Sabtu, 18 April 2026

TRIBUN WIKI

Asal-usul dan Filosofi di Balik Kelezatan Rendang, Populer hingga Mancanegara

Asal-usul dan Filosofi di Balik Kelezatan Rendang, Populer hingga Mancanegara. Rendang sejatinya adalah kuliner asli Minangkabau.

Kompas.com
RENDANG - Asal-usul dan Filosofi di Balik Kelezatan Rendang, Populer hingga Mancanegara. FOTO: ILUSTRASI 

Bagi masyarakat Minang, rendang sudah ada sejak dahulu dan telah menjadi masakan tradisi yang dihidangkan dalam berbagai acara adat dan hidangan keseharian.

Sebagai masakan tradisi, rendang diduga telah lahir sejak orang Minang menggelar acara adat pertamanya.

Kemudian seni memasak ini berkembang ke kawasan serantau berbudaya Melayu lainnya; mulai dari Mandailing, Riau, Jambi, hingga ke negeri seberang di Negeri Sembilan yang banyak dihuni perantau asal Minangkabau.

Oleh sebab itulah, rendang kemudian dikenal luas baik di Sumatra dan Semenanjung Malaya.

Sementara, asal usul nama hidangan ini diperoleh dari kata “marandang” yang memiliki makna “secara lambat” yang kemudian menjadi rendang.

Makna tersebut merujuk pada lamanya waktu memasak rendang untuk menghasilkan tekstur daging yang kering dan aroma rempah yang kuat dengan warna cokelat gelap serta bercitarasa maksimal.

Jadi, sebenarnya rendang adalah suatu teknik memasak, bukan nama makanan.

Menurut riwayatnya, rendang awalnya dibuat menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya.

Bagi masyarakat Minangkabau, masakan dengan bahan daging kerbau biasanya dinikmati dalam acara-acara adat tertentu.

Rendang menduduki kasta yang paling tinggi di antara hidangan lain dan sering disebut sebagai kepalo samba atau induknya makanan dalam tradisi Minangkabau. 

Baca juga: Tips Agar Daging Sapi Untuk Rendang Bisa Lembut, Siapa Sangka Rahasianya Sangat Sederhana

Baca juga: Cara Simpan Daging yang Benar Agar Awet hingga 2 Bulan, Ternyata Ini yang Sering Keliru

Filosofi

Masyarakat Minang percaya bahwa rendang memiliki tiga makna tentang sikap, yaitu kesabaran, kebijaksanaan, dan ketekunan.

Ketiga unsur ini dibutuhkan dalam proses memasak rendang, termasuk dalam memilih bahan-bahan berkualitas untuk membuatnya, sehingga terciptalah masakan dengan cita rasa tinggi.

Selain itu, filosofi rendang bagi masyarakat Minangkabau adalah musyawarah dan mufakat.

Filosofi ini berangkat dari 4 bahan pokok yang melambangkan keutuhan masyarakat Minang.

Secara simbolik, dagiang (daging) merupakan niniak mamak (para pemimpin suku adat), karambia (kelapa) melambangkan cadiak pandai (kaum Intelektual), lado (cabai) sebagai simbol alim-ulama, dan pemasak (bumbu) menggambarkan keseluruhan masyarakat Minangkabau.

Sumber: TribunnewsWiki
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved