BINTA TERKINI
Raja Perusahaan Garmen Pernah Berjaya di Lobam Bintan, Kini Kawasan BIIE Sudah Beralih Fungsi
Bintan pernah punya raja perusahaan garmen, namun kini kawasan itu sudah berubah menjadi sepi dan kurang ada geliat ekonomi lagi di sana.
Penulis: ronnye lodo laleng | Editor: Thomas Tonek Thomlimah Limahekin
TRIBUN BATAM.id, BINTAN - Penurunan daya beli manufaktur tekstil khususnya dalam produksi pakaian menjadi musibah tersendiri bagi perusahaan garmen di Kawasan Bintan Industrial Estate (BIIE) Lobam Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Perusahaan yang dulu menjamur di kawasan BIIE itu kini hampir semuanya tidak beroperasi lagi. Sejumlah bangunan bekas gedung perusahaan pun mulai dialihkan untuk aktivitas pabrik lain.
Sejak tahun 2000an, kawasan itu memang terkenal dengan hasil produksi garmen yang sangat banyak. Seiring berjalannya waktu, satu per satu perusahaan mulai memutus hubungan kerja dengan karyawannya.
Perusahaan beralasan, biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan pesanan yang jauh berkurang. Tidak tanggung-tanggung 6 perusahaan garmen resmi tutup pada tahun 2007 lalu.
PT Nasional Garment Bintan (NGB) merupakan perusahaan terakhir yang tutup. Perusahaan-perusahaan tersebut mengalihkan pabriknya ke Vietnam dan China.
Kala itu kurang lebih 5000an karyawan ikut terdampak. Mereka kehilangan mata pekerjaan. Banyak karyawan pun jatuh miskin.
Satu di antaranya adalah Donal. Dia mengaku sempat menjual sepeda motor kesayangannya setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari PT NGB.
Baca juga: Peria di Tanjunguban Ditangkap Polisi Karena Janjikan Pekerjaan di Kawasan Lobam

"Saya di-PHK pada tahun 2007. Saya lupa uang pesangon sebab sudah sangat lama," kenang Donal kepada TRIBUNBATAM.id, Sabtu (19/7/2025) sore.
Donal mengaku, pasca di-PHK dia tidak bekerja di perusahaan lagi hingga sekarang. "Awal-awal PHK saya masih menikmati uang pesangon. Namun, setelah 6 bulan saya mulai kesulitan keuangan," sebut Donal.
Uang yang dia harus keluarkan satu bulan saat itu adalah Rp 2 -3 juta, untuk kepentingan sekolah 3 anak, biaya makan dan keperluan rumah tangga lainnya.
"Istri saat itu tidak bekerja, hanya saya saja. Memasuki bulan ke-7 saya terpaksa jual motor Yamaha Vega R seharga Rp 5 juta untuk bertahan hidup," tambah Donal.
Dia pun dibuat panik, hingga dia berusaha beralih profesi sebagai nelayan sampai saat ini. Anak-anak Donal pun sudah mempunya keluarga masing-masing.
"Alhamdulillah saya bisa lewati masa-masa sulit itu dan sekarang sudah hidup tenang dengan pendapatan pas-pasan," aku Donal.
Kenangan yang sama juga dikisahkan juga oleh mantan sekuriti Kawasan BIIE, Syamsir. Dia mengenang, tahun 1997-2000an Kawasan BIIE sangat ramai.
Baca juga: Nadhira Taylor Tetap Eksis Ditengah Industri Garmen Melemah di Batam

Setiap hari keluar masuk karyawan dan kendaraan di sana tidak bisa terhitung lagi. "Saya sampai kesalahan memantau di pos. Kita tidak bisa hafal mereka yang wara-wiri di sana," ungkap Syamsir.
Lobam
Sri Kuala Lobam
PT BIIE Lobam
Bintan Utara
Bintan
Kabupaten Bintan
Kepri
Provinsi Kepri
TRIBUNBATAM.id
Perusahaan Garmen
Kabar Baik Jelang Idulfitri 1446 Hijriah, Bupati Roby Akan Cairkan BLT Lansia dan TPP ASN Bintan |
![]() |
---|
Kesultanan Bentan Darul Masyhur Anugerahkan Gelar Kebesaran dan Lantik Pembesar Negeri |
![]() |
---|
Umat Katolik Bintan Awali Puasa dengan Misa Rabu Abu, Begini Makna Tanda Salib dari Abu di Dahi |
![]() |
---|
Harga Kentang di Pasar Barek Motor Tembus Rp 22 Ribu, Disperindag Bintan Sebut Masih Normal |
![]() |
---|
1.218 Honorer Bintan Ikuti Ujian PPPK Selama Tiga Hari di Kota Batam |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.