Sabtu, 9 Mei 2026

BERITA CHINA

China Ngotot Taiwan Masuk Wilayahnya, 'China Harus Dipersatukan Kembali'

China bahkan mengibaratkan Taiwan sebagai pengembara yang pada akhirnya akan pulang. Konflik dua negara ini sudah terjadi sejak lama.

Tayang:
TribunBatam.id/Istimewa/ Kompas.com via AFP Photo/Pool/Greg Baker
Menteri Luar Negeri China, Wang Yi optimistis jika Taiwan bakal kembali ke pangkuan Beijing. 

Wang Yi menambahkan, AS dan beberapa negara lain mencoba memanfaatkan Taiwan untuk mengendalikan China.

“Tindakan sesat inilah yang mengubah status quo dan merusak perdamaian di Selat Taiwan, melanggar konsensus komunitas internasional, dan norma-norma dasar hubungan internasional,” kata Wang.

Dia menambahkan, sebagai tanggapannya, China mengambil tindakan balasan yang kuat untuk mengejutkan arogansi mereka yang berusaha 'memerdekakan' Taiwan.

China kerap kali marah atas dukungan yang diberikan AS untuk Taiwan.

Di sisi lain, Pemerintah Taiwan berulang kali mengecam tekanan dari China.

Taipei menegaskan bahwa rakyat Taiwan memiliki hak untuk memutuskan masa depan mereka dan bahwa mereka tidak akan takluk pada ancaman.

Konflik antara China dan Taiwan diketahui terjadi sejak lama.

Baca juga: China Kerahkan Pesawat Pengebom di Laut Natuna Utara Hingga Sebar Ranjau Laut

Baca juga: China Meradang, Sejumlah Negara Ikut Amerika Serikat Boikot Olimpiade Beijing 2022

Pada 1949, kubu nasionalis di bawah bendera Kuomintang kalah dalam perang saudara.

Tahun itu, sekitar dua juta pendukung Republik China dan Kuomintang yang dipimpin Chiang Kai-shek melarikan diri ke Taiwan.

Di sisi lain, Partai Komunis yang dipimpin Mao Zedong berhasil mengambil alih China daratan.

Pada 1 Oktober, Mao Zedong mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat China di China daratan.

Setelah pendukung Republik China dan Kuomintang pergi dari China daratan.

Chiang Kai-shek akhirnya memerintah Taiwan dan mendeklarasikan darurat militer di sana.

Awalnya, Chiang Kai-shek masih mengaku dan mengeklaim mewakili seluruh China.

Republik China pun yang berbasis di Taiwan masih berada dalam keanggotaan PBB.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved