Dolar Naik, Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tahu Tempe di Natuna Putar Otak untuk Bertahan
Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah, termasuk para perajin tahu dan tempe di Natuna
Penulis: Birri Fikrudin | Editor: Dewi Haryati
Ringkasan Berita:
- Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat memicu lonjakan harga kedelai impor di Kabupaten Natuna
- Perajin tahu dan tempe di Ranai menghadapi kenaikan harga bahan baku dari Rp550 ribu menjadi Rp650 ribu per karung
- Pemilik usaha menyiasati biaya produksi dengan mengurangi ukuran produk guna menjaga loyalitas pelanggan
- Penurunan daya beli masyarakat menyebabkan omzet penjualan eceran menurun sekitar sepuluh persen
NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah, termasuk para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Mereka terdampak lonjakan harga kedelai di Indonesia, yang sebagian besar merupakan kedelai impor.
Sedangkan kedelai menjadi bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe,
Kini, para perajin tahu dan tempe di Natuna harus memutar otak agar usaha mereka tetap bertahan di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Di Natuna, salah satu yang merasakan dampaknya adalah Bambang, pemilik usaha Tahu Tempe Sidomulyo di Kota Ranai.
Pria yang telah menekuni usaha tahu tempe selama sekitar 20 tahun itu, mengaku harga kedelai terus mengalami kenaikan dalam dua bulan terakhir.
Bahkan menurutnya, kenaikan terjadi hampir setiap bulan sejak awal tahun.
"Kedelai naik terus dalam dua bulan terakhir. Setiap bulan ada kenaikan. Kami pesan stok satu bulan sekali menggunakan Tol Laut dari Jakarta," ujar Bambang saat ditemui TribunBatam.id, Rabu (10/6/2026).
Saat ini harga kedelai telah mencapai Rp650 ribu per karung ukuran 50 kilogram.
Padahal sebelumnya, harga kedelai masih berada di kisaran Rp550 ribu per karung.
Artinya, dalam waktu relatif singkat terjadi kenaikan sekitar Rp100 ribu per karung.
Jika dihitung per kilogram, harga kedelai kini berada di angka sekitar Rp13 ribu.
"Kenaikannya cukup terasa karena bahan baku ini paling utama dalam produksi tempe dan tahu," katanya.
Bambang mengungkapkan, kebutuhan bahan baku usahanya tidak sedikit.
| Harga Sembako Naik, Pedagang di Natuna Keluhkan Daya Beli Masyarakat dan Omzet Turun |
|
|---|
| Harga Bahan Pokok di Natuna Naik, Minyakita Tembus Rp21 Ribu per Liter di Pasar Ranai |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Natuna Hari Ini, Rabu 10 Juni 2026, BMKG Prediksi Hujan Petir Menjelang Siang |
|
|---|
| Natuna Buka 7 Beasiswa Dokter Spesialis 2026, Dokter PNS dan Fresh Graduate Bisa Daftar |
|
|---|
| SPMB Natuna 2026, Disdikbud Siapkan SMPN 4 untuk Urai Kepadatan Pendaftar di Bunguran Timur |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/PENGRAJIN-TAHU-TEMPE-DINATUNA.jpg)