HUMAN INTEREST
PENGABDIAN Maiyatun, 32 Tahun Jadi Guru di Belakang Padang, 'Saya Bangga Jadi Guru'
Pengabdian Maiyatun menjadi guru di Belakang Padang, Kota Batam memang tak mudah. suka duka menjadi guru hinterland pun ia alami. Berikut kisahnya.
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Septyan Mulia Rohman
Makanya anak anak ini selalu kita dorong untuk berpacu untuk berprestasi, karena walau gimana pun mereka anak Belakang Padang," ungkap Maiyatun.
Kecintaan Maiyatun untuk mencerdaskan anak anak ditanah kelahirannya menjadi sala satu cita-cita yang Maiyatun rindukan.
Hal itu pula lah yang mendorongnya untuk menetap selamanya di Belakang Padang.
Awal mula ia menjadi seorang guru, Maiyatun mengaku tak seperti yang ia pikirkan.
Banyak tantangan dan rintangan yang harus ia lalui.
Mulai dari gaji yang sempat tertunda, harus menghadapi peliknya kehidupan di pulau terluar.
"Saya ingat betul itu, pertama mengajar saya masih terima gaji Rp 55 ribu dan itu harus dibagi bagi untuk keperluan keluarga," ucapnya.
Tak hanya masala gaji, kondisi geografis pulau Belakang Padang juga kerap membuatnya terancam.
Bagaimana tidak, ketika ia harus ke Batam menyebrangi lautan dengan kondisi angin gelombang kuat.

"Kadang ada undangan dari Pemko untuk rapat di kantor Disdik, kan kita harus ke Batam. Perjalanan nyebrang naik kapal pompong, itu kadang angin dan ombak kuat," kata Maiyatun.
Begitulah nak kadang cerita kita jadi seorang guru di 'hinterland' ini, lanjutnya.
Mungkin itulah yah, sebut dia yang membuat orang dari luar gak ada yang mau tinggal dan menetap di pulau iya," ucap Maiyatun nada bertanya.
Perjalanan kisah ibu dari 3 orang anak ini sudah terbilang cukup panjang, Maiyatun kini sudah dikaruniai cucu.
Pengalaman pengabdiannya kelak akan menjadi cerita panjang bagi keturuanannya.
"Gak bisa terungkapkan lah. Ada rasa kepuasan tersendiri.
Lahir dan sekolah besar dan bekerja pun di sini.
Alhamdulliah sampai masa pensiunan pun di sini.(TribunBatam.id/Bereslumbantobing)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google