BERITA CHINA
Nasib Olimpiade Beijing 2022 di China, Dewan Imam Global Ikut AS Sampai Keluarkan Seruan
Olimpiade Beijing 2022 di China jadi sorotan Dewan Imam Global (GIC). Mereka mengikuti langkah Amerika Serikat (AS) terkait hal ini.
TRIBUNBATAM.id - Nasib Olimpiade Beijing 2022 semakin menjadi perhatian.
Setelah Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara bakal memboikot diplomatik yang diikuti oleh sejumlah negara lainnya, sebut saja Inggris.
Kini giliran Dewan Imam Global (GIC) yang melarang umat Islam di seluruh dunia untuk berpartisipasi pada Olimpiade Beijing 2022.
Rencananya, pelaksanaan olimpiade musim dingin di China itu akan diselenggarakan pada 4 Februari 2022.
China sebelumnya sempat bersikap atas sikap sejumlah negara yang mengikuti jejak Amerika Serikat terkait wacana boikot diplomatik itu.
Pemerintah Beijing berjanji akan mengambil langkah serius jika negara tersebut serius memberlakukan boikot diplomatik.
Baca juga: Bahagia Tahun 2022, Ramalan Kuno China Sebut 8 Shio Sukses di Segala Bidang
Baca juga: China Meradang, Sejumlah Negara Ikut Amerika Serikat Boikot Olimpiade Beijing 2022
Langkah boikot diplomatik berarti pejabat dan rombongan diplomatik tidak akan hadir dalam uven olahraga Internasional itu.
Mereka tetap mengirim utusan negara untuk berlaga dalam olimpiade tersebut.
Seruan Dewan Imam Global itu dikeluarkan pada 30 Desember 2021 lalu dengan dalih penindasan terhadap etnis Uighur di wilayah Xinjiang, China.
Dilansir dalam situs resminya, GIC mengaku sebagai organisasi para pemuka agama Islam transnasional dan terbesar di dunia dari semua mazhab.
Situs web GIC juga mengaku memiliki lebih dari 1.300 anggota di seluruh dunia sebagaimana dilansir NTD.
Dalam pernyataan tersebut, Presiden GIC Imam Mohammad Baqir al-Budairi mengatakan bahwa Olimpiade Beijing melayani kepentingan 'rezim tirani'.
Mereka menambahkan jika Negeri Panda bertanggung jawab atas genosida dan pembersihan etnis Uighur.
“Dewan Imam Global mengatur bahwa partisipasi dan kehadiran di Beijing 2022 dilarang. Kami mendukung, dan bersatu dengan Muslim Uighur yang tertindas. Pemerintah China terus melanggar hak asasi manusia dan fundamental Muslim China melalui penindasan, penyiksaan, dan kediktatoran,” tambah al-Budairi dalam suratnya seperti diberitakan TribunMedan.com.
Langkah itu dilakukan setelah AS mengumumkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Musim Dingin 2022 Beijing.
Boikot diplomatik tersebut diterapkan AS dengan alasan krisis hak asasi manusia yang sedang berlangsung di Xinjiang.
Baca juga: China Peringatkan AS Soal Boikot Olimpiade Beijing 2022, Siap Ambil Tindakan Tegas
Baca juga: Ada Lawan? China: Kami akan Terus Memodernisasi Persenjataan Nuklir
Dalam boikot diplomatik, AS tidak akan mengirim delegasi resmi ke acara tersebut. Namun, para atlet AS masih akan diizinkan untuk bertanding.
China dituduh melakukan genosida dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uighur dan etnis minoritas lainnya di wilayah Xinjiang.
Di sisi lain, 'Negeri Panda' berulang kali membantah tuduhan tersebut, termasuk tuduhan kerja paksa di wilayah tersebut.
CHINA Peringatkan AS
China sebelumnya memberi peringatan keras kepada Amerika Serikat yang mengumumkan pemboikotan diplomatik terhadap Olimpiade Beijing 2022.
Sikap ini setelah disampaikan beberapa jam setelah muncul laporan jika pemerintahan Joe Biden akan mengumumkan boikot.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psaki pada Senin (6/12) mengatakan jika Amerika Serikat (AS) mengumumkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.
Alasan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) menjadi salah satu hal yang mendasari AS memboikot Olimpiade Beijing itu.
Dengan sikap Amerika Serikat ini, para pejabat AS termasuk presiden tidak akan datang ke Olimpiade Beijing, tetapi para atletnya tetap bertanding.
Selama berbulan-bulan, Pemerintah AS berusaha menemukan cara terbaik untuk memosisikan diri sehubungan dengan Olimpiade Beijing, yang diselenggarakan pada 4-20 Februari 2022.
Baca juga: Tiongkok, Malaysia, Singapura, Amerika Serikat Asal Impor Batam, China Catat Terbesar
Baca juga: Ambisi China Garap Proyek Matahari Buatan Selain Militer dan Ekonomi
Beberapa organisasi hak asasi manusia menuduh Beijing telah menahan setidaknya satu juta warga Muslim di Xinjiang di kamp re-edukasi.
"Pemerintahan Biden tidak akan mengirim perwakilan diplomatik atau resmi ke Olimpiade Musim Dingin dan Paralimpiade Beijing 2022, mengingat genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan RRC yang sedang berlangsung di Xinjiang dan pelanggaran hak asasi manusia lainnya," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Jen Psak.
Menurutnya, mengirim perwakilan pemerintah ke Olimpiade akan menandakan bahwa terlepas dari pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan dan kekejaman di Xinjiang, Olimpiade itu bisnis seperti biasa.
"Dan kami (Amerika Serikat) tidak bisa melakukan itu," lanjutnya.
Menanggapi laporan tadi, Beijing mengatakan langkah seperti itu untuk mencari panggung.
"Saya ingin tekankan bahwa Olimpiade Musim Dingin bukanlah panggung untuk sikap dan manipulasi politik," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, dalam konferensi pers reguler pada Senin waktu setempat.
Ia pun memperingatkan AS agar berhenti membesar-besarkan isu boikot.
"Jika AS bertekad menempuh caranya sendiri, China akan mengambil tindakan balasan yang tegas," lanjut Zhao dikutip dari AFP.
Baca juga: Jejak China di Natuna Sudah Lama, Sampai ke Nusantara Pada Masa Dinasti Tang
Baca juga: Awal 2022 Haru di China, Anak Korban Penculikan Bertemu Ibunya Setelah 33 Tahun Terpisah
Para aktivis mengatakan, setidaknya satu juta orang Uighur dan lainnya yang berbahasa Turki, sebagian besar minoritas Muslim, dipenjara di kamp-kamp Xinjiang.
China juga dituduh mensterilkan wanita secara paksa dan menerapkan kerja paksa di sana.
Digelar hanya enam bulan setelah Olimpiade Tokyo yang tertunda akibat pandemi, Olimpiade Beijing akan diadakan pada 4-20 Februari dengan pembatasan Covid-19.(TribunBatam.id) (TribunMedan.com)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Olimpiade Beijing 2022
Sumber: TribunMedan.com