HUMAN INTEREST STORY
Potret Dunia Pendidikan Pulau Terluar Batam, Disdik Sampai Bingung Mau Bangun Sekolah
Sudah 20 tahun Sukarmiyanto mengabdikan diri sebagai guru di pulau terluar Batam. Ia tetap ikhlas membagikan ilmu dengan segala keterbatasan.
Penulis: Novenri Halomoan Simanjuntak | Editor: Septyan Mulia Rohman
"Adapun bantuan dana BOS hanya bisa digunakan untuk pemeliharaan, sedangkan bila dilihat dari kondisinya ini sudah harus perbaikan secara total. Kami dan Kepala Sekolah sudah pusing mau cari bantuan dana dari mana. Cara adik-adik mahasiswa untuk membantu sudah disebar tentang kondisi sekolah melalui sosial media facebook namun hingga saat ini belum juga tembus," terang Sukarmiyanto.
Disdik Batam diakuinya pernah mengunjungi SD Negeri 006 Kepala Jeri namun karena terhalang sumber dana dan aturan jumlah rasio siswa, maka pembangunan sekolah tidak dapat dilakukan.
"Jadi pihak dinas juga bingung, karena salah satu aturannya kan harus berlandaskan jumlah rasio siswa selain itu juga minimnya sumber dana. Tapi kami hanya bisa berharap barang kali ada kebijakan yang dapat mengubah kondisi sekolah ini menjadi lebih baik.
Sebagai putra kelahiran Pulau Kepala Jeri, ia sadar akan tanggung jawab moralnya untuk membangun kampung khusus dari segi pendidikan. Baginya semua siswa baik di Kota maupun di pulau terpencil memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kualitas belajar yang layak dan nyaman.
Usia produktif yang kian menipis di Pulau Kepala Jeri menjadi salah satu faktor berkurangnya jumlah siswa yang bersekolah di SD Negeri 006.
Baca juga: Mahfud MD dan Menteri Tito Karnavian Bakal Berkunjung ke 2 Pulau Terluar Natuna
Baca juga: Kadispar Kepri Lirik Mercusuar Pulau Terluar Jadi Destinasi Wisata Baru
"Di sini banyak yang tamat SMA ke Batam, kuliah atau pun kerja. Jadi di sini yang tinggal usia non produktif, tinggal beberapa saja yang punya anak usia sekolah, lama kelamaan ya makin habis penduduknya begitu,"
Di sini juga sistem pembelajaran online dengan menggunakan IT kepada siswa itu sulit, karena terbatasnya jaringan telekomunikasi.
Pihaknya hanya dapat mengajar dengan menunjukkan materi belajar video yang telah didownload terlebih dahulu melalui laptop.
"Jadi kalau saat pembelajaran dengan sistem daring kemarin, siswa itu belajarnya harus ke bukit dekat dermaga supaya ada sinyal yang baik. Begitu juga kami para guru bila ingin mengirim laporan ke Dinas secara online maka harus bolak balik ke bukit untuk mengirim file laporan lalu ke sekolah kembali," sebutnya.
Kini ia hanya berharap adanya perhatian khusus dari pemerintah untuk dunia pendidikan anak di pulau terluar.
"Cobalah untuk bangun satu romble saja, kiranya ada kebijakan yang patut untuk siswa di sini," tukasnya. (TribunBatam.id/Noven Simanjuntak)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Human Interest Story
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/potret-dunia-pendidikan-pulau-terluar-batam.jpg)