Kepri Jadi Daerah Rawan Karhutla, Sekdaprov Kepri: Dampaknya Pada Jumlah Wisatawan

Kebakaran hutan dan lahan di Kepri menjadi perhatian semua pihak. Sekdaprov Kepri TS Arif Fadillah komentar begini.

Kepri Jadi Daerah Rawan Karhutla, Sekdaprov Kepri: Dampaknya Pada Jumlah Wisatawan
TRIBUNBATAM.id/Endra Kapura
Sekdaprov Kepri TS Arif Fadillah menghadiri rapat koordinasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Mapolda Kepri, Jumat (16/8/2019). 
TRIBUNBATAM.id, TANJUNGPINANG - Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Kepulauan Riau (Kepri) H TS Arif Fadillah mengajak semua komponen masyarakat untuk menyikapi persoalan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara serius.
Walaupun Kepri 96 persen luasnya adalah lautan, namun pada daratan yang empat persen itu terdapat hutan yang juga cukup luas.
"Kita harus cepat tanggap agar jangan sampai Karhutla semakin menjadi besar.
Satu di antaranya adalah memberdayakan sejumlah Pos Komando (Posko) penanggulangan kebakaran hutan, memaksimalkan segala sumber daya.
Kita juga harus bekerja sama dengan pihak luar semisal negara lainnya dalam hal menanggulangi kebakaran hutan terutama negara tetangga," kata Arif saat memghadiri rapat koordinasi lintas sektoral dalam rangka pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah hukum Kepolisian Daerah Kepulauan Riau (Polda Kepri) di ruang rapat Markas Polda Kepri, Nongsa, Batam, Kamis (15/8/2019).
Menurut Arif, Kepri tetap menjadi daerah yang rawan dengan kebakaran hutan.
 
Banyak faktor penyebabnya adalah pembakaran lahan yang tidak terkendali sehingga merambat ke lahan lain.
Ada juga penggunaan lahan yang menjadikan lahan rawan kebakaran, misal lahan di daerah yang beralang-alang, konflik antara pihak pemerintah, perusahaan dan masyarakat tentang sengketa lahan dan kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok secara sembarangan.
Arif menambahkan, Kepri yang menonjolkan sisi pariwisata di berbagai lini akan menambah pertumbuhan ekonomi.
Kondisi akan sangat dipengaruhi dari efek Karhutla tersebut.
 
Jumlah hutan yang terus berkurang akan membuat cuaca cenderung panas.
Asap dari hutan akan menganggu masyarakat dan terserang penyakit pernapasan.
“Kebakaran hutan bisa berdampak pada menurunnya jumlah wisatawan yang berkunjung," tambah Arif.
Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kepri Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Andap Budhi Revianto mengatakan tahun ini Kepri masuk kategori daerah yang rawan akan kebakaran hutan dan lahan.
Hal itu dipengaruhi akan beberapa faktor semisal kondisi geografis yang berbatasan dengan sejumlah negara tetangga.
 
Api yang membakar lahan di kawasan dekat permukiman warga di Rukun Tetangga (RT) 15/Rukun Warga (RW) 04, Jalan Kilometer 18 di belakang Hotel Miami Toapaya Selatan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai menjalar ke mana-mana. Warga pun membantu proses pemadaman dengan alat seadanya saja.
Api yang membakar lahan di kawasan dekat permukiman warga di Rukun Tetangga (RT) 15/Rukun Warga (RW) 04, Jalan Kilometer 18 di belakang Hotel Miami Toapaya Selatan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai menjalar ke mana-mana. Warga pun membantu proses pemadaman dengan alat seadanya saja. (TRIBUNBATAM.id/Alfandi Simamora)
"Dari seluruh Indonesia, 17 provinsi ditentukan sebagai daerah rawan kebakaran.
Enam di antaranya berstatus darurat dan beberapa di wilayah kalimantan," kata Andap.
Dalam rapat koordinasi tersebut Kapolda membacakan beberapa arahan dari Presiden Republik Indonesia (RI) Jokowi, antara lain kebakaran hutan dan lahan jangan sampai terjadi lagi di Indonesia. 
Presiden berharap agar musyawarah pimpinan daerah, (Gubernur, Panglima Daerah Militer dan Kapolda) bekerja sama dan dibantu Pemerintah Pusat agar memadamkan api sekecil apapun yang ada di wilayah masing-masing. (TRIBUNBATAM.id/Endra Kaputra)
Penulis: Endra Kaputra
Editor: Thom Limahekin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved