BERITA CHINA
Jejak China di Natuna Sudah Lama, Sampai ke Nusantara Pada Masa Dinasti Tang
Di catatan Dinasti Sung yang dikumpulkan Groeneveldt, Natuna jadi salah satu tempat yang sering dikunjungi pelaut China meski pusat kegiatan di Jawa
TRIBUNBATAM.id - Jejak China di Natuna ternyata telah ada sejak lama.
Dalam catatan Dinasti Sung yang dikumpulkan Groeneveldt, Natuna bahkan jadi salah satu tempat yang sering dikunjungi pelaut-pelaut China, meski pusat kegiatan Nusantara berada di Jawa.
Natuna yang kini masuk dalam Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) termasuk dalam jalur perjalanan pelaut China yang ada di Nusantara.
Di mana disebutkan, kebanyakan dari mereka menjadikan Natuna sebagai tempat singgah pedagang yang akan ke Sumatera, Kalimantan, maupun Semenanjung Malaya.
Pada buku Direction for Sailing to and from The East Indies, China, New Holland, Cape of Good Hope, and The Interjacent Ports (2014) karya James H dicatatkan, kemungkinan juga saat itu pelaut China tidak berlayar menggunakan kapalnya, melainkan milik India.
Para pelaut China menggunakan jalur Samudera Selatan dengan menempuh waktu selama kurang lebih dua bulan untuk sampai ke Nusantara.
Waktu itu ditempuh dengan cuaca dan angin yang bagus selama berlayar.
Baca juga: China Makin Berani Klaim Laut Natuna Utara, Indonesia Gandeng Amerika Serikat
Baca juga: Bakamla Bawa Kapal Illegal Fishing Asal Vietnam ke Batam, Hasil Patroli Laut Natuna Utara
Bahkan, Pulau Natuna ternyata menyimpan cukup banyak benda-benda kuno, salah satunya keramik.
Keramik-keramik yang ditemukan memiliki corak khas China, yang kemungkinan dibawa oleh pelaut China.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa Pulau Natuna yang kecil sudah diperhatikan oleh para pelaut di Asia, termasuk China.
Pada abad ke-5 Masehi, orang-orang China sudah memulai perjalanannya dengan berlayar.
Dalam jurnal Arkeologi Natuna: Koridor Maritim di Perairan Laut Cina Selatan (2014) karya Sonny C Wibowo, pelayaran orang China sampai ke Nusantara pada masa Dinasti Tang abad ke-7 Masehi.
Di mana hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara saat itu dengan daratan China sudah terjalin.
Bahkan selama pertumbuhan dan perkembangan Sriwijaya sudah melakukan kegiatan niaga jarak jauh.
Pada abad ke-10 hingga 13, Kerajaan Sriwijaya yang letaknya di Sumatera juga mengirimkan lebih dari 20 miosi perniagaan ke China.
Baca juga: Potensi Laut Natuna Utara, Ibarat Taman Bunga Kaya Nektar Bahan Madu
Baca juga: Cadangan Migas Laut Natuna Utara yang Diklaim China, Singapura Sempat Dibuat Pusing