BINTA TERKINI

Raja Perusahaan Garmen Pernah Berjaya di Lobam Bintan, Kini Kawasan BIIE Sudah Beralih Fungsi

Bintan pernah punya raja perusahaan garmen, namun kini kawasan itu sudah berubah menjadi sepi dan kurang ada geliat ekonomi lagi di sana.

Tribun Batam.id/ Ronnye Lodo Laleng
PERUSAHAAN GARMEN - Seorang warga Bintan sedang berada di depan gedung kosong eks perusahaan yang pernah beroperasi di Kawasan Bintan Industrial Estate (BIIE) Lobam, Bintan Utara, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau  (Kepri), Sabtu (19/7/2025). 

TRIBUN BATAM.id, BINTAN  - Penurunan daya beli manufaktur tekstil khususnya dalam produksi pakaian menjadi musibah tersendiri bagi perusahaan garmen di Kawasan Bintan Industrial Estate (BIIE) Lobam Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Perusahaan yang dulu menjamur di kawasan BIIE itu kini hampir semuanya tidak beroperasi lagi. Sejumlah bangunan bekas gedung perusahaan pun mulai dialihkan untuk aktivitas pabrik lain.

Sejak tahun 2000an, kawasan itu memang terkenal dengan hasil produksi garmen yang sangat banyak. Seiring berjalannya waktu, satu per satu perusahaan mulai memutus hubungan kerja dengan karyawannya. 

Perusahaan beralasan, biaya produksi yang tinggi tidak sebanding dengan pesanan yang jauh berkurang. Tidak tanggung-tanggung 6 perusahaan garmen resmi tutup pada tahun 2007 lalu.

PT Nasional Garment Bintan (NGB) merupakan perusahaan terakhir yang tutup. Perusahaan-perusahaan tersebut mengalihkan pabriknya ke Vietnam dan China. 

Kala itu kurang lebih 5000an karyawan ikut terdampak. Mereka kehilangan mata pekerjaan. Banyak karyawan pun jatuh miskin. 

Satu di antaranya adalah Donal. Dia mengaku sempat menjual sepeda motor kesayangannya setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari PT NGB.

Baca juga: Peria di Tanjunguban Ditangkap Polisi Karena Janjikan Pekerjaan di Kawasan Lobam

PEKERJA GARMEN - Para pekerja perusahaan garmen sedang menjahit pakaian.
PEKERJA GARMEN - Para pekerja perusahaan garmen sedang menjahit pakaian. (KONTAN)

"Saya di-PHK pada tahun 2007. Saya lupa uang pesangon sebab sudah sangat lama," kenang Donal kepada TRIBUNBATAM.id, Sabtu (19/7/2025) sore.

Donal mengaku, pasca di-PHK dia tidak bekerja di perusahaan lagi hingga sekarang. "Awal-awal PHK saya masih menikmati uang pesangon. Namun, setelah 6 bulan saya mulai kesulitan keuangan," sebut Donal. 

Uang yang dia harus keluarkan satu bulan saat itu adalah Rp 2 -3 juta, untuk kepentingan sekolah 3 anak, biaya makan dan keperluan rumah tangga lainnya. 

"Istri saat itu tidak bekerja, hanya saya saja. Memasuki bulan ke-7 saya terpaksa jual motor Yamaha Vega R seharga Rp 5 juta untuk bertahan hidup," tambah Donal. 

Dia pun dibuat panik, hingga dia berusaha beralih profesi sebagai nelayan sampai saat ini. Anak-anak Donal pun sudah mempunya keluarga masing-masing. 

"Alhamdulillah saya bisa lewati masa-masa sulit itu dan sekarang sudah hidup tenang dengan pendapatan pas-pasan," aku Donal. 

Kenangan yang sama juga dikisahkan juga oleh mantan sekuriti Kawasan BIIE, Syamsir. Dia mengenang, tahun 1997-2000an Kawasan BIIE sangat ramai.

Baca juga: Nadhira Taylor Tetap Eksis Ditengah Industri Garmen Melemah di Batam

PERUSAHAAN GARMEN - Perusahaan garmen di KBN Cilincing, Jakarta Utara, masih beroperasi saat penerapan PSBB di DKI Jakarta
PERUSAHAAN GARMEN - Perusahaan garmen di KBN Cilincing, Jakarta Utara, masih beroperasi saat penerapan PSBB di DKI Jakarta (WARTAKOTA/JUNIANTO HAMONANGAN)

Setiap hari keluar masuk karyawan dan kendaraan di sana tidak bisa terhitung lagi. "Saya sampai kesalahan memantau di pos. Kita tidak bisa hafal mereka yang wara-wiri di sana," ungkap Syamsir. 

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved