HUMAN INTEREST
KISAH Perantau di Batam, Sebatang Kara Ditinggal Anak Istri Hingga Tidur di Masjid
Kisah Perantau di Batam bernama Husin ini berjuang keras untuk bertahan hidup sebatang kara. Bagaimana ceritanya?
Kondisi itu menurut Husin hanya berlangsung selama dua bulan.
Saat tiba di rumah saudaranya itu, pintu rumah sudah dalam keadaan terkunci dan tertutup.
Tidak ada pemberitahuan menurut Husin kalau mereka akan pindah ke lokasi yang baru.
"Tak ada yang bilang ke saya kalau mereka mau pindah.
Kondisi rumahnya terkunci dan tertutup. Karena sudah tak tahu mau tinggal dimana, saya sempat tinggal di salah satu masjid di Sei Panas sekitar dua tahunan," ungkapnya sambil menunggu lapak jualannya di depan Masjid Jami' Al-Ikhlas, Sei Panas, Jumat (22/1/2021).

Dari hasil berjualan masker, Husin mengaku bisa mendapat uang Rp 60 ribu per harinya.
Ia mulai membuka lapak jualannya sejak pagi hari hingga pukul 21.00 WIB.
Uang yang diterimanya itu betul-betul disyukurinya.
Ia cukupkan uang yang diperolehnya untuk biaya makan sehari-hari. Pikirnya, rezeki sudah Tuhan yang atur.
"Alhamdulillah cukuplah untuk makan saya sehari-hari mas. Saya bersyukur juga bisa usaha jualan masker dari pada mulung, setidaknya saya sudah tidak berpanas-panas ataupun kehujanan lagi, karena tempat saya jualan ada tendanya," imbuh Husin.
Soal rezeki, Husin pernah mendapat yang tak ia sangka-sangka.
Pernah suatu ketika, ada Warga Batam yang membeli masker yang ia jual.
Ia kaget ketika perempuan itu menyodorkan uang Rp 100 ribu yang begitu jarang dipegangnya.
Pikirnya, ia harus mengembalikan uang dari harga masker yang ia jual Rp 5 ribu per lembarnya.
"Tapi perempuan itu tak mau mengambil kembaliannya. Heran juga sih.
Husin berharap agar kehidupannya bisa meningkat dari hasil jualan masker.
Menurutnya, apapun pekerjaan yang kita lakukan sebenarnya tidak masalah, yang penting halal. Bagaimana menurut kalian?(TribunBatam.id/Muhammad Ilham)
Baca juga berita Tribun Batam lainnya di Google