WISATA KEPRI
Bunga Langka Ini Tumbuh di Kepri, Magnet Baru Destinasi Wisata
Kemunculan bunga langka di Kepri ini dapat menjadi magnet untuk mendongkrak kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara.
ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Wisata Kepri tak hanya menyimpan keindahan alam bawah lautnya saja.
Di Kabupaten Kepulauan Anambas, kamu bisa melihat langsung bunga langka yang biasa tumbuh di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.
Lokasinya pun berada jauh dari permukiman penduduk.
Tepatnya di Batu Tabir Rintis Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan.
Ya, Bunga Raflesia tumbuh di kawasan ini.
Dari Tarempa, ibu kota Kabupaten Anambas kamu bisa menggunakan sepeda motor atau mobil menuju kawasan Batu Tabir.
Baca juga: Wan Siswandi Ingin Natuna Jadi Wajah Wisata Indonesia di Mata Dunia
Baca juga: Ansar Ahmad Lobi Pusat Buka Pariwisata Kepri
Jarak tempuhnya sekira 30 hingga 45 menit.
Dari sini, adrenalin kamu sudah terpacu. Sebab jalanan sudah menanjak meski kini sudah kondisi semen bertulang hingga aspal.
Sampai di kawasan ini, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Lokasinya tidak jauh dari aliran sungai sekitar satu kilometer dari bendungan air Batu Tabir Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan.
Bunga ini awalnya ditemukan Arifin dan Teddy.
Sebelumnya juga ditemukan komunitas pecinta alam saat menyusuri hutan mencari sumber air di daerah perbukitan Pulau Siantan.
Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit VI Anambas mengatakan ada 7 titik lokasi yang telah ditemukan oleh pihaknya di kawasan Batu Tabir tersebut.
"Saya juga dengar di Gunung Samak ada juga bunga Raflesia. Untuk yang di Batu Tabir itu ada 7 titik lokasi dan masih ada beberapa titik lagi yang belum kita survei," ujar Kepala UPT KPHP Unit VI Anambas, Haeri Yanto, kepada TribunBatam.id.
Bunga raflesia yang berada di Batu Tabir mempunyai diameter 38 centimeter.
Pihak UPT KPHP Unit VI Anambas menyebutkan perannya dalam mengelola perhutanan punya jangka panjang dalam mengelola tata hutan untuk 10 tahun kedepan harus seperti apa.
Baca juga: Rahma Ajak Gali Potensi Pariwisata di Kota Tanjungpinang
Baca juga: PESONA Vihara Dharma Sasana Tanjungpinang, Destinasi Wisata Religi Sejak Abad 17
"Kami di KPHP ini punya hak kelola kami ini ada hutan lindung, hutan hijau dan hutan produksi terbatas, kewenangan kami di tiga ini untuk 10 tahun kedepannya maunya seperti apa," ucapnya.
Batu Tabir yang memiliki lokasi bunga raflesia tumbuh ini nantinya akan dijadikan lokasi ekowisata.
"Kemarin 2019 itu kita sudah menawarkan ke Kepala Desa di sana itu agar dikelola untuk dimasukkan kepada program hutan kemasyarakatan," terangnya.
UPT KPHP Unit VI Anambas ingin masyarakat di sini terlibat dalam memberdayakan kawasan hutan yang punya potensi wisata.
Ia juga ingin dengan adanya ekowisata bunga raflesia ini bisa jadi pendapatan bagi daerah sendiri.
Saat ini pihak KPHP Anambas belum bisa menjaga Bunga raflesia karena adanya keterbatasan, namun yang bisa ia lakukan saat ini hanya pengecekan dan pemantauan terhadap pertumbuhan bunga itu sendiri.
"Kami ingin buat ini nanti sebagai sarana pendidikan, pengenalan kepada masyarakat juga tentang keragaman hayati yang di Anambas," sebutnya.
Ragam destinasi wisata baru di Kepri sebelumnya disampaikan Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kepri, Buralimar.
Tidak hanya kemunculan bunga Raflesia, Buralimar sebelumnya melirik sejumlah mercusuar di pulau terluar menjadi destinasi wisata baru.
Seperti diketahui, wilayah Kepri 96 persen berupa lautan terdiri atas 2.408 pulau.
Provinsi tersebut berbatasan langsung dengan wilayah negara Malaysia, Singapura, Kamboja, dan Vietnam.
Baca juga: Pengelola Wisata di Tanjungpinang Dilatih Digital Branding
Baca juga: Wisata Batam Kampung Tua di Kepri, Khas Suasana Alami Kental Budaya Melayu
Pulau terluar paling banyak berbatasan dengan Malaysia, di antaranya Karimun Kecil, Iyu Kecil, Sentut, Tokong Malang Biru, dan Kepala.
Sejumlah pulau terluar ini memiliki mercusuar serta memiliki sejarah pembangunannya.
