Kamis, 9 April 2026

BATAM TERKINI

Pelaku Industri Pariwisata Batam dan Kepri Curhat Mahalnya Tiket Ferry dan Visa

Pelaku industri pariwisata Batam dan Kepri curhat ke Kemenparekraf RI soal mahalnya harga tiket ferry dan tarif visa yang memberatkan wisman.

TribunBatam.id/Hening Sekar Utami
PARIWISATA BATAM - Peserta Focus Group Discussion (FGD), Bakri menyampaikan masukan buat Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau (Dispar Kepri) dan Kemenparekraf RI dalam pertemuan di Batam, Kamis (25/1/2024). Sejumlah pelaku industri pariwisata di Kepri masih mengeluhkan mahalnya biaya transportasi penyeberangan dan tarif visa yang memberatkan wisman. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sejumlah pelaku industri pariwisata di Kepri mengeluhkan mahalnya tarif transportasi penyeberangan dan visa.

Menurut mereka, kebijakan ini berdampak besar pada jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam termasuk Provinsi Kepri.

Apalagi Pemerintah memberi target 3 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepri.

CEO Zulindo Tour & Travel, Moh Kamsa Bakri, menyampaikan, bahwa hingga saat ini, harga tiket angkutan ferry penyeberangan masih tinggi.

Kenaikan tarif ini telah berlangsung hampir dua tahun lamanya, dan hingga kini belum memperoleh tanda-tanda akan terjadi penurunan.

"Sekarang tarif ferry sudah mencapai Rp 680 ribu hingga Rp 750 ribu, saya rasa ini cukup memberatkan bagi wisatawan yang ingin berlibur ke Batam dalam waktu singkat," ujar Bakri, dalam acara FGD bersama Kemenparekraf RI di Batam, Kamis (25/1/2024).

Ia juga menyayangkan, bahwa kapal-kapal ferry yang melayani penyeberangan Batam - Singapura selama ini harus mengisi bahan bakarnya di Singapura.

Padahal, harga bahan bakar minyak yang lebih mahal di Singapura menjadi salah satu faktor naiknya harga tiket ferry penyeberangan tersebut.

Pihaknya berharap, dalam hal ini ada kebijakan antara pemerintah Indonesia dan Singapura (GTG) yang bisa mengendalikan faktor-faktor produksi yang mendukung pelayanan ferry penyeberangan selama ini.

Sebab, apabila komponen ini masih mengalami kenaikan harga, pihaknya pesimis tingkat kunjungan wisman dapat meningkat.

Selain itu, kebijakan mengenai kebijakan visa yang terjangkau juga menjadi sorotan para pelaku wisata.

Bakri menilai, tarif visa sebesar SGD 50 selama 30 hari masih cukup berat bagi orang Singapura.

Sebab, arus masuk orang asing dari Singapura ke Batam tidak hanya diisi oleh wisman saja, melainkan juga warga negara asing yang bekerja di Batam, Kepulauan Riau.

"Kami nggak bicara tentang orang Singapura, tetapi orang asing yang bekerja di Singapura. Kalau disuruh membayar SGD 50 untuk visa, atau setelah didiskon menjadi SGD 50, menurut saya, masih berat. Karena kunjungan mereka ke sini kan rutin," jelas Bakri.

Baca juga: Kepala Dispar Kepri Guntur Sakti Usulkan Tarif Short Visa Rp 150 Ribu

Selain Bakri, para pelaku wisata di Kepri lainnya juga mengeluhkan kurangnya akses promosi wisata di fasilitas-fasilitas akomodasi dan amenitas yang ada di Singapura.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved