HUMAN INTEREST

Kisah Suami Istri 11 Tahun Jadi Pengusaha Tahu di Anambas Bertahan saat Harga Kedelai Naik

Rustam dan istrinya Susilawati sudah 11 tahun menjalankan usaha pembuatan tahu di Anambas.Mereka tak punya tenaga pembantu untuk membuat tahu

Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Rahma Tika
Kisah suami istri 11 tahun jadi pengusaha tahu di Anambas bertahan saat harga kedelai naik. Foto pasangan suami istri Rustam Efendi (66) dan Susilawati (56) yang sudah 11 tahun bekerja sebagai pembuat tahu di Anambas 

ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Inilah kisah Rustam Efendi (66) dan istrinya, Susilawati 11 tahun menjadi pengusaha tahu di Anambas.

Pandemi Covid-19 ikut membuat pendapatan Rustam dan istrinya menurun saat ini dari usaha tahu.

Mereka cukup kewalahan menjalankan usahanya di tengah pandemi Covid-19.

Namun belum lagi satu masalah selesai, kini muncul masalah baru.

Harga jual kacang kedelai semakin naik. Hal ini tambah membuat beban pikiran mereka.

Baca juga: Harga Kedelai Naik, Ukuran Tahu dan Tempe Diperkecil, Disperdagin Tanjungpinang Pasrah

Diketahui, sudah 11 tahun Rustam dan istrinya Susilawati menjalankan usaha pembuatan tahu di rumah mereka yang terletak di Jalan Sungai Sugi Anambas.

Di daerah itu, memang tak banyak orang yang membuka usaha pembuatan tahu. Hanya beberapa orang saja.

Seperti usaha tahu pada umumnya, bahan utamanya kacang kedelai.

Pasokan kacang kedelai ini mereka dapat dengan cara membeli kepada agen warung besar yang ada di Anambas.

Sebab apabila harus diambil langsung dari penjual luar daerah, mereka cukup kesulitan untuk mensurvei kualitas kacang kedelai.

"Kita langsung ambil dari penjual di sini. Kalau mau ambil murah dari luar susah juga, karena kita harus punya orang di sana yang harus antar ke kapal," ujar Susilawati, pada Minggu (10/1/2021) lalu.

Ia menyebut, satu karung kacang kedelai dengan berat 50 kilogram yang dibeli dari agen dipatok Rp 500 ribu.

Namun karena harga jual kacang kedelai naik, Rustam dan Susilawati harus merogoh uang Rp 550 untuk membeli satu karung kacang kedelai.

Setiap hari pasangan suami istri ini mampu mencetak 200 keping tahu untuk dijual ukuran 6x6.

"Pembuatannya setiap hari. 200 keping tahu itu kita butuh 12 kilogram kacang kedelai," jelasnya.

Harga jual tahu per keping dijual kepada pedagang Rp 2 ribu. Biasanya pedagang menjual kembali kepada pembeli dengan harga Rp 2.500.

Mereka tidak memiliki tenaga pembantu untuk membuat tahu.

Pasalnya mereka tidak punya biaya yang cukup dan belum punya mesin otomatis. Bahkan hingga kini pembuatan tahu masih menggunakan alat manual.

"Kita buatnya pakai mesin giling saja, sedangkan untuk meras tahunya masih pakai tenaga," jelasnya.

Minimnya alat dalam pembuatan tahu tidak menjadi kendala pasangan suami istri ini untuk memproduksi tahu setiap harinya.

Mengingat belum banyak masyarakat yang menekuni bidang ini, pasokan tahu di Tarempa tidaklah banyak.

Susilawati bercerita, selama 11 tahun membuat tahu, kendala yang sering dialami yakni sempat kehabisan kacang kedelai apabila kapal angkut barang tidak masuk.

"Kita pernah tidak jualan karena waktu itu kedelai kosong. Kita di sini cuma berharap dari agen saja. Kalau ada kedelai kita buat, kadang juga banyak kacang itu yang busuk.

Akhirnya kita cuma bisa ambil sedikit dari isi satu karung itu," ujarnya.

Harga Kedelai Naik, Ukuran Tahu dan Tempe Diperkecil

Sementara itu, sejumlah perajin tahu dan tempe di Tanjungpinang meminta solusi dari pemerintah. Itu terkait naiknya harga bahan dasar kedelai yang diperkirakan merata di wilayah Indonesia.

Dampak naiknya harga bahan dasar kedelai itu, mengakibatkan pihak perajin tahu dan tempe di Tanjungpinang mengalami kerugian hingga ingin menghentikan produksinya.

Seorang perajin tahu dan tempe di lokasi Yos Sudarso Gang Jahan II, Tanjungpinang, Solehan mengatakan, harga kedelai sebelum mengalami kenaikan Rp 360 ribu per karung ukuran 50 Kg.

Namun kini harga kedelai telah mencapai Rp 500 ribu per karung.

"Sudah beberapa bulan ke belakang ini naiknya drastis," ujarnya, Minggu (10/1/2021).

Baca juga: Cara Simpan Tempe Agar Tak Mudah Berjamur, Ikuti 4 Langkah Mudah Ini

Baca juga: Asal Mula dan Filosofi Tempe Mendoan, Mengapa Digoreng Setengah Matang dan Tidak Renyah?

Solehan mengakui tidak mengetahui secara persis, apa hal yang menyebabkan naiknya harga kacang kedelai yang diimpor oleh Indonesia tersebut.

"Kita tidak tahu, katanya stok kedelai kosong," ucapnya.

Ia berencana mengecilkan ukuran tahu dan tempe dari biasanya. Itu dilakukan agar tetap dapat melanjutkan usahanya, di sisi lain tidak menaikkan harga jual tahu dan tempe kepada masyarakat.

"Nanti kita berunding dulu dengan kawan-kawan (perkumpulan) pengusaha tahu tempe untuk rencana mengecilkan ukuran tahu tempe," sebutnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Tanjungpinang, Ahmad Yani pasrah. Pihaknya mengajak pengusaha tahu dan tempe untuk pandai-pandai menyikapi.

"Masalah kedelai memang ada kenaikan, kemarin Rp 10 ribu per Kg, sekarang Rp 11 ribu per Kg. Langkahnya, pandai-pandailah menyikapi, untuk sementara solusi yang kita tawarkan kiranya ukuran tahu tempe dapat diperkecil dari biasanya," ungkap Yani.

Yani juga mengakui, kenaikan kacang kedelai saat ini merupakan kebijakan dari pemerintah pusat.

Bahkan, Disperdagin Tanjungpinang tidak bisa berbuat banyak, seperti tidak bisa mensubsidikan kacang kedelai, bagi pengusaha tahu dan tempe di Tanjungpinang.

"Kalau kita mau subsidikan harus dibahas dulu, yang jelas tidak untuk saat ini. Kemungkinan di anggaran tahun depan.

Kita harapkan pemerintah pusat juga melihat kondisi pelaku usaha kita, karena inikan UMKM juga," harapnya.

Di samping itu, Yani juga menyebutkan Pemerintah Pusat (Kemendag - Red) telah turun ke Tanjungpinang dan melakukan justifikasi terhadap kondisi di lapangan.

"Kita juga telah melengkapi beberapa persyaratan yang ada dan mengisi form yang diminta oleh Kementerian Perdagangan. Maka dari itu, kita berharap besar ini bisa direalisasikan di tahun 2021 ini, ungkapnya.

(tribunbatam.id/Rahma Tika/Noven Simanjuntak)

Baca berita menarik TRIBUNBATAM.id lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved