Minggu, 26 April 2026

BUAYA DI BATAM

Warga Sagulung Batam Mulai Resah, Buaya Muncul Hampir Tiap Hari Dekat Permukiman

Warga Mukakuning Pratama Sagulung resah kemunculan buaya dekat permukiman. Warga desak pemerintah segera bertindak sebelum ada korban

Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Dewi Haryati
Tribunnews.com/Ucik Suwaibah
PARIT SUNGAI LANGKAI - Potret parit Sungai Langkai yang bersebelahan dengan Perumahan Muka Kuning Pratama, Sagulung, Batam, saat air pasang. Di parit ini sering muncul buaya. Warga pun mulai resah, belakangan buaya itu muncul hampir tiap hari dekat permukiman. Warga minta pemerintah bertindak sebelum ada korban 

Ringkasan Berita:
  • Buaya di Parit Sungai Langkai, Sagulung, semakin sering muncul hingga naik ke daratan yang dekat dengan permukiman
  • Ketua RW 024 menyebut intensitas kemunculan buaya meningkat, namun belum ada imbauan resmi dari BKSDA atau instansi terkait
  • Sebanyak 318 KK terdampak, berharap pemerintah segera bertindak sebelum terjadi insiden yang membahayakan warga, terutama anak-anak


BATAM, TRIBUNBATAM.id
- Akhir-akhir ini buaya di Parit Sungai Langkai yang bersebelahan dengan Perumahan Mukakuning Pratama, Kecamatan Sagulung, Batam, sering muncul.

Hewan liar itu disebut semakin sering menampakkan diri terutama saat air pasang, bahkan naik hingga ke daratan yang berdekatan dengan rumah penduduk.

Ketua RW 024, M Rizal, mengatakan kejadian tersebut sudah berlangsung beberapa waktu terakhir, namun intensitasnya kini semakin tinggi. 

"Buaya itu lagi aktif-aktifnya. Hampir setiap hari atau setiap malam muncul. Walaupun tidak selalu terlihat, tapi belakangan ini sering sekali," ujar Rizal, Rabu (26/11/2025).

Ia menyebut hingga kini belum ada imbauan resmi ataupun larangan dari BKSDA maupun instansi terkait mengenai aktivitas buaya di wilayah tersebut. 

Meski begitu, warga berharap ada langkah preventif sebelum terjadi insiden yang tidak diinginkan.

"Kami belum lama ini juga sudah sampaikan ke pemerintah melalui kelurahan terkait bahayanya lokasi ini, tapi belum ada tindakan. Imbauan atau larangan saja belum ada sampai detik ini," ujarnya.

Rizal melanjutkan, pihak kelurahan menyampaikan belum ada anggaran dari kecamatan maupun kelurahan untuk penanganan atau pemagaran area sungai yang menjadi habitat buaya. 

Warga pun diarahkan untuk melakukan swadaya sementara waktu.

Menurut perhitungan kasar warga, panjang bantaran sungai yang perlu dipagari untuk melindungi permukiman mencapai sekitar 495 meter. 

Estimasi biaya yang dibutuhkan untuk membangun pagar spandek baja ringan berada di kisaran Rp70 juta untuk satu sisi lingkungan mereka saja. 

Jumlah tersebut dinilai akan lebih besar apabila masuk ke tahap pelaksanaan.

"Tentu kami secara swadaya tidak mungkin mampu menutup biaya sebesar itu. Ini bukan proyek untuk keuntungan, tapi untuk keselamatan masyarakat,” tegas Rizal.

Ia menyebut pembangunan pagar tersebut tidak hanya penting sebagai antisipasi, tetapi juga karena letaknya berada di akses utama warga menuju perumahan. 

Setiap hari, anak-anak dan orang tua melintas di jalur tersebut, sehingga risiko interaksi dengan buaya dianggap sangat tinggi.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved