Sabtu, 25 April 2026

India Dilanda Gelombang Panas, Suhu Udara Meningkat Capai 45 Derajat Celcius

India dilanda cuaca panas ekstrem yang mencapai 45 derajat celcius dan terjadi lebih cepat tahun ini, yakni Maret 2022

newenglandhistoricalsociety
Ilustrasi gelombang panas yang terjadi Juli 1911 di Amerika Serikat 

Para petani mengatakan suhu udara yang tak terduga ini memengaruhi panen gandum mereka yang juga akan berdampak secara global di tengah gangguan karena Perang Ukraina.

Gelombang panas juga memicu tingginya permintaan listrik dan menyebabkan mati listrik di sejumlah negara bagian dan kekhawatiran kurangnya pasokan batubara.

PM Modi juga menyatakan risiko kebakaran karena tingginya suhu udara.

Baca juga: Cegah Perubahan Iklim, bank bjb Raih Dua Penghargaan Emisi Korporasi 2022

Baca juga: 5 Manfaat Laut bagi Kehidupan Manusia, Meregulasi iklim dan Batu Benafas

Musim panas biasanya memang diwarnai suhu yang menyengat di banyak wilayah India, khususnya di utara dan tengah.

AC dan kipas angin dengan air pendingin terjual dengan cepat.

Namun penduduk juga menciptakan cara sendiri melawan panas termasuk dengan membalur badan dengan mangga untuk mencegah heatstroke.

Banyak pakar di India mengatakan gelombang panas lebih sering terjadi dan lebih lama.

Roxy Mathew Koll, ilmuwan iklim di Institut Meteorology Tropis mengatakan, sejumlah faktor atmosfir menyebabkan gelombang panas saat ini.

Namun ia mengingatkan adanya pemanasan global.

"Inilah penyebab gelombang panas," katanya dan menambahkan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengaitkan perubahan iklim ke fluktuasi cuaca.

D Sivananda Pai, Direktur Studi Perubahan Iklim merujuk ke tantangan lain selain perubahan iklim, termasuk meningkatnya jumlah penduduk dan keterbatasan sumber daya.

Hal ini, kata Pai, menyebabkan situasi yang bertambah parah, seperti penggundulan hutan dan peningkatan transportasi.

"Bila semakin banyak gedung dan jalan dari beton, panas terperangkap di dalam dan tak bisa naik ke permukaan. Ini menyebabkan udara memanas," kata Pai juga.

Baca juga: Beriklim Tropis, Tak Menjamin Indonesia Bebas Dari Virus Corona, Pakar Sebut Hanya Sebatas Teori

Baca juga: Prediksi Cuaca di Pulau Bintan, Termasuk Tanjungpinang hingga Tanjung Uban, Berpotensi Hujan Petir

Dampak cuaca ekstrem ini paling dirasakan penduduk miskin.

"Orang miskin tak punya fasilitas untuk menahan panas karena tak bisa terus di dalam (rumah) bagi yang tak punya rumah untuk menahan panas," kata Dr Chandni Singh, peneliti senior Institute India untuk Permukiman.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved