Rabu, 3 Juni 2026

Kenaikan BBM

Harga BBM Non Subsidi Naik Bikin Nelayan Terancam, Ketua HNSI Kepri Prediksi Harga Ikan Melonjak

Distrawandi, menyebut kondisi ini berpotensi menekan operasional kapal hingga memicu kenaikan harga ikan di pasaran.

Tayang:
TribunBatam.id/Dokumentasi Pribadi Distrawandi
HNSI KEPRI - Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepulauan Riau, Distrawandi. Ia menilai, kenaikan harga BBM non subsidi berpotensi menekan operasional kapal hingga memicu kenaikan harga ikan di pasaran. 

Ringkasan Berita:
  • Dampak kenaikan BBM non subsidi bakal berdampak ke nelayan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
  • Ketua HNSI Kepri menyebut jika harga ikan di pasaran berpotensi naik.
  • Kapal di atas 30 GT menurutnya masih menggunkan BBM non subsidi. Tidak diperbolehkan pakai BBM subsidi.


TRIBUNBATAM.id, BATAM
- Kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya jenis solar industri, mulai dirasakan dampaknya oleh para nelayan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). 

Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepri, Distrawandi menyebut kondisi ini berpotensi menekan operasional kapal hingga memicu kenaikan harga ikan di pasaran.

Distrawandi menjelaskan, kenaikan harga solar industri terjadi secara mendadak dan cukup signifikan. 

"Informasi yang kami terima, harga solar industri melonjak tajam. Ini tentu sangat memberatkan nelayan karena BBM adalah urat nadi operasional kami,” ujar Distrawandi, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, dampak paling besar dirasakan oleh kapal-kapal berukuran di atas 30 gross ton (GT) yang menggunakan BBM industri.

Baca juga: Harga BBM Non Subsidi Naik, Pertamina Kepri Pastikan Stok Subsidi Aman, Minta Masyarakat Tak Panik

Nelayan di segmen ini dihadapkan pada dua pilihan sulit, tetap melaut dengan biaya tinggi atau menghentikan operasional kapal.

"Kalau kapal diatas 30 GT itu kan tidak boleh pakai subsidi, pakai non subsidi. Kalau minyak naik harga ikan di pasar akan ikut melambung di pasar," ungkapnya. 

Lebih parahnya lagi jika kapal ditambatkan atau tak turun melaut, maka banyak anak buah kapal (ABK) kehilangan pekerjaan.

Ini berdampak langsung pada ekonomi keluarga nelayan.

Ia menambahkan, kondisi ini tidak hanya mengancam keberlangsungan usaha perikanan.

Tetapi juga berpotensi memicu dampak sosial yang lebih luas.

Seperti menurunnya daya beli masyarakat pesisir hingga terganggunya kebutuhan pendidikan anak-anak nelayan.

Seiring meningkatnya biaya operasional, harga ikan di pasar diprediksi ikut terdongkrak.

Baca juga: DPRD Kepri Soroti Dampak Kenaikan BBM, Antrean Hingga Potensi Mafia Subsidi Perlu Diwaspadai

Kenaikan ini terutama akan terjadi pada jenis ikan tangkapan dari kapal besar yang bergantung pada BBM industri.

“Ketika biaya melaut meningkat, nelayan pasti akan menyesuaikan harga jual ikan. Ini hukum ekonomi. Jadi masyarakat juga akan merasakan dampaknya,” kata Distrawandi.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved