HUMAN INTEREST
KISAH Mantan Pemulung yang Kini Jadi Penjual Es Krim Keliling di Tanjungpinang
Elvinasari, seorang penjual es krim keliling di Tanjungpinang menceritakan kisah hidupnya selama merantau yang diawali menjadi seorang pemulung.
Penulis: Endra Kaputra |
TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Kemeriahan acara lomba kemerdekaan di Perumahan Pondok Kelapa (Pokel) Tanjungpinang juga mendatangkan rezki bagi Elvinasari.
Mengaku mendapatkan informasi melalui facebook Tribunbatam, wanita ini bergegas membawa gerobak es krim yang diletakan di belakang motornya menuju perumahan Pokel tersebut.
Sesampainya di lokasi, Elvina langsung bersiap melayani pembeli yang telah tak sabar menikmati eskrim yang dijualnya.
Rata rata pembeli yakni anak-anak perumahan yang sedang mengikuti kegiatan lomba.
“Saya beli satu bu yang lima ribu pakai corong ya,” sebut anak perempuan yang sedang membeli.
Dengan senyum lebar, Elvina langsung membuka kotak box es krim berwarna biru tersebut.
Ia pun mengambil es krim dengan sendok sesuai permintaan pembeli.
Baca juga: TEREKAM CCTv, Oknum Cleaning Service di Bea Cukai Batam Curi Puluhan iPhone Sitaan
Es krim yang dijual mempunyai 3 macam varian rasa. Mulai rasa coklat, strawberi, hingga vanila.
Untuk es krim yang dijual menggunakan corong dibandrol Rp 5000, corong yang memiliki dua es dihargai Rp 10.000, dan menggunakan wadah gelas plastik kecil Rp 15.000.
Saat seorang warga bertanya, dari manakah sebelum sampai di sini, Elvina pun menjawab, sebelumnya berjualan di kawasan Ramayana.
“Pas tadi liat handphone, liat di berita Tanjungpinang lewat facebook TRIBUNBATAM. Ada acara di sini ternyata, makanya langsung ke sini,” sebut Elvina menjawab sambil tertawa.
Langkah Elvina membawa dagangannya ke suatu tempat acara menjadi harapan agar dagangannya tersebut cepat laku.
“Belum setengah hari saja, sudah habis satu ember eskrim jualan saya. Tinggal satu ember aja lagi ini. Kalau ada acara begini pasti cepat laku,” sebutnya sambil tertawa kembali.
Wanita asal Tapanuli selatan (Tapsel) ini pun bercerita, berjualan eskrim sudah ditekuni sejak 2012 lalu.
Saat merantau pertama kali ke Tanjungpinang pada 2011, Ia bekerja keras mencari nafkah sebagai pemulung.
Setahun bergelut dengan sampah, saat itu seorang temannya menjumpai dirinya, dan menawarkan untuk berdagang es krim keliling.
“Saya waktu itu lagi mulung, ada teman samperin. Langsung bilang, mau gak kau kerja jual eksrim, nanti sistemnya bagi hasil saja,” sebutnya menceritakan.
Saat itu keinginan wanita berumur 38 tahun itu terhambat, sebab dirinya tidak memiliki kendaraan motor untuk berjualan.
“Tapi teman saya bilang, jumpa saja dulu sama bosnya. Pas jumpa, ternyata bos ini kasih saya beli motor seken, dengan cara cicil sebulan Rp 300 ribu. Harga motornya tiga jutaan,” ucapnya sambil menunjuk motor yang saat ini Ia gunakan.
Perjuangan Ibu tiga anak ini juga tidak mudah, pada 2020 lalu, Ia pun berpisah dengan sang suami.
Tiga tahun belakangan ini, Elvina harus berjuang untuk menafkahi dua anak wanita dan laki lakinya.
“Saya berjualan mulai jam delapan pagi sampai jam 12 malam pak. Soalnya saya sudah tinggal dengan tiga anak saya 3 tahun lalu,” ucapnya dengan nada pelan.
Satu Ember Hasilkan Rp 300 Ribu
Elvina selalu berdoa setiap memulai aktivitas berjualan eskrim. Harapannya tentu, agar dagangannya cepat habis.
Sebab, bila satu ember es krim yang terjual dengan ukuran delapan liter itu, Elvina bisa membawa uang ke rumah Rp 300 ribu.
“Pernah sih sehari habis dua ember, tapi itu jarang kali. Kalau satu ember bisa habis kalau ada acara seperti ini, dan tidak kondisi cuaca hujan,” ucapnya.
Ditanyakan, apakah pernah sampai tidak laku dagangannya dalam sehari?
“Kalau itu tidak pernah. Paling sedikit kita laku es krim Rp 100 ribu ada. Kalau kondisi hujan sepanjang hari. Kalau hujan pasti jarang sekali ada yang mau belikan,” sebutnya sambil tertawa.
Walaupun saat ini Elvina berjuang sendiri mencari nafkah untuk tiga anaknya, semangatnya pun tak pernah kendor.
Ia bahkan, bermimpi bisa menjadi agen jualan es krim sendiri.
“Saya punya mimpi bisa jadi agen sendri jualan es krim . Seperti bos saya saat ini,” harapannya. (TRIBUNBATAM.id/Endr Kaputra)
Kisah Didik Setiawan, Seniman di Natuna Ubah Kayu Lokal Jadi Karya Bernilai Tinggi |
![]() |
---|
Jemaah Haji Batam Meninggal di Tanah Suci, Yusman Johar Sosok Guru Berdedikasi Tinggi |
![]() |
---|
Nek Mesiyem Menangis Haru, Rumahnya di Teluk Mata Ikan Dapat Bantuan dari Pemko Batam |
![]() |
---|
Kisah Hidup Pemulung di TPA Punggur Batam, Bertaruh Nyawa Mengais Rupiah dari Timbunan Sampah |
![]() |
---|
Cerita Hasan Husin, Jemaah Haji Tertua Asal Lingga Kepri Berangkat ke Tanah Suci |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.