Jumat, 1 Mei 2026

Prancis Membara! Ucapan Simpati Sekaligus Dikecam, 4.000 Tentara Siaga Buntut 2 Serangan Sehari

Sekitar 4.000 sampai 7.000 tentara diterjunkan di seluruh Perancis untuk melindungi berbagai tempat seperti sekolah dan gereja

Tayang:
AFP PHOTO/VALERY HACHE
Anggota unit taktis polisi RAID memasuki Basilika Notre Dame di Nice, Perancis, dengan petugas forensik menunggu setelah serangan yang terjadi pada 29 Oktober 2020. Tiga orang tewas, dengan salah satunya dipenggal 

Prancis Membara! Ucapan Simpati Sekaligus Dikecam, 4.000 Tentara Siaga Buntut 2 Serangan Sehari

TRIBUNBATAM.ID - Dilansir dari The New Daily sekitar 4.000 sampai 7.000 tentara akan diterjunkan di seluruh Perancis, untuk melindungi berbagai tempat seperti sekolah dan gereja.

Pemerintah Perancis juga telah menetapkan status darurat ke level tertingg setelah dua serangan terjadi sehari.

Baca juga: Gelombang Protes Negara Islam ke Prancis dan Kartun Nabi Muhammad SAW, PBB Desak Hal Ini

Baca juga: Prancis Mencekam, Setelah Guru Giliran 1 Wanita Dipenggal Saat Terjadi Serangan Pisau di Gereja Nice

Seorang penyerang bersenjata pisau memenggal kepala seorang wanita dan membunuh dua orang lainnya di sebuah gereja di Kota Nice, Perancis, pada Kamis (29/10/2020), yang dicurigai merupakan serangan teroris.

Staf medis dan pemadam kebakaran tiba di lokasi serangan pisau di gereja Nice, Perancis, pada Kamis (29/10/2020). Sebanyak 3 orang tewas dalam serangan ini dan beberapa lainnya terluka
Staf medis dan pemadam kebakaran tiba di lokasi serangan pisau di gereja Nice, Perancis, pada Kamis (29/10/2020). Sebanyak 3 orang tewas dalam serangan ini dan beberapa lainnya terluka (AFP/VALERY HACHE)

Serangan tersebut terjadi kurang dari dua pekan setelah insiden pemenggalan terhadap seorang guru di Paris, Samuel Paty.

Baca juga: Emmanuel Macron, Presiden Prancis Penghina Islam dan Nabi Muhammad SAW, Nikahi Nenek Sepuh 67 Tahun

Samuel Paty dibunuh karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya di dalam kelas.

Dengan komunitas Muslim terbesar di Eropa, Perancis telah mengalami serangkaian serangan dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan itu termasuk pengeboman dan penembakan di Paris pada 2015 yang menewaskan 130 orang.

Baca juga: Prancis Tetapkan Rekor Kasus Covid-19 Harian Baru, Tembus 50.000 Infeksi Dalam 24 Jam

Baca juga: Presiden Prancis dan Charlie Hebdo Hina Islam, Erdogan Geram Ejek Berengsek Digambarkan Cabul

Pada 2016, terjadi lagi serangan di Nice, di mana seorang milisi mengendarai truk dan menabraki kerumunan massa ketika merayakan Hari Bastille.

Serangan tersebut menewaskan 86 orang.

Anggota unit taktis polisi RAID memasuki Basilika Notre Dame di Nice, Perancis, dengan petugas forensik menunggu setelah serangan yang terjadi pada 29 Oktober 2020. Tiga orang tewas, dengan salah satunya dipenggal
Anggota unit taktis polisi RAID memasuki Basilika Notre Dame di Nice, Perancis, dengan petugas forensik menunggu setelah serangan yang terjadi pada 29 Oktober 2020. Tiga orang tewas, dengan salah satunya dipenggal (AFP PHOTO/VALERY HACHE)

"Saya mengatakan ini dengan sangat jelas (bahwa) kami tidak akan menyerah pada terorisme.

Sekali lagi pagi ini, tiga rekan kami yang jatuh di Nice, dan jelas sekali Perancis sedang diserang," kata Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Baca juga: Arie Untung Buang Tas Mahal Prancis, Tak Terima Nabi Dihina, Dewi Sandra & Mulan Jameela Ikut Respon

Beberapa jam setelah serangan Nice, polisi membunuh pria lain yang mengancam orang dengan pistol di Montfavet, dekat Kota Avignon di Perancis selatan.

Serangan pada Kamis tersebut bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad.

Serangan itu juga terjadi di tengah kemarahan Muslim yang meningkat karena Perancis membela penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Baca juga: Presiden Prancis dan Charlie Hebdo Hina Islam, Erdogan Geram Ejek Berengsek Digambarkan Cabul

Baca juga: Erdogan Naik Pitam Presiden Perancis Sebut Islam Dalam Krisis, Olok Emmanuel Marcon Periksa Mental

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, negaranya bersama dengan Perancis setelah terjadi serangan tersebut.

"Ini adalah tindakan barbarisme yang paling kejam dan pengecut oleh seorang teroris dan harus dikutuk dengan cara sekuat mungkin," kata Morrisons di radio 2GB di Sydney, Australia.

Sepuluh ribu umat Islam di Bangladesh turun ke jalan memprotes Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang dianggap menghina Islam dan nabi Muhammad SAW
Sepuluh ribu umat Islam di Bangladesh turun ke jalan memprotes Presiden Perancis Emmanuel Macron, yang dianggap menghina Islam dan nabi Muhammad SAW (AFP)

Morrison mengatakan juga telah menghubungi Macron.

"Sakit hati yang akan dialami orang-orang Perancis saat ini karena menggigil di seluruh dunia sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata," kata Morrison.

Baca juga: Pramugari Viral Bersihkan Diri Pakai Debu Pesawat sebelum Salat, Apa Itu Tayamum Dalam Islam?

Selain itu, banyak pemimpin dunia mengutuk serangan itu termasuk Inggris, Belanda, Italia, Spanyol, Arab Saudi dan Turki.

Di sisi lain, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan awal pekan ini mengecam Macron dan Perancis karena membela penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Presiden Perancis Emmanuel Macron (kiri) bersama dengan Ibu Negara, Brigitte Macron
Presiden Perancis Emmanuel Macron (kiri) bersama dengan Ibu Negara, Brigitte Macron (AFP/GEOFFROY VAN DER HASSELT)

Direktur Komunikasi Kepresidenan Turki Fahrettin Altun mengatakan, Islam tidak dapat digunakan atas nama terorisme.

"Kami menyerukan kepada kepemimpinan Perancis untuk menghindari retorika yang menghasut lebih lanjut terhadap Muslim dan fokus menemukan pelaku ini dan tindakan kekerasan lainnya," kata Altun.

Baca juga: 2 Pria Hindu dan Islam Bikin Publik Menangis, Persahabatan Sampai Mati yang Melebihi Agama

Baca juga: Aktivis Wanita SIAN Robek Alquran di Depan Umum, Unjuk Rasa Anti Islam Berujung Ricuh

.

.

.

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Status Darurat Tertinggi, Perancis Terjunkan 4.000 Personel Tentara Buntut 2 Serangan dalam Sehari

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved