BERITA KRIMINAL
Imigrasi Deportasi Warga Malaysia dan China Setelah Terbukti Bukan Spionase
Seorang warga China dan dua warga negeri jiran Malaysia yang sebelumnya diduga menjadi spionase kini dideportasi oleh petugas imigrasi Indonesia.
Keesokan harinya, mereka lalu menyeberang ke Pulau Sebatik dengan alasan untuk survei rencana pembangunan jembatan penghubung Sebatik- Indonesia ke Tawau-Malaysia.
Di Sebatik, mereka memotret sejumlah obyek, antara lain, perkampungan masyarakat Lodres, Patok 3 Aji Kuning, PLBN Sei Pancang, dan daerah Somel di Sei Pancang.
Dimana terdapat sejumlah aset militer milik TNI AL.
"Tujuan mereka menjadi pertanyaan besar setelah Satgas Marinir di Pulau Sebatik menemukan sejumlah foto obyek vital yang terlarang dalam ponsel mereka. Foto-foto tersebut masuk dalam kategori titik rawan oleh TNI," jelas Washington, Jumat (22/7/2022).
Ia pun mengungkap warga negara asing yang berurusan denga personel TNI itu.
Yang pertama adalah Leo Bin Simon.
Leo mengaku pekerjaan utamanya adalah seorang pendeta di gereja Berthany Life Tawau.
Selain sebagai pendeta, Leo juga bekerja paruh waktu sebagai asisten direktur di Medik City SDN BHD, bidang konstruksi.
"Dalam pemeriksaan, Leo mengaku diajak oleh Yosafat bin Yusuf untuk melihat rencana titik proyek pembangunan jembatan penghubung pulau Sebatik ke Tawau," jelasnya.
Baca juga: Malaysia Krisis Malaria, Pemerintah Negeri Jiran Salahkan Pekerja Indonesia
Leo juga mengeklaim pernah membahas sejumlah proyek dengan KRI Tawau.
Masing-masing rencana proyek pembangunan perumahan di kawasan Sei Nyamuk Sebatik, proyek Bandar Tawau, dan proyek jembatan penghubung antara Sebatik–Tawau, yang dibuktikan di Facebook KRI Tawau tanggal postingan 29 September 2021.
Yang kedua, Ho Jin Kiat. Ia mengaku bekerja sebagai Project Manager di Perusahaan China Railway Construction Bridge Engineering Bureau Group South Asia Sdn Bhd yang berkantor pusat di Tienjing China.
Ho Jin Kiat mengaku diajak oleh Bai Ji Dong yang merupakan atasannya di perusahaan BUMN China tersebut, untuk menemaninya jalan-jalan ke Nunukan.
Dia sudah bekerja tiga tahun di perusahaan nasional di China itu.
"Dia baru pertama kali ke Nunukan dengan biaya sendiri. Ia bahkan sudah membeli tiket pulang ke Kota Kinabalu tanggal 21 Juli 2022. Serta sudah check in dengan pesawat Air Asia AK 6267 boarding time 18.50 waktu Malaysia," jelas Washington.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Warga-Malaysia-dan-China-dapat-tuduhan-jadi-mata-mata-asing.jpg)