PEMBUNUHAN JANDA ANAK TIGA DI NATUNA

Duka Mendalam Ayah dan Keluarga, di Balik Pembunuhan Janda Tiga Anak di Natuna

Cerita ayah korban pembunuhan di Natuna, keluarga masih syok di selimuti duka mendalam

Penulis: Birri Fikrudin | Editor: Agus Tri Harsanto
(ist)
Momen di hari penemuan mayat janda tiga anak tewas di kontrakannya, yang sempat menggemparkan warga setempat. 

TRIBUNBATAM.id, NATUNA - Seorang nelayan bernama Awang, dari Desa Segeram, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, tak mampu menahan kepedihan yang mendalam, saat mengenang putri satu-satunya DA (31).

DA menjadi korban pembunuhan berencana pada Selasa (7/1/2025) lalu.

Kematian yang menyayat hati ini, tak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan anak-anaknya, tetapi juga mengguncang masyarakat Natuna

"Dia anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Sampai sekarang kami masih syok rasanya masih tak menyangka. Terlebih, kepergiannya begitu tragis," ujar Awang kepada Tribunbatam.id Minggu (19/1/2025).

Menurutnya, almarhumah meninggalkan tiga anak, yang saat ini masih duduk di kelas 3 SMP dan 6 SD, serta satu anak yang telah diadopsi oleh keluarga lain. 

Dua anak korban, kini tinggal bersama ayah kandung mereka, di Ranai untuk melanjutkan sekolah. 

Baca juga: Pengakuan Tersangka Pembunuhan Janda Anak Tiga di Natuna, Saya Pasti Tertangkap, Tunggu Waktu Saja

“Untuk sementara ini anak-anaknya sudah kembali ke Ranai untuk bersekolah, mereka sudah mulai beraktivitas seperti biasanya, walaupun mereka sangat terpukul ditinggal ibunya," katanya.

Ia menyebut, bahwa kedua cucunya itu, sempat pulang bersamaan dengan jasad ibunya yang di makamkan di kampung halamannya Desa Segeram.

"Kalau mereka mau pulang ke Segeram setelah selesai sekolah, itu juga tidak menutup kemungkinan. Tapi untuk sekarang, biarlah mereka melanjutkan pendidikan seperti biasa," katanya.

Menurut Awang, hubungan keluarga dengan DA tetap terjalin meskipun ia jarang pulang ke kampung.

Ia mengaku, komunikasi terakhir dengan putrinya itu terjadi beberapa minggu sebelum tragedi tersebut. 

Namun, Awang merasa menyesal karena seminggu sebelum kepergiannya, mereka tidak bisa saling menghubungi akibat masalah sinyal di desanya.

“Tiba-tiba saja kami diberitahu kalau dia sudah tiada. Rasanya sangat kaget, dan tak percaya,” tuturnya.

Sementara, Dandi adik korban, turut mengenang sosok kakaknya yang dikenal ramah dan penuh perhatian terhadap keluarga.  

“Dia itu orangnya baik sama keluarga, ramah, sama adik-adik dan orang tua juga sangat royal. Dia orangnya nggak banyak bicara, tapi sangat peduli dengan keluarga,” kenangnya.

Keluarga korban, kini berusaha untuk tegar meskipun luka mendalam masih terasa. Kehilangan sosok yang menjadi anak perempuan satu-satunya dalam keluarga, serta menjadi pukulan berat bagi kedua anak yang ditinggalkan.(TRIBUNBATAM.id/Birri Fikrudin).

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved