Kamis, 7 Mei 2026

BERITA SINGAPURA

Singapura Cemas Hubungan China Amerika Serikat Memanas Terkait Taiwan

Selain hubungan Amerika Serikat dan China yang memanas, Singapura masih menghadapi inflasi yang masih tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Tayang:
TRIBUNBATAM.id via CHRISTOPHE ARCHAMBAULT / AFP
Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong mengungkap rasa cemasnya terkait hubungan Amerika Serikat dan China yang terus memanas terkait Taiwan, dengan tantangan pemulihan ekonomi global. 

SINGAPURA, TRIBUNBATAM.id - Singapura dibuat cemas dengan ketegangan antara China dan Amerika Serikat terkait Taiwan.

Perdana Menteri Singapura, Lee Hsien Loong pada Senin (8/8/2022) menyebut, saling curiga antara Amerika Serikat dengan China menjadi tantangan lain dalam memulihkan ekonomi negara yang bertetangga dengan Batam itu.

Selain ketegangan antara Amerika Serikat dengan China di Selat Taiwan, angka inflasi di Singapura masih melambung dalam beberapa bulan terakhir masih menjadi atensi mereka.

Pemerintah Singapura akan meluncurkan lebih banyak tindakan dalam beberapa bulan mendatang untuk membantu orang mengatasi kenaikan harga.

Bank sentral Singapura lantas memperketat kebijakan moneternya pada 14 Juli dalam sebuah langkah off-cycle untuk mengatasi tekanan biaya.

Baca juga: Singapura Bantah Bos Duta Palma Group Surya Darmadi Buronan KPK di Negaranya

Singapura sebelumnya mengumumkan paket dukungan untuk sebagian besar kelompok berpenghasilan rendah guna membantu mengurangi peningkatan biaya hidup akibat inflasi dan kenaikan harga energi.

Dia menuturkan, negara berpenduduk 5,5 juta orang itu kini harus merencanakan jauh ke depan serta mengubah industri, meningkatkan keterampilan dan meningkatkan produktivitasnya.

“Dunia tidak mungkin kembali dalam waktu dekat ke tingkat inflasi dan suku bunga rendah yang telah kita nikmati dalam beberapa dekade terakhir,” ucap Lee.

Lee menuturkan, Singapura akan diterpa persaingan dan ketegangan yang intens di kawasan itu.

“Di sekitar kita, badai sedang berkumpul. Hubungan AS-China memburuk, dengan masalah yang sulit dipecahkan, kecurigaan yang mendalam, dan keterlibatan yang terbatas. Ini tidak mungkin membaik dalam waktu dekat. Selain itu, salah penghitungan atau kecelakaan dapat dengan mudah memperburuk keadaan,” sambung Lee.

LANGKAH Taiwan Hadapi China

Konflik antara China dengan Taiwan semakin menjadi.

China mengerahkan puluhan jet tempur militernya saat Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan pada awal Agustus 2022.

Baca juga: China Pamer Puluhan Jet Tempur saat Ketua DPR Amerika Serikat ke Taiwan

Itu bukan yang pertama China mengerahkan armada militernya sekaligus menunjukkan kekuatan kepada Taiwan.

China selalu menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, dan sudah meningkatkan aktivitas di udara dan laut di sekitar pulau tersebut.

Kementerian Pertahanan Taiwan dalam pernyataannya mengatakan bahwa mereka bertekad, mampu, dan percaya diri dengan kemampuan pertahanan nasionalnya, serta sudah membuat beberapa perencanaan bagi keadaan darurat.

Pejabat di ibu kota Taipei sudah melakukan berbagai cara untuk memastikan warga mengetahui lokasi tempat perlindungan yang paling dekat dengan tempat tinggal mereka untuk mengantisipasi serangan udara.

Mulai dari tempat parkir, pusat perbelanjaan, dan stasiun kereta mobil bawah tanah di Taiwan telah dipersiapkan untuk digunakan sebagai tempat perlindungan dari serangan udara di saat ketegangan dengan China semakin meningkat.

Ada lebih dari 4.600 tempat perlindungan semacam itu di Taipei yang bisa menampung lebih dari 12 juta orang, atau empat kali lipat dari jumlah penduduk di kota tersebut.

Persiapan dilakukan setelah China meningkatkan aktivitas militer di sekitar Taiwan untuk menekan pemerintah Taiwan yang demokratis agar menerima kedaulatan China.

Baca juga: Konflik China vs Taiwan, Taipei Siapkan Parkiran Jadi Tempat Berlindung

Tempat masuk shelter tersebut ditandai dengan label berwarna kuning, sebesar kertas A4, dengan informasi jumlah orang yang bisa ditampung di sana.

Database mengenai tempat perlindungan tersebut tersedia di aplikasi media sosial dan juga dalam bentuk poster.

Direktur Adminstrasi Gedung Perkantoran Abercrombie mengatakan, apa yang terjadi di Eropa sudah membuat warga Taiwan lebih bersiap menghadapi segala kemungkinan.

"Lihatlah perang di Ukraina. Tidak ada jaminan bahwa warga yang tidak bersalah tidak akan menjadi korban serangan. Seluruh warga negara harus memiliki kewaspadaan mengenai adanya krisis. Kita memerlukan tempat perlindungan bila ada serangan dari pihak komunis China," sambungnya.

Warga Taipei, Harmony Wu (18 tahun) merasa terkejut mengetahui bahwa lantai bawah pusat perbelanjaan di mana dia dan teman-temannya sering berdansa akan menjadi tempat perlindungan bila ada perang.

Tetapi dia mengatakan bisa mengerti apa yang terjadi.

"Memiliki tempat perlindungan memang diperlukan. Kami tidak tahu kapan perang akan terjadi dan tempat perlindungan ini bisa menyelamatkan kami. Perang itu brutal. Kami tidak pernah mengalami hal tersebut sebelumnya jadi kami tidak pernah siap," lanjut Wu.

Baca juga: Panglima TNI Pantau Super Garuda Shield di Lingga, Singapura dan AS Ikut Serta

Bulan lalu, Taiwan mengadakan latihan menghadapi serangan udara menyeluruh untuk pertama kalinya setelah pandemi Covid-19 menyebabkan latihan sebelumnya terganggu.

Warga mendapat pemberitahuan bahwa bila ada serangan rudal, mereka harus mendatangi tempat perlindungan seperti tempat parkir di bawah tanah.

Mereka diinstruksikan untuk menutup mata dan telinga dengan kedua tangan mereka, dan tetap membiarkan mulut terbuka untuk meminimalkan dampak dari ledakan.(TribunBatam.id) (Kompas.com/Danur Lambang Pristiandaru)

Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google

Sumber: Kompas.com

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved