Senin, 1 Juni 2026

PERSPEKTIF

Bangun Damai, Redakan Konflik

Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat hidup dalam keberagaman yang tak tertandingi. Namun, keberagaman bukan jaminan akan keharmonisan

Tayang: | Diperbarui:
ist
Glady Cahyani Damanik, Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata 

Pendekatan ini memperkuat empati dan meruntuhkan prasangka. Selain itu, pendidikan multikultural di sekolah menjadi salah satu strategi kunci.

Namun, penting dicatat bahwa pendidikan multikultural bukan sekadar menghafal nama pakaian adat atau tari-tarian daerah. Ia harus mendorong siswa
untuk berpikir kritis terhadap ketimpangan sosial dan membangun solidaritas lintas identitas.

Studi Yustisia dkk (2021) menunjukkan bahwa kontak antar kelompok, bahkan yang tidak langsung sekalipun, dapat mengurangi prasangka bila disertai
pemahaman dan pengalaman positif. 

Media sosial pun bisa berperan. Sayangnya, selama ini lebih banyak menjadi medan konflik daripada ruang dialog.

Namun, studi Karso dkk (2024) menunjukkan bahwa narasi damai dan counter-hoaks bisa dibangun jika dikelola dengan strategi komunikasi yang tepat. Konten yang mengangkat kisah persahabatan antar-etnis, kerja sama komunitas, dan nilai kemanusiaan lebih efektif meredam konflik daripada
ceramah formal.

Namun, semua upaya ini akan sia-sia jika negara tidak hadir secara adil.

Negara dan Pemerintah harus menjadi fasilitator perdamaian yang adil , bukan
pemihak konflik. Dalam kasus Rempang, misalnya, meskipun tidak langsung bernuansa etnis, konflik muncul karena masyarakat merasa tidak dilibatkan dan dilanggar hak-haknya.

Sebagai individu, kita pun punya peran. Setiap kali kita memilih untuk memahami daripada mencaci, mendengar daripada menghakimi, dan menyatukan
daripada memecah, kita sedang membangun damai.

Damai tidak harus dimulai dari atas.

Ia bisa tumbuh dari ruang kelas, ruang keluarga, dan ruang komunitas. Merawat damai dalam keberagaman bukan tugas mudah. Ia menuntut keberanian untuk melawan prasangka, kejujuran untuk mengakui luka sejarah, dan komitmen untuk membangun struktur yang adil. Tapi melalui pemahaman psikologi konflik dan perdamaian, kita bisa mengenali sumber kekerasan dan merancang langkah-langkah solutif. Damai bukan hanya tentang menghentikan perang, tetapi memastikan bahwa setiap kelompok mendapat tempat yang setara dan dihormati. Seperti kata pepatah: "Damai bukan sekadar tujuan, tetapi juga jalan.

Penulis

Glady Cahyani Damanik

Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas
Katolik Soegijapranata

Sumber: Tribun Batam
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved