BERITA CHINA
Bukan China Lagi, 3 Negara Ini Tertuduh Tempat Asal Virus Corona?
Spekulasi laboratorium yang berada di Wuhan, China yang bocor sempat dianggap penyebabnya Covid-19 terus merebak di seluruh dunia sampai hari ini...
TRIBUNBATAM.id - Dunia hingga detik ini masih enanti obat atau penangkal virus corona atau Covid-19.
Adapun yang tersedia saat ini adalah vaksin Covid-19, yang diproduksi beberapa negara.
Covid-19 pertama kali terdeteksi pada akhir 2019, dan China tertuduh sebagai biang keroknya.
Amerika Serikat (AS) dan sekutu, semasa pemerintahan Donald Trump getol menuhuh China sumber corona.
Persepsi itu mengakar hingga kini, termasuk dari beberapa analisis sejumlah ilmuan dunia yang menuduh China sejak awal tak terbuka soal virus corona.
Spekulasi laboratorium yang berada di Wuhan yang bocor pun dianggap penyebabnya, hingga Covid-19 terus merebak di seluruh dunia sampai kini.
Nyatanya, saat ini tak cuma nama China yang dianggap sumber awal corona.
Baca juga: China Gelagapan! WHO Temukan Lab Lain di Wuhan Dipindahkan Diam-diam Otoritas Xi Jinping
Baca juga: Virus Corona Pulang ke China, Media Pemerintah Sebut Wabah Covid-19 Terparah Sejak Muncul di Wuhan
Ada 3 negara lain tertuduh spekulasi menjadi tempat asal virus corona penyebab Covid-19.
1. India
Sejumlah peneliti asal China mengklaim virus corona baru atau SARS-CoV-2 berasal dari India.
Diberitakan Express, Sabtu (28/11/2020), virus corona dalam penelitian tersebut diduga menular dari hewan ke manusia saat gelombang panas pada awal musim panas 2019 terjadi di India.
Gelombang panas disebut telah meningkatkan interaksi antara manusia dan hewan.
Interaksi itu didapat saat hewan liar, seperti monyet, terlibat perebutan air yang mematikan.
Melansir Daily Mail, Jumat (27/11/2020), penelitian tentang asal virus corona tersebut dilakukan Akademi Ilmu Pengetahuan China yang dipimpin Dr Shen Libing.
Dalam makalah, disebutkan tim peneliti menggunakan analisis filogenetik, yaitu studi tentang bagaimana virus bermutasi untuk mencoba melacak asal-usul Covid-19.
Para ilmuwan berpendapat mungkin untuk melacak versi asli virus dengan menemukan sampel dengan mutasi paling sedikit.
Baca juga: Virus Corona Muncul Lagi di Wuhan, Warga Panic Buying Serbu Supermarket
Namun, klaim baru ilmuwan China tersebut ditolak sejumlah ilmuwan terkemuka.
Mengutip The Sun, Jumat (27/11/2020), profesor dalam genetika manusia dan biostatistik di UCLA, Marc Suchard, mengatakan "koleksi acak" dari strain virus yang digunakan tidak mungkin menghasilkan "nenek moyang".
Menurutnya, metode yang digunakan para ilmuwan dari China itu membawa ketidakpastian yang cukup besar.
2. Italia
Melansir CGTN, Sabtu (28/11/2020), pakar virologi Jerman Alexander Kekule menilai, pandemi virus corona global dimulai dari Italia bagian utara.
Dia menjelaskan virus corona yang tengah menyebar di seluruh dunia bukan dari Wuhan, China melainkan mutasi dari Italia utara.
Strain virus di Italia disebut mutan "G", strain yang memiliki mutasi genetik.
Kekule mengatakan ketidaktahuan Italia akan virus, peringatan dari China yang lama, serta kurangnya tindakan pencegahan adalah penyebab pandemi global.
Baca juga: Virus Covid-19 Varian Delta Hantui Wuhan, 12 Juta Warga Jalani Tes
Baca juga: Pejabat AS & Sekjen WHO Yakin Indikasi Teori Konspirasi Covid, Dampak Bocor Lab di Wuhan China?
Jika tidak, semestinya virus bisa dikendalikan.
Sebelumnya, penelitian yang dibuat Institut Kanker Italia menemukan virus corona baru atau SARS-CoV-2 sudah ada di Italia sejak September 2019.
Hal itu ditanggapi China, sebagai bukti bahwa mereka tidak bersalah.
Melansir Kompas.com, 20 November 2020, penelitian itu berbasis pada analisis sampel darah dari 959 orang, diambil saat pemindaian kanker paru-paru antara September 2019 sampai Maret 2020.
Sejumlah peneliti menuturkan pemeriksaan lebih lanjut harus dilakukan pada jurnal tersebut.
Profesor di Jurusan Sains Biologi Universitas Reading, Mark Pagel, mengatakan semua sampel yang dikumpulkan berstatus tanpa gejala dengan usia yang bervariasi antara 55 sampai 65 tahun dan perokok.
"Secara normal, ini adalah kelompok yang paling tinggi dan rentan terkena Covid-19.
Karena itu sangat aneh mengapa sampelnya tanpa gejala," tuturnya.
Baca juga: Pejabat AS & Sekjen WHO Yakin Indikasi Teori Konspirasi Covid, Dampak Bocor Lab di Wuhan China?
3. Spanyol
Ahli virologi Spanyol menemukan jejak virus corona dalam sampel air limbah Barcelona pada Maret 2019.
Penelitian mereka menyiratkan Covid-19 mungkin muncul jauh lebih awal daripada yang diperkirakan.
Melansir Reuters, 27 Juni 2020, para peneliti dari tim Universitas Barcelona menjalankan tes pada sampel yang diambil dari Januari 2018 hingga Desember 2019.
Dari penelitian itu, didapat genom virus corona pada salah satunya.
"Tingkat SARS-CoV-2 rendah tetapi positif," kata pemimpin penelitian Albert Bosch seperti dikutip oleh universitas.
Namun, Dr Joan Ramon Villalbi dari kelompok Masyarakat Spanyol untuk Kesehatan Masyarakat dan Administrasi Sanitasi mengatakan kepada Reuters bahwa masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti.
Baca juga: Sempat Ditutupi China, Kini WHO Sebut Gagal Identifikasi Sumber Wabah Covid-19, Ragu dari Wuhan
Baca juga: CHINA Akhirnya Buka Suara Soal Asal Usul Virus Corona, Singgung Kepala Babi di Wuhan
.
.
.
(*/ TRIBUNBATAM.id)
Sumber: Kompas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/1-7-2021-virus-corona-lambda.jpg)