HUMAN INTEREST
KISAH Warga Batam, 20 Tahun Begadang Demi Air, Jika Ketiduran Seharian Hidup Tanpa Air
Warga Saguba Batam menceritakan kisah sedihnya selama 20 tahun harus begadang demi menunggu aliran air. Jika ketiduran, maka mereka tak dapat air.
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Warga Sagulung Baru (Saguba) Kecamatan Sagulung berharap, pemerintah mencarikan solusi terkait masalah air bersih yang mendera di kawasan mereka selama puluhan tahun.
Seorang warga mengungkapkan, krisis air di perumahan dia tinggal di Saguba bahkan sudah berlangsung 20 tahun.
"Selama 20 tahun masalah air tak tertangani, 20 tahun kita begadang cuma nunggu air, ketiduran saja, lewatlah air, nggak dapat kita," kata Huda, warga di lokasi kepada Tribunbatam.id, Minggu (6/8/2023).
Menurutnya, air mulai sedikit lancar, namun belum sepenuhnya pulih sebagaimana perumahan lain di Kota Batam.
Rasa jengah, kesal, kecewa atas layanan air tak perlu ditanya lagi.
Keluhan demi keluhan bahkan sudah jadi makanan keseharian.
Baca juga: Sedang Bersepeda, Seorang Wanita di Karimun Jadi Korban Asusila di Coastal Area
"Kalau kita mengadu, paling dijawab, ya nanti akan kami tangani ya pak, tapi masalahnya juga tak teratasi juga," ungkapnya.
Masalah itu pun sudah diungkap warga kepada Walikota sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Muhammad Rudi pada pertemuan Jumat (4/8/2023) sore.
Pertemuan berlangsung di Masjid Al-Ikhlas, Kavling Sagulung Baru (SAGUBA).
Sejumlah warga datang berbondong-bondong menghadiri pertemuan tersebut.
Tribunbatam.id yang turut menghadiri pertemuan tersebut mendapat cerita dari beberapa warga saat selesai pertemuan.
"Kami sebenarnya bingung mau bicara apa lagi sama beliau (Muhammad Rudi), karena masalah air di sini begitu terus," ungkap warga tersebut.
Pantauan Tribunbatam, beberapa warga terutama ibu-ibu dalam pertemuan tersebut beberapa kali berteriak ramai-ramai begitu ada pejabat terkait di lokasi mengatakan beberapa masalah air sudah tertangani.
Seorang ibu bernama Magdalena di hadapan Muhammad Rudi bercerita, saking mirisnya krisis air di kompleknya, pernah ada kejadian jenazah warga yang meninggal sampai berlarut-larut ditangani karena tak ada air di rumah.
"Keluarga sampai memandikan jenazah keluarganya di rumah sakit karena di rumah tak ada air," katanya.
Air juga sering menjadi sumber pertengkaran antara warga dengan tetangga.
"Kami tetangga sering berantem gara-gara air, karena kadang air mengalir sebagian tidak merata, karena dapatnya berurutan, siapa yang dapat duluan dapat banyak, yang kebagian terakhir tak dapat, kasihan sekali yang punya anak-anak bayi itu," ungkapnya. (TRIBUNBATAM.id/Aminuddin)
Kisah Didik Setiawan, Seniman di Natuna Ubah Kayu Lokal Jadi Karya Bernilai Tinggi |
![]() |
---|
Jemaah Haji Batam Meninggal di Tanah Suci, Yusman Johar Sosok Guru Berdedikasi Tinggi |
![]() |
---|
Nek Mesiyem Menangis Haru, Rumahnya di Teluk Mata Ikan Dapat Bantuan dari Pemko Batam |
![]() |
---|
Kisah Hidup Pemulung di TPA Punggur Batam, Bertaruh Nyawa Mengais Rupiah dari Timbunan Sampah |
![]() |
---|
Cerita Hasan Husin, Jemaah Haji Tertua Asal Lingga Kepri Berangkat ke Tanah Suci |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.