Senin, 1 Juni 2026

Penemuan Mayat di Karimun

Remaja Karimun Tewas Diduga Korban Bullying, Polisi Periksa Guru Hingga Teman Cinta

Polisi di Karimun untuk saat ini belum menemukan unsur bullying dalam kasus tewasnya Cintami Putri Febriza (16).

Tayang: | Diperbarui:
TribunBatam.id/Dok Basarnas
PENEMUAN MAYAT DI KARIMUN - Tim SAR gabungan mengevakuasi jenazah remaja perempuan yang terjun di laut Kundur, Rabu (4/9). 

Menurutnya, selama ini korban aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler diantaranya Pramuka, Kerohanian Islam (Rohis), PMR dan PIK-R.

"Saya tidak pernah mendapatkan laporan dari wali kelas maupun guru BK kalau Cintami menjadi korban pembullyan," ujar Zurkani.

Baca juga: Ibu Cintami di Karimun Terisak Ungkap Anaknya Sosok Pendiam dan Tertutup

"Kalau korban mengalami bully tentu dia pasti tidak akan aktif dalam berkegiatan. Sementara korban mengikuti empat ekskul dan cukup aktif. Selama ini orangtuanya juga tidak pernah mengadukan anaknya jika memang dibully," timpanya.

Diketahui, saat kejadian waktu pembelajaran di sekolah telah usai. 

Namun korban CPF dan rekannya bernama Rudi Ramadhani diketahui tidak langsung pulang kerumah melainkan pergi ke dermaga Airud lama di Sei Sebesi.

"Sudah pulang sekolah, dari sekolah ke lokasi sekitar 3 kilometer, lokasi itu bekas rumah sakit apung. Memang jalan tersebut cukup sepi jarang dilewati orang. Malah dapat kabar korban jatuh ke laut di lokasi itu," ujarnya.

"Bikin saya terkejut membaca berita Cintami menjadi korban bully. Karena korban pernah juara dalam lomba dan anaknya ini sangat aktif. Terakhir kemarin dia ikut karnaval menggunakan pakaian pengantin," ujarnya.

Baca juga: Remaja 16 Tahun di Karimun Nekat Lompat ke Laut Diduga Jadi Korban Bullying

Selain itu dalam kurikulum pembelajaran, Kepala SMA Negeri 1 Kundur selalu menyampaikan arahan kepada siswa-siswi untuk tidak melakukan perundungan ataupun bullying.

"Berulang kali saya selalu menyampaikan kepada anak-anak. Termasuk amanat kemarin (Senin-red) kepada anak baru kelas 10, 11 dan 12 kalau mereka adalah rekan seperjuangan dan stop bully di lingkungan sekolah," ujarnya.

"Bullying ini menjadi kasus nasional. Saya juga memaparkan kejadian bullying yang terjadi di Tanggerang kemarin untuk dapat dihindari hal itu terjadi di SMA Negeri 1 Kundur," timpanya.

Zurkani menjelaskan proses apabila adanya pemasalahan siswa-siswi harus di selesaikan melalui wali kelas terlebih dahulu.

"Nanti dari wali kelas akan diselesaikan di guru BK, kemudian ke guru bagian kesiswaan, setelah itu baru ke saya selaku Kepala Sekolah. Sementara korban ini tidak seperti itu orangtuanya tidak pernah di panggil oleh walikelas kalau memang korban bermasalah," ujarnya.

Meskipun begitu, adanya kejadian tersebut proses pembelajaran siswa-siswi SMA Negeri 1 Kundur tetap bejalan seperti biasanya. (TribunBatam.id/Yeni Hartati)

Baca juga Berita TribunBatam.id lainnya di Google News

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved