HUMAN INTEREST STORY
Potret Dunia Pendidikan Pulau Terluar Batam, Disdik Sampai Bingung Mau Bangun Sekolah
Sudah 20 tahun Sukarmiyanto mengabdikan diri sebagai guru di pulau terluar Batam. Ia tetap ikhlas membagikan ilmu dengan segala keterbatasan.
Penulis: Novenri Halomoan Simanjuntak | Editor: Septyan Mulia Rohman
Hingga akhirnya atas permintaan masyarakat Pulau Kepala Jeri, kini Ia kembali untuk mengabdi di SD Lokal Jauh Pulau Kepala Jeri sampai sekarang.
Di Pulau Kepala Jeri hanya berdiri bangunan Sekolah Dasar (SD) dengan 3 ruang kelas dan satu ruang majelis guru.
Sedang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) hanya ada di seberang pulau Kepala Jeri, lebih tepatnya Pulau Kasu.
Baca juga: SISWA SPN Dirgantara Batam Dianiaya Sekolah, Kemendikbud Ristek Angkat Bicara
Baca juga: Orangtua Siswa SPN Dirgantara Batam yang Dianiaya Sekolah Lapor ke Ditkrimum Polda Kepri
SD Kepala Jeri sendiri disebut dengan istilah lokal jauh lantaran masih satu induk dengan SD Negeri 006 yang ada di Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang.
Kondisi gedung SD yang dibangun permanen terlihat mulai kusam dari paduan warna hijau tua dan hijau muda.
Sisa-sisa plafon pun tampak menganga dan berlepasan hingga tak tersisa.
Di ruang kelas hanya ada beberapa buah meja persis sesuai dengan jumlah siswa yang ada.
Lantai yang berdebu, cat dinding yang mulai terkelupas, tumpukan buku-buku pelajaran yang juga mulai kusam, tatanan meja dan kursi belajar yang telah rusak saling bertimpa memperlengkap buruknya kondisi SD di Pulau Kepala Jeri.
Lingkungan sekolah yang dikelilingi rimbunan pepohonan menandakan tidak adanya sarana lapangan olah raga untuk siswa.
Guru berusia 43 tahun ini menyebutkan, bila jumlah siswa yang ada di SD Negeri 006, Kepala Jeri hanya ada 17 orang yang terakumulasi hingga kelas 6.
"Siswa yang kami ajar di sini komplit hingga kelas 6. Namun jumlahnya hanya 17 orang. Kelas 1 satu orang, kelas 2 satu orang, kelas 3 dua orang, Kelas 4 tiga orang, kelas 5 lima orang, kelas 6 lima orang, komplit sih hingga kelas," ujarnya kepada TribunBatam.id, Jumat (19/11/2021).
Dengan jumlah siswa yang terbilang sedikit itu, lanjutnya, tenaga pengajar yang di tempatkan di Pulau Kepala Jeri hanya ada 3 orang, dengan pembagian masing-masing mengajar 2 kelas setiap harinya.
"Jadi sistem mengajarnya satu guru mengajar dua kelas sekaligus dan itu selalu bergantian di jam yang sama. Misal saya ngajar kelas 5 dan 6 karena ruang terbatas, saya gabungkan para siswa namun kursinya diberi jarak, sebentar saya ajar kelas 5 setelahnya saya ajar lagi yang kelas 6, begitu setiap harinya," paparnya.
Baca juga: Kasus Covid-19 Menurun, Disdik Karimun Bakal Tambah Jam Belajar Tatap Muka di Sekolah
Baca juga: ANBK SD 2021 di Natuna, Wan Arismunandar: Masih Ada Siswa Numpang di Sekolah Lain
Melihat kondisi gedung sekolah yang begitu memprihatinkan, Sukarmiyanto bersama para guru dan Kepala Sekolah yang turut dibantu pemuda dan mahasiswa asal Kepala Jeri yang mengenyam pendidikan dari Malang dan Umrah tak tinggal diam.
Dengan sarana prasarana yang seadanya, pihaknya juga berupaya untuk mempublis ke sosial media dengan harapan mendapat perhatian dari pemerintah maupun para donatur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/potret-dunia-pendidikan-pulau-terluar-batam.jpg)