Kamis, 11 Juni 2026

Lingga Jaga Tari Inai Bagian Adat Pernikahan Khas Melayu Tetap Lestari

Berbeda dengan anak sekarang yang disibukkan dengan ponsel, anak-anak di Lingga antusias blajar tari inai, bagian adat pernikahan khas Melayu di sana.

Tayang:
Penulis: Febriyuanda | Editor: Septyan Mulia Rohman
TribunBatam.id/Febriyuanda
Anak-anak di Kampung Suak Rasau, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Singkep Barat, Kabupaten Lingga, Kepri saat berlatih Tari Inai di halaman rumah Awang (63) yang melatihnya. Tari Inai merupakan satu di antara rangkaian adat pernikahan khas Melayu di Lingga. 

Ya, anak-anak ini mengisi waktu bermainnya dengan cara yang tak biasa, yakni latihan Tari Inai di waktu sore.

Tari Inai merupakan salah satu rangkaian acara di malam tepuk tepung tawar saat acara perkawinan Adat Melayu Lingga.

Baca juga: Yuk Simak Tahapan Pernikahan Adat Melayu di Lingga, Mulai Tari Inai Sampai Silat Pengantin

Anak-anak ini dilatih tanpa paksaan atau atas kemauan sendiri yang mendatangi Awang untuk diajarkan.

"Mana yang sudah bisa nanti gantian dibawa tampil biar mereka semangat, yang paling kecil kelas 1 SD," tutur Awang.

Di Kabupaten Lingga, Tari Inai masih sangat mudah dijumpai di wilayah Daik dan sekitarnya, termasuk di Desa Sungai Buluh ini.

Bahkan, tarian ini telah diakui nasional, yang telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada tahun 2017.

Tari ini ditampilkan setelah prosesi akad atau ijab kabul.

Perempuan dan laki-laki maupun pihak yang mendampinginya duduk secara bergantian di atas pelaminan dan dipersembahkan dengan Tari Inai tersebut.

Bagi masyarakat Lingga, tari Inai bukan sekedar hiburan bagi pasangan pengantin.

Namun tradisi ini telah sejak dulu yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Tar Inai juga merupakan acara khusus yang harus dilaksanakan dalam rangkaian Berinai Besar dan Tepung Tawar.

Baca juga: Mengenal Tari Inai, Satu Tradisi Unik Dalam Rangkaian Upacaranya Pernikahan di Daik Lingga

Tari inai sendiri diiringi dengan dua buah gendang dan gong, dan bisa ditambahkan serunai sebagai pembawa melodi.

"Untuk serunai di desa ini belum ada yang memainkan, jadi hanya gendang dan gong, itu juga dilatih kepada yang muda," tutur Awang yang telah lama melatih kesenian yang satu ini.

Untuk penarinya sendiri memakai busana melayu lengkap, dengan properti lilin yang dibalut dengan inai yang telah disediakan di tempat pelaminan.

Pemerhati Sejarah dan Budaya dari Dinas Kebudayaan Lingga, Lazuardy mengungkapkan bahwa Tari Inai juga menjadi sebuah pertunjukan buat masyarakat dalam melestarikan ataupun kegiatan kebudayaan.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved