BERITA CHINA
China Kian Sangar Klaim Laut Natuna Utara, AS Hingga Jerman Kirim Armada Militer
Amerika Serikat hingga Jerman bersikap dengan langkah China yang semakin sangar mengklaim Laut Natuna Utara sebagai wilayah teritorial mereka.
Hal itu diungkap oleh SCSPI, sebuah lembaga think tank yang memantau aktivitas militer di kawasan Laut China Selatan yang berbasis di Beijing.
Pada Selasa (14/12), pesawat mata-mata itu meninggalkan pangkalan AS di Okinawa dan terbang di dekat garis Pantai Guangdong dan Pulau Hainan dalam patroli yang dinilai ‘sangat cocok’ dengan lokasi latihan perang PLA yang direncanakan.
Baca juga: China Kerahkan Pesawat Pengebom di Laut Natuna Utara Hingga Sebar Ranjau Laut
Baca juga: China Meradang, Sejumlah Negara Ikut Amerika Serikat Boikot Olimpiade Beijing 2022
Menurut seorang sumber militer yang dekat dengan PLA, latihan perang China seharusnya digelar sebelumnya.
Namun, latihan itu ditunda karena pandemi covid-19 dan kerapnya kunjungan pesawat dan kapal perang AS ke kawasan itu.
Armada Laut Selatan PLA berbasis di Provinsi Guangdong di selatan China. Para personelnya, ungkap sumber itu, sempat terjebak karantina dan pembatasan pandemi lainnya saat wabah Corona melanda.
Menurut data yang dikumpulkan oleh SCSPI pada November seperti dikutip Kompas.tv, sejumlah pesawat mata-mata AS tercatat melakukan 94 serangan mendadak di Laut China Selatan dekat pesisir China.
Tidak hanya Amerika Serikat (AS), armada militer Jerman dilaporkan melintas Laut Natuna Utara/Laut China Selatan pada Rabu (15/12/2021) atau pada hari yang sama.
Kapal perang Jerman berjenis Fregat Bayern diketahui merupakan kapal perang pertama milik Jerman yang melintasi Laut Cina Selatan sejak 2002, perairan yang dilalui 40 persen kapal-kapal dagang Eropa.
Melansir The Straits Times, langkah ini adalah bentuk dukungan Jerman pada Amerika Serikat dan sekutu untuk membatasi ambisi China memperluas teritorial perairan mereka.
Perlu diketahui, China mengeklaim hampir seluruh Laut Cina Selatan sebagai miliknya dan membangun pos-pos militer di pulau-pulau buatan di perairan yang kaya sumber daya alam. Ini bertentangan dengan keputusan pengadilan internasional.
Juru bicara kementerian pertahanan Jerman mengatakan, kapal angkatan laut Jerman itu telah memulai transit melalui Laut Cina Selatan dan menuju ke Singapura.
Para pejabat di Berlin menyebut, angkatan laut Jerman akan tetap berpegang pada rute perdagangan umum.
Fregat itu juga nampaknya tidak akan berlayar melalui Selat Taiwan, aktivitas rutin marinir AS yang sering dikecam oleh China.
Baca juga: China Peringatkan AS Soal Boikot Olimpiade Beijing 2022, Siap Ambil Tindakan Tegas
Baca juga: Cadangan Migas Laut Natuna Utara yang Diklaim China, Singapura Sempat Dibuat Pusing
Dengan kehadiran Jerman, semakin banyak negara yang memperluas aktivitas mereka di sekitar Sumadera Pasifik untuk menentang China, seperti Amerika, Inggris, Prancis, Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Di sisi lain, keberadaan kapal-kapal perang asing di sekitar perairan negara-negara ASEAN juga telah lama menjadi kekhawatiran pakar keamanan dan militer Connie Rahakundini Bakrie.