BATAM TERKINI
Didik Nini Thowok Kini Jadi Maestro Tari, Ternyata Dapat Inspirasi Dari Seniman Batam
Didik Nini Thowok adalah penari Indonesia yang sudah malang melintang menarikan serta mengkaji tarian Cross Gender. Tariannya yang paling terkenal ada
TRIBUNBATAM.id, Batam - Maestro Seni Tari Indonesia, Didik Nini Thowok, berkunjung ke Batam, Kepulauan Riau, untuk memberikan workshop bagi para penggiat seni tari di pulau ini.
Workshop tersebut diadakan oleh LKP Sanggar Seni Duta Santarina, di Ninos, Sukajadi, Batam, pada Minggu (14/1/2024).
Dengan menggunakan pakaian khas Melayu lengkap dengan tanjak, laki-laki berusia 69 tahun ini masih aktif memberikan pelajaran singkat tentang tari kepada para pecinta dan penggiat seni tari di Batam.
Workshop yang dibawakan oleh Didik Nini Thowok di Batam kali ini, adalah tentang Cross Gender. Cross Gender yang dimaksud adalah, seni pertunjukan tari yang dibawakan secara silang gender; misalnya, penari laki-laki membawakan lakon perempuan dan sebaliknya.
Didik Nini Thowok adalah penari Indonesia yang sudah malang melintang menarikan serta mengkaji tarian Cross Gender. Tariannya yang paling terkenal adalah tari Dwi Muka, yaitu tarian yang menggunakan dua topeng yang dipasang di muka dan belakang kepala.
Ia menunjukkan, melalui presentasinya, bahwa tarian Cross Gender ini sebenarnya sudah marak ditarikan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Contohnya, di Jepang ada pertunjukan kabuki yang sebagian ditarikan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan.
Baca juga: Pemdes Resun Lingga Lestarikan Adat Tari Inai, Menabuh Gendang Lewat Pelatihan
Baca juga: Kisah Zaini Jadi Tokoh di Balik Suksesnya Tari Zapin Kote Lingga Diakui Nasional
Kemudian, di Indonesia, khususnya daerah Jawa, banyak pertunjukan tari atau wayang orang yang ditarikan secara silang gender karena alasan-alasan tertentu. Di wilayah Sumatera Barat, misalnya, juga ada tari randai yang terkadang ditarikan secara silang gender.
"Alasannya, jaman dahulu, perempuan mungkin masih dianggap tabu jika tampil di depan umum. Maka dari itu, pertunjukkan seni kebanyakan dilakukan oleh pria, meskipun lakonnya wanita. Itu untuk menghormati dan meninggikan derajat perempuan pada zaman dahulu," jelas Didik.
Dalam kunjungannya ke Batam, Didik juga sempat bertemu dengan seniman lokal Batam, Mak Norma yang masih menjadi ujung tombak pertunjukan seni Makyong khas Melayu di wilayah ini. Didik mengaku sangat terinspirasi dari Mak Norma, dan belajar banyak hal dari seni pertunjukan Makyong.
Dari pengamatannya, dalam seni pertunjukan Makyong khas Melayu, juga kerap ditemukan praktik silang gender. Umumnya, lakon-lakon makyong banyak diperankan oleh perempuan; contohnya, lakon raja yang seharusnya diperankan oleh laki-laki, justru diperankan oleh perempuan.
Hal ini diterapkan atas pertimbangan agama dan budaya setempat. Dalam berseni peran, para lakon terkadang harus bersentuhan kulit, terutama jika peran yang mereka dalami adalah peran suami istri seperti raja dan ratu. Untuk itulah, terkadang lakon raja dan ratu diperankan oleh sesama perempuan atau sesama laki-laki.
"Sebenarnya kesenian itu sangat fleksibel. Para penggiat seni juga bisa memilih kesenian yang sesuai dengan latar belakang budaya dan kepercayaannya," jelas Didik.
Ia pun sangat mengapresiasi seniman-seniman legendaris seperti Mak Norma. Menurutnya, seniman-seniman seperti ini harus lebih banyak didengungkan namanya, tidak hanya di taraf lokal, tetapi juga nasional dan internasional.
Namun, sayangnya, Didik mengaku masih kerap menemui pertentangan-pertentangan terhadap karya seni pertunjukan Cross Gender seperti ini. Biasanya, kesenian jenis ini dipertentangkan dengan agama, dalam kontroversi seputar kaitan Cross Gender dengan dukungan terhadap komunitas LGBT.
Padahal, jelas Didik, kesenian Cross Gender adalah murni seni yang sama sekali tidak mengangkat pesan tersebut. Bahkan, jika ditilik dari sejarahnya, Cross Gender merupakan seni yang sudah sejak dulu dilakukan, bahkan sebelum agenda tentang LGBT marak digaungkan.
| Jaringan Mafia BBM Subsidi Terbongkar, Polisi Amankan Puluhan Jerigen di Batam |
|
|---|
| Gara-gara Cemburu, Pria di Batam Fitnah Korban Lewat Akun Palsu Bernuansa SARA |
|
|---|
| Kerja Keras Ungkap TPPO, Polairud Barelang Dapat Penghargaan Kapolresta |
|
|---|
| WFH ASN Ditunda, Pemko Batam Fokus Hitung Efisiensi Anggaran |
|
|---|
| Dirlantas Polda Kepri Ingatkan Siswa, Keselamatan Bukan Sekadar Aturan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1501_Didik-Nini-Thowok.jpg)