Selasa, 28 April 2026

Perairan Dangas Batam Tercemar Limbah Hitam, Nelayan Terpukul hingga Wisata Terancam 

Insiden kapal pengangkut limbah hitam kandas di perairan Dangas, Sekupang, menyisakan dampak panjang bagi lingkungan, nelayan, hingga kawasan wisata

|
Penulis: Ucik Suwaibah | Editor: Dewi Haryati

Ikan-ikan menjauh dari kawasan tersebut, sementara alat tangkap seperti bubu berpotensi rusak karena tercemar minyak.

"Iya betul, sebentar lagi juga imlek. Kami nyari juga untuk dingkis. Tapi mau gimana lagi, minyak itu lengket ke bubu. Kepiting nggak mau masuk lagi," keluhnya.

Ia menyebut, kawasan Dangas merupakan daerah tangkapan nelayan dari berbagai wilayah, mulai dari Sekupang, Tanjung Uma, Batu Merah, hingga Belakang Padang dan Seraya.

"Kalau dihitung khusus Dangas ada sekitar 30 nelayan. Kalau keseluruhan, ratusan nelayan terdampak," katanya.

Sebagai pengelola wisata, pria 52 tahun ini mengatakan Kawasan Wisata Tangga Seribu juga direncankan akan ditutup sementara demi keselamatan pengunjung.

"Pengunjung datang ke Tangga Seribu kadang kan ada yang mandi-mandi juga kan, mancing. Ini minyak, bahaya kalau mandi. Rencana kita tutup," bebernya.

Ia memperkirakan pemulihan kawasan wisata bisa memakan waktu lama. 

Bahkan, kondisi ideal bisa kembali seperti semula dalam kurun waktu satu tahun.

Kerugian pun tak terelakkan. Jo memperkirakan potensi kerugian wisata mencapai ratusan juta rupiah.

"Kita hitung kecil saja, satu hari Rp1 hingga Rp2 juta. Kalau setahun, sekitar Rp200 jutaan. Itu baru yang kelihatan," katanya.

Sementara itu, berbagai pihak sudah turun ke lokasi, mulai dari Polairud, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga instansi lingkungan hidup.

 

Potret ratusan plastik dan jumbo bag berisi limbah hitam yang terdampar di pesisir Pantai Dangas dan Kawasan Wisata Tangga Seribu, Sekupang, Kota Batam
Potret ratusan plastik dan jumbo bag berisi limbah hitam yang terdampar di pesisir Pantai Dangas dan Kawasan Wisata Tangga Seribu, Sekupang, Kota Batam (Tribunbatam.id/Ucik Suwaibah)

 

Sampel limbah juga telah diambil untuk keperluan pemeriksaan.

Namun hingga kini, belum ada pembicaraan resmi terkait kompensasi maupun rencana pembersihan lanjutan dari pihak perusahaan pemilik kapal.

"Kita berharap perusahaan bertanggung jawab. Ini bukan semata bencana alam, ada kelalaian," tegas Jo.

Ia berharap pembersihan segera dilakukan dan perusahaan tidak menunggu diminta untuk bertanggung jawab atas dampak pencemaran.

"Walaupun yang bersihkan kita, mereka harus ada andilnya. Kontribusinya jelas," pungkasnya. (Tribunbatam.id/Ucik Suwaibah)

Sumber: Tribun Batam
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved