Refleksi Satu Tahun Kepemimpinan Ansar-Nyanyang, Perkuat Sinergi Pusat
Tahun pertama kepemimpinan Gubernur Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura mencatatkan sejumlah capaian positif
Penulis: Renhard Patrecia Sibagariang | Editor: Mairi Nandarson
Pertumbuhan ekonomi Kepri ini antara lain ditopang peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, pertumbuhan realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), ermasuk pula adanya peningkatan aktivitas konstruksi, produksi minyak bumi dan gas alam, serta peningkatan aktivitas transportasi dan perdagangan luar negeri (ekspor).
Kinerja ekonomi ini mencerminkan daya tahan dan optimisme Kepri, terutama didukung oleh sektor manufaktur yang kembali tumbuh tinggi meski di tengah tantangan global.
"Capaian pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 6,94 persen ini berkat adanya sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha dan berbagai pihak terkait," terang Wagub Kepri, Nyanyang Haris Pratamura.
Realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Kepri 2025 meningkat dibanding 2024, masing-masing tumbuh sebesar 16,62 persen dan 112,04 persen.
Peningkatan kunjungan wisatawan ke Kepri tidak hanya menjadi penanda peningkatan daya tarik destinasi, namun tak kalah penting berdampak positif terhadap peningkatan PDRB, pertumbuhan ekonomi, terbukanya lapangan pekerjaan, dan peningkatan pendapatan masyarakat.
Secara kumulatif (C-to-C), kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri sepanjang 2025 menembus angka 2,027 juta orang, meningkat 22,59 persen dibanding 2024. Demikian pula wisatawan nusantara yang mengalami peningkatan sebesar 22,99 persen, dengan total pengeluaran wisatawan di tahun 2025 di Kepri mencapai Rp22 triliun.
Yang tidak kalah membanggakan, nilai ekspor Provinsi Kepri mengalami kenaikan sebesar 17,37 persen atau meningkat sebesar 231,74 juta USD dibanding 2024.
Selama periode 2021–2025, IPM Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan tren meningkat secara konsisten dan berada di atas rata-rata nasional. Pada tahun 2025, IPM Kepri mencapai 80,53, meningkat 0,64 poin (0,80 persen) dibandingkan tahun 2024. Capaian ini sekaligus menandai graduasi dari kategori “Tinggi” menjadi “Sangat Tinggi.”
Secara nasional, Kepri berada di atas angka IPM nasional, peringkat ketiga terbaik nasional, kemudian menjadi peringkat pertama IPM tertinggi di luar Pulau Jawa.
Capaian ini tidak terlepas dari fokus kebijakan pada Peningkatan kualitas pendidikan, Penguatan layanan kesehatan, serta Pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Pengendalian pengangguran menjadi prioritas melalui pelatihan vokasi dan pemagangan tenaga kerja dalam negeri, serta penguatan konektivitas dunia usaha dan tenaga kerja.
TPT Kepri periode 2020–2025 memang bersifat fluktuatif. Namun tren terbaru menunjukkan kondisi yang semakin terkendali. Pada Agustus 2025, TPT Kepri tercatat 6,45 persen, menurun dari 6,89 persen sebelumnya—atau turun sekitar 0,4 persen.
Dalam kerangka RPJMD 2025–2030, Pemprov Kepri menargetkan TPT berada pada kisaran 6,06–5,57 persen di akhir periode, dengan proyeksi penurunan bertahap hingga 2030. Hal ini mencerminkan optimisme bahwa pasar tenaga kerja Kepri semakin membaik dan produktif.
Provinsi Kepri dibawah kepemimpinan Ansar-Nyanyang sejak awal menjabat terus berupaya mewujudkan komitmen memperbanyak pendidikan vokasi guna melahirkan SDM Kepulauan Riau yang berkarakter, unggul dan berdaya saing hingga dapat terserap pasar dunia kerja.
Pengendalian kemiskinan menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan yang inklusif. Pada Maret 2025, jumlah penduduk miskin di Kepri mencapai 117,28 ribu orang (4,44 persen). Berkurang 7,7 ribu orang dibandingkan September 2024 yang sebesar 124,96 ribu orang (4,78 persen).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/Program-Kemandirian-Pangan.jpg)