DEMO HONG KONG

Saat Hong Kong Bertempur Lawan Demonstran, Beijing Serang Uni Eropa dan Presiden Prancis: Munafik!

Prancis harus menunjukkan empati kepada polisi Hong Kong seperti Beijing berempati dengan polisi Prancis menangani pengunjuk rasa "rompi kuning".

Saat Hong Kong Bertempur Lawan Demonstran, Beijing Serang Uni Eropa dan Presiden Prancis: Munafik!
South China Morning Post
Demonstrasi di Hong Kong berubah menjadi medan pertempuran yang sengit dalam tiga hari terakhir, setelah pemerintah mengeluarkan UU anti-topeng atau masker. 

Kekerasan yang meningkat pada hari Minggu di empat distrik  berlanjut hingga larut malam di Mong Kok.

Sebuah sumber pemerintahan mengatakan kepada SCMP bahwa UU anti-topeng yang baru diluncurkan tidak ditargetkan untuk mengekang aksi demo, namun untuk mengurangi tindakan anarkisme.

"Kami tahu betul para pemrotes tidak peduli dengan ancaman hukuman penjara satu tahun di bawah undang-undang anti-topeng karena mereka bisa dipenjara hingga 10 tahun jika mereka dinyatakan bersalah melakukan kerusuhan," kata sumber itu.

Namun aturan itu merupakan strategi mengupas lapisan bawang, "Mereka yang berada di lapisan luar mungkin takut masuk penjara atau hukuman pidana. Mereka mungkin berpikir dua kali jika mereka masih melakukan aksi kekerasan."

Tangkap Belasan Orang

Taksi jadi korban demonstran Hong Kong

Polisi Hong Kong melakukan penangkapan pertama di bawah undang-undang anti-topeng yang secara resmi mulai berlaku Jumat tengah malam dengan ancaman hukuman denda maksimum sebesar HK $ 25.000 atau sekitar Rp 45,15 juta dan satu tahun penjara.

Polisi menangkap 13 orang antara Jumat dan Sabtu karena aturan itu. Sebagian besar juga dituduh berpartisipasi dalam aksi demo yang dinyatakan ilegal.

Pengguna media sosial melaporkan bahwa, pada hari Minggu, polisi menangkap dan membuka kedok seorang gadis berusia 12 tahun, tetapi polisi tidak mengkonfirmasi tindakan tersebut.

Pada hari Minggu, meskipun hujan deras, puluhan ribu demonstran bertopeng berkumpul untuk dua pawai serentak di Kowloon dan Pulau Hong Kong.

Kerumunan itu lebih kecil dari protes Sabtu, pengunjuk rasa menyalahkan jaringan MTR yang lumpuh.

Aksi Borong di Mal

Gaduhnya suasana di Hong Kong membuat warga kesulitan mendapatkan bahan pokok karena rak-rak di supermarket dengan cepat kosong karena diborong pembeli.

Warga juga terlihat mengantre di mesin ATM pada hari Minggu, menyiapkan uang tunai untuk kebutuhan mendesak.

Pada Selasa besok menandai empat bulan aksi demo yang dipicu oleh penolakan RUU ekstradisi yang kini sudah ditarik oleh pemerintah eksekutif Hong Kong.

Namun, isu demo kemudian berubah menjadi propaganda politik untuk mendiskreditkan China dan ada upaya besar untuk membebaskan Hong Kong dari China.

Sumber yang dekat dengan pemerintah mengatakan, undang-undang anti-topeng telah memicu kekhawatiran warga sehingga menarik uang tunai dari rekening bank mereka atau mengubah deposito dolar Hong Kong mereka menjadi mata uang asing.

Kantor cabang Bank of China jadi sasaran amuk demonstran Hong Kong (SCMP)

"Skenario seperti itu sudah dipertimbangkan ketika pemerintah meluncurkan Undang-undang Peraturan Darurat tersebut," tambah sumber itu.

Pada Minggu malam, pemerintah mengecam keras "perusuh" karena memblokir jalan, merusak fasilitas umum, stasiun MTR, bank dan toko, melemparkan bom bensin ke polisi dan menyerang warga lainnya.

“Para perusuh telah menyerang warga lain beberapa kali selama beberapa hari terakhir. Beberapa orang diduga menggunakan senjata mematikan hari ini yang mengakibatkan cedera parah. Seorang jurnalis juga menderita luka bakar setelah terkena bom molotov,” kata seorang juru bicara pemerintah.

Pada Senin pagi, hanya 39 dari 94 stasiun kereta api yang dioperasikan MTR Corp dan mengatakan bahwa seluruh jaringan akan ditutup pada jam 6 sore karena mereka harus memperbaiki fasilitas yang rusak oleh aksi vandalisme.

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved