Kaleidoskop Kepri 2015
Karena BPJS, Pasien Ini 'Disandera' di Rumah Sakit
"Saya ini menjadi tahanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan), saya memang jadi sandera program BPJS. Saya sudah setahun menjadi
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Simamora (70) warga Tiban II, Sekupang, Batam terpaksa menghitung hari di ruang perawatan Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam.
Selama tiga hari terakhir, pasien yang sempat kritis karena hipertensi ini, kini tambah gelisah karena tak kunjung bisa meninggalkan rumah sakit, meskipun dokter telah membolehkannya pulang.
"Saya ini menjadi tahanan BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan), saya memang jadi sandera program BPJS. Saya sudah setahun menjadi peserta, tapi harus bayar. Saya tak rela bayar sepeser pun," ucap Simamora dengan napas terengah-engah kepada Tribun yang menemuinya di sal perawatan kamar 317 RSAB, Senin (2/2/2015) sore.
Simamora menceritakan, dirinya dilarikan ke RSAB sejak tanggal 12 Januari 2015 dinihari dalam kondisi kritis.
Ia langsung dirawat di ruang emergency. Hingga tanggal 31 Januari ia mendapat perawatan dari dokter sebagaimana mestinya.
Pada Sabtu (31/1) pagi, pihak dokter pun menyatakan dirinya sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan dipersilakan mengurus administrasi di ruangan rumah sakit setempat.
Namun alangkah kagetnya Simamora dan istrinya ketika dirinya harus tetap membayar uang perawatan sekitar Rp 10 juta.
Pihak RSAB menyatakan dirinya tidak memenuhi persyaratan untuk klaim perawatan dalam program BPJS.
"Saya sudah terkapar, semua kalut. Kami juga tak tahu jika ada persoalan (mengganjal) gara-gara sebuah surat tidak disampaikan ke BPJS," kata Simamora.
Menurutnya, BPJS mewajibkan pasien peserta BPJS mengkonfirmasi ke BPJS dalam waktu kurang dari tiga hari. Simamora mengaku sama sekali tidak tahu dan selama ini tak ada pemberitahuan.
"Lho di (lantai) bawah rumah sakit ada petugas BPJS, kami juga tidak dikasih tahu. Kami semua kalut, tak sempat berpikir sejauh itu. Setahu saya, sudah setahun menjadi peserta tentu akan langsung dilayani," katanya.
Pria pensiunan perusahaan swasata itu benar-benar mengaku kesal dengan program BPJS yang ternyata masih tak mulus dijalankan di masyarakat bawah.
Ia pun menyatakan telah berupaya mengadukan masalah tersebut dengan mengirim SMS ke Presiden Joko Widodo maupun Ombudsman.
Saat Tribun membesuk di kamar perawatannya berukuran sekitar 2,5 x 2 meter itu, Simamora masih terlihat sibuk bersama istrinya menyiapkan berkas-berkas untuk mengurus haknya ke BPJS. Simamora terus berusaha menghubungi siapa saja yang bisa membantu memecahkan persoalan yang ia rasa tidak beres tersebut.
Sementara itu sang istri tampak buru-buru ingin pergi dan mendatangi Kantor BPJS di Batam Centre. Di sela-sela pembicaraan, Simamora sempat berniat menuliskan kata-kata "tahanan BPJS" untuk difoto dan dimuat di media. Ia sangat kesal dengan persoalan yang serba kaku dan menyulitkan masyarakat tersebut.