"Mercusuar akan kami jadikan tujuan destinasi baru yang menampilkan sisi keindahan arealnya serta sisi edukasinya. Sebab terdapat nilai sejarahnya," ujarnya, Rabu (17/11/2021).
Rencana ini pun seakan terang saat kunjungan distrik navigasi ke kantor Pariwisata kepri.
"Dalam pertemuan itu, sudah menawarkan usulan 9 lokasi mercusuar aset distrik navigasi untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata baru di kepri," sebut Buralimar.
Untuk tahap awal (pilot project) akan dimulai untuk survey lokasi mercusuar di Nongsa yang berada di Pulau Putri, Kota Batam.
Sebagai Pilot project di Pulau Putri, Nongsa, Kota Batam, akan membahas aspek legalitas, serta status lahannya.
Jadi bekerja sama dengan Dispar kepri dan didampingi dengan unsur komunitas serta Pemda setempat nantinya.
"Selanjutnya juga melihat lagi potensi pengembangan situs mercusuar, pemahaman dan pengaturan pelaku usaha masyarakat, kelompok eksisting," ucapnya.
CERITA Penjaga Bunga Langka
Berikut cerita tentang penjaga bunga langka dari Laut Natuna Utara.
Rumah Cakra Jaya berada jauh dari pusat kota di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri.
Jangan harap mudah mengakses internet di kediamannya.
Rumah pria 51 tahun ini berdekatan dengan hutan.
Tepatnya di sekitar Batu Tabir, Desa Tarempa Selatan, Kecamatan Siantan.
Meski demikian Cakra tak khawatir apalagi cemas meski tinggal berdekatan dengan alam.
Apalagi jika ia sudah menerobos rimbunnya hutan.
Ia semakin semangat ketika melihat tumbuh kembang Bunga Rafflesia yang mekar di sekitar hutan tak jauh dari lokasi ia tinggal.
Baca juga: Kuliner Gurih Asal Kepri Ini Sukses Tembus Pasar Mancanegara
Baca juga: Budaya Melayu Jadi Daya Tarik Wisata Kepri, Pemerintah Daerah Meliriknya
Cakra Jaya merupakan salah satu Warga Anambas yang aktif melestarikan tumbuh kembang Bunga Rafflesia yang mekar di sekitar hutan itu.
Ia cukup bangga bisa merawat bunga langka ini.
Cakra Jaya bahkan mengajak anak sulungnya agar setiap hari memantau perkembangan Bunga Rafflesia tersebut.
"Jarak dari rumah saya tidak jauh, karena kami sudah terbiasa ke sana.
Ada kebun juga jadi tidak terlalu jauh, ya sekitar satu kilometer dari sini.
Cuma bisa ditempuh dengan berjalan kaki," ucap Cakra, Senin (23/8/2021).
Sudah puluhan tahun Cakra bersama anak istrinya tinggal di hutan Batu Tabir.
Ia juga bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Terkadang apabila ada waktu luang ia akan menyempatkan diri melihat perkembangan Bunga Rafflesia.
"Kami warga di sini yang tinggal tidak banyak, hanya ada dua rumah saja di sini, yang satu lagi di atas sana pas kami mau masuk ke hutan itu.
Bunga Rafflesia ini dulu kami beri nama buah pame, setelah terkenal karena ada orang kota ke sini.
Barulah kami tau itu Bunga Rafflesia," ujarnya.
Cakra menceritakan, sebagai anak daerah yang tinggal di sekitar hutan batu tabir itu, sejak kecil buah pame atau Bunga Rafflesia ini sudah sering ia lihat bersama teman-temannya.
Baca juga: Pantai Saudara Kite Pulau Bintan, Destinasi Wisata Kepri Cocok Buat Swafoto
Baca juga: Intip Indahnya Air Terjun Neraja Anambas, Jadi Destinasi Wisata Kepri
"Setelah ke sini sekitar empat tahun ke belakang baru kami tau itu Bunga Rafflesia.
Kemudian warga lainnya mulai banyak lah yang berkunjung ke sini," kata Cakra.
Rumahnya yang memang dekat dengan lokasi beradanya Bunga Rafflesia mengaku sering melihat masyarakat dari luar daerah dan masyarakat lokal setiap minggunya berkunjung untuk melihat keberadaan bunga langka tersebut.
"Sebelum covid-19, Sabtu Minggu pasti ramai terus.
Bunga Rafflesia ini pun kan tidak mekar terus, kadang ada yang pergi tapi tidak bisa lihat bunga ini.
Karena tidak bisa dipastikan kapan mekarnya," jelas Cakra.
Jangka waktu mekar Bunga Rafflesia ini juga tidak lama, sekitar 20 hari saja.
Bunga ini lebih sering mekar pada musim hujan ketimbang pada musim kemarau.(*/TribunBatam.id/Rahma Tika/Endra Kaputra)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Wisata Kepri
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/bunga-raflesia-di-anambas.jpg)