Senin, 18 Mei 2026

Kenaikan Harga Emas dan Tarif Listrik di Kepri Jadi Pemicu Kenaikan Inflasi

Kenaikan harga emas dan tarif listrik picu kenaikan inflasi di Kepri menurut Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri.

Tayang:
TribunBatam.id/Beres Lumbantobing
KEPALA BI PERWAKILAN KEPRI - Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Rony Widijarto P. Ia mengungkap kondisi inflasi di Kepri. Kenaikan harga emas dan tarif listrik menurutnya memicu inflasi di Kepri, khususnya Batam. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Lonjakan inflasi tercatat sebesar 0,38 persen secara bulanan (mtm) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Angka inflasi ini memang mengalami kenaikan dibandingkan Februari yang sempat deflasi 0,14 persen.

Namun secara tahunan inflasi Kepri justru melandai menjadi 2,01 persen (yoy) dari sebelumnya 2,09 persen (yoy).

"Inflasi ini masih terkendali dan berada dalam sasaran nasional 2,5 persen ±1 persen," ujar Plh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Adidoyo Prakoso dalam keterangannya, Jumat (11/4).

Adidoyo menjelaskan, faktor utama penyebab inflasi tahunan Kepri berasal dari kenaikan harga emas perhiasan yang menyumbang inflasi sebesar 0,56 persen. 

Baca juga: Anggota Komisi II DPRD Kepri Khawatirkan Penerapan Opsen Pajak Picu Kenaikan Inflasi

Kenaikan harga ini dipengaruhi lonjakan harga emas global. Selain itu, inflasi juga dipicu oleh kenaikan biaya sewa rumah, khususnya di Kota Batam. 

Kondisi ini merupakan dampak lanjutan dari penyesuaian tarif listrik PLN Batam sejak Juli 2024 lalu.

Sementara itu, dari sisi pengeluaran, inflasi Maret 2025 paling banyak disumbang oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.

Khususnya tarif listrik yang memberikan andil inflasi sebesar 0,36 persen (mtm).

Meski demikian, andil tarif listrik terhadap inflasi di Kepri ini masih lebih rendah dibandingkan nasional yang tercatat 1,18 persen (mtm).

Hal ini karena di Batam tidak berlaku program diskon tarif listrik PLN seperti di daerah lain.

"Sinergi ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan strategi 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif," jelas Adidoyo.

Baca juga: Bank Indonesia Kepri Targetkan 1.000 QRIS Masjid untuk Sedekah Digital

Meski inflasi terkendali, Bank Indonesia tetap mewaspadai beberapa risiko tekanan inflasi ke depan, seperti Normalisasi tarif listrik pasca berakhirnya diskon untuk pelanggan tertentu. 

Kemudian Imported inflation akibat kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat dan Pengaruh perubahan musim dari hujan ke kemarau terhadap produksi pangan.

Namun, Bank Indonesia optimis inflasi di Kepri akan tetap terkendali seiring meredanya harga emas, penyesuaian harga BBM non-subsidi per April 2025, dan normalisasi permintaan pangan pasca Ramadan dan Idul Fitri.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved