HUMAN INTEREST

Kisah Suami Istri 11 Tahun Jadi Pengusaha Tahu di Anambas Bertahan saat Harga Kedelai Naik

Rustam dan istrinya Susilawati sudah 11 tahun menjalankan usaha pembuatan tahu di Anambas.Mereka tak punya tenaga pembantu untuk membuat tahu

Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Rahma Tika
Kisah suami istri 11 tahun jadi pengusaha tahu di Anambas bertahan saat harga kedelai naik. Foto pasangan suami istri Rustam Efendi (66) dan Susilawati (56) yang sudah 11 tahun bekerja sebagai pembuat tahu di Anambas 

Solehan mengakui tidak mengetahui secara persis, apa hal yang menyebabkan naiknya harga kacang kedelai yang diimpor oleh Indonesia tersebut.

"Kita tidak tahu, katanya stok kedelai kosong," ucapnya.

Ia berencana mengecilkan ukuran tahu dan tempe dari biasanya. Itu dilakukan agar tetap dapat melanjutkan usahanya, di sisi lain tidak menaikkan harga jual tahu dan tempe kepada masyarakat.

"Nanti kita berunding dulu dengan kawan-kawan (perkumpulan) pengusaha tahu tempe untuk rencana mengecilkan ukuran tahu tempe," sebutnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Tanjungpinang, Ahmad Yani pasrah. Pihaknya mengajak pengusaha tahu dan tempe untuk pandai-pandai menyikapi.

"Masalah kedelai memang ada kenaikan, kemarin Rp 10 ribu per Kg, sekarang Rp 11 ribu per Kg. Langkahnya, pandai-pandailah menyikapi, untuk sementara solusi yang kita tawarkan kiranya ukuran tahu tempe dapat diperkecil dari biasanya," ungkap Yani.

Yani juga mengakui, kenaikan kacang kedelai saat ini merupakan kebijakan dari pemerintah pusat.

Bahkan, Disperdagin Tanjungpinang tidak bisa berbuat banyak, seperti tidak bisa mensubsidikan kacang kedelai, bagi pengusaha tahu dan tempe di Tanjungpinang.

"Kalau kita mau subsidikan harus dibahas dulu, yang jelas tidak untuk saat ini. Kemungkinan di anggaran tahun depan.

Kita harapkan pemerintah pusat juga melihat kondisi pelaku usaha kita, karena inikan UMKM juga," harapnya.

Di samping itu, Yani juga menyebutkan Pemerintah Pusat (Kemendag - Red) telah turun ke Tanjungpinang dan melakukan justifikasi terhadap kondisi di lapangan.

"Kita juga telah melengkapi beberapa persyaratan yang ada dan mengisi form yang diminta oleh Kementerian Perdagangan. Maka dari itu, kita berharap besar ini bisa direalisasikan di tahun 2021 ini, ungkapnya.

(tribunbatam.id/Rahma Tika/Noven Simanjuntak)

Baca berita menarik TRIBUNBATAM.id lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved