pil Molnupiravir
Klaim obat covid-19, pil Molnupiravir sebelumnya sudah pernah disampaikan.
Perusahaan farmasi Amerika Serikat, Merck diketahui menciptakan obat tersebut.
Obat ini bahkan telah mendapat persetujuan Inggris sebagai obat Covid-19 pertama yang bisa diminum.
Persetujuan Inggris dikeluarkan pada Kamis (4/11/2021) dan menjadikannya negara pertama di dunia yang menyetujui penggunaannya.
Lalu apa itu pil molnupiravir, bagaimana cara kerjanya, dan apakah bisa menggantikan vaksin Covid-19?
Berikut serba-serbi pil Merck molnupiravir yang dirangkum Kompas.com dari AFP.
1. Inggris Negara Pertama yang Setujui Pil Covid Merck Molnupiravir
Inggris memberi lampu hijau penggunaan pil Merck molnupiravir untuk mengobati pasien Covid-19 yang menderita gejala ringan hingga sedang, kata Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan Inggris (MHRA).
Baca juga: HEBOH Varian Omicron Siluman Ditemukan, Ini Fakta-faktanya Versi Ilmuan
Baca juga: Perusahaan China hingga Amerika Serikat Sahamnya Rontok Imbas Covid-19 Varian Omicron
"Hari ini adalah hari bersejarah bagi negara kita, karena Inggris sekarang menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui antivirus yang dapat dibawa pulang untuk Covid-19," kata Menteri Kesehatan Sajid Javid.
"Ini akan menjadi game-changer bagi orang-orang yang paling rentan dan imunosupresi, yang akan segera dapat menerima terobosan pengobatan," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1-7-2021-virus-corona-lambda.jpg)