Jumat, 8 Mei 2026

BENCANA BANJIR

Banjir Parah Landa Brazil, Gubernur Eduardo Leite: Tak Ada yang Bisa Diselamatkan

Banjir terparah melanda bagian selatan negara Brazil setelah diguyur hujan deras sejak Jumat, Gubernur Eduardo Leite: Tak Ada yang Bisa Diselamatkan

Tayang:
Penulis: Mairi Nandarson | Editor: Mairi Nandarson
via aljazeera.com, AFP/CARLOS FABAL
Banjir parah melanda wilayah selatan negara bagian Brazil yang menewaskan puluhan orang 

SAO PAULO, TRIBUNBATAM.id - Brazil dilanda bencana banjir parah yang menewaskan sedikitnya 78 orang hingga Minggu (5/5/2024) dan memaksa ratusan ribu orang mengungsi.

Dikutip dari laporan Al Jazeera, banjir di negara bagian Rio Grande do Sul, Brasil selatan itu dipicu hujan deras dalam sepekan terakhir.

Banjir ini menjadi bencana lingkungan keempat dan terparah dalam 12 bulan terakhir, setelah banjir pada Juli, September, dan November 2023 yang menewaskan total 75 orang.

Banjir terjadi di seluruh negara bagian dan melampaui bencana banjir bersejarah yang pernah terjadi tahun 1941, menurut Badan Geologi Brasil.

"Di beberapa kota, ketinggian air berada pada titik tertinggi sejak pencatatan dimulai hampir 150 tahun lalu," kata badan tersebut seperti dikutip dari nbcnews..

Jumlah korban tewas terus bertambah karena hujan lebat terus melanda wilayah Brasil bagian selatan, menyebabkan banjir semakin tinggi.

Baca juga: Banjir di Karimun Kepri Landa Warga Desa Pangke, Ketinggian Air Sebetis Dewasa

Relawan menggunakan perahu, jet ski – dan bahkan berenang – untuk melakukan penyelamatan.

Di ibu kota negara bagian, Porto Alegre, seorang relawan bernama Fabiano Saldanha mengatakan dia dan tiga temannya menggunakan jet ski untuk menyelamatkan sekitar 50 orang dari banjir sejak Jumat (3/5/2024).

Jumlah korban tewas masih bisa meningkat secara signifikan, dengan 105 orang dilaporkan hilang pada hari Minggu (5/5), naik dari sekitar 70 orang pada hari sebelumnya, menurut otoritas pertahanan sipil negara.

Pihaknya juga mengatakan sedang menyelidiki apakah ada empat kematian lagi yang terkait dengan badai tersebut.

Hujan lebat yang turun terus-menerus, mengakibatkan banjir yang berdampak pada lebih dari dua pertiga dari hampir 500 kota di negara bagian yang berbatasan dengan Uruguay dan Argentina itu.

Baca juga: Kisah Warga Tembesi Tower, Bertahan Dalam Rumah Meski Kondisi Banjir Sepinggang

Banjir juga mengakibatkan jalan dan jembatan rusak di sejumlah kota.

Hujan juga memicu tanah longsor dan runtuhnya sebagian bendungan pembangkit listrik tenaga air kecil.

Pihak berwenang menyebutkan lebih dari 400.000 orang tidak mendapat aliran listrik pada Minggu (5/5/2024) malam, sementara hampir sepertiga penduduk negara bagian itu tidak mendapatkan air.

Di Porto Alegre, Danau Guaiba jebol dan mencapai rekor permukaan air tertinggi, menurut Survei Geologi Brasil.

Bandara internasional kota itu juga menangguhkan semua penerbangan sejak hari Jumat (3/5/2024).

Badan pertahanan sipil brazil mengatakan kenaikan permukaan air di negara bagian Rio Grande do Sul membebani bendungan dan mengancam kota metropolitan Porto Alegre.

Dipicu badai yang mulai terjadi pada hari Senin (29/3/2024) pekan lalu, banjir diperkirakan akan bertambah parah, kata pemerintah setempat ketika tim penyelamat menjelajahi reruntuhan rumah, jembatan, dan jalan yang tersapu air untuk mencari orang hilang.

“Lupakan semua yang Anda lihat, keadaan akan menjadi jauh lebih buruk di wilayah metropolitan,” kata Gubernur Eduardo Leite pada hari Jumat saat jalan-jalan di negara bagian itu terendam.

"Tidak ada yang bisa diselamatkan."

Banjir tersebut, yang merupakan banjir terburuk di Brasil dalam 80 tahun terakhir, sejauh ini telah berdampak pada setidaknya 265 kota di Rio Grande do Sul, menurut departemen pertahanan sipil negara bagian paling selatan tersebut.

“Tidak ada yang bisa diselamatkan,” kata Claudio Almiro, yang kehilangan rumah dan harta bendanya akibat banjir.

“Bahkan banyak orang yang kehilangan nyawa. Saya mengangkat tangan saya ke surga dan bersyukur kepada Tuhan bahwa saya masih hidup,” katanya.

Penduduk di beberapa kota besar dan kecil benar-benar terputus dari dunia luar, tidak ada listrik atau akses telepon, sementara yang lain terpaksa meninggalkan ternak mereka.

“Anda tidak tahu apakah air akan terus naik atau apa yang akan terjadi pada hewan-hewan tersebut, mereka mungkin akan segera tenggelam,” kata Raul Metzel, dari Capela de Santana, di utara ibu kota negara bagian tersebut.

Lima hari setelah curah hujan tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda, empat bendungan di negara bagian tersebut berisiko runtuh, sehingga menciptakan risiko “situasi darurat” baru, menurut pejabat pertahanan sipil.

Pemerintah federal Brasil telah mengirimkan pesawat, kapal, dan lebih dari 600 tentara untuk membantu membersihkan jalan, mendistribusikan makanan, air, dan kasur, serta mendirikan tempat berlindung, sementara relawan lokal juga membantu upaya pencarian.

Ahli iklim Francisco Eliseu Aquino mengatakan badai dahsyat ini merupakan akibat dari bencana pemanasan global dan fenomena cuaca El Nino.

Negara terbesar di Amerika Selatan baru-baru ini mengalami serangkaian peristiwa cuaca ekstrem, termasuk topan pada September 2023 yang menewaskan sedikitnya 31 orang.

Aquino mengatakan kondisi geografis wilayah ini yang khusus menyebabkan wilayah ini sering dihadapkan pada dampak tumbukan massa udara tropis dan kutub – namun kejadian ini meningkat karena perubahan iklim.

Ketika hal ini terjadi bersamaan dengan El Nino, yaitu pemanasan periodik di perairan tropis Pasifik, maka atmosfer menjadi lebih tidak stabil, katanya.

( tribunbatam.id/son )

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved