KARIMUN TERKINI
Testimoni Mantan Pecandu Narkoba di Karimun. Mulai Kenal Narkoba Sejak SMP
Rizki sudah berpuluh tahun menjadi seorang pecandu Napza. Diawali merokok pada saat di bangku sekolah dasar
TRIBUNBATAM.id, KARIMUN - Ada yang berbeda pada acara Sosialisasi Rehabilitasi Sosial Bagi Korban Penyalahgunaan Napza Melalui Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang digelar Yayasan Rumah Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) Sahabat Anak Indonesia (SADO) Kabupaten Karimun di Hotel Alishan, Sabtu (24/11/2018).
Panitia tidak hanya bicara perihal teori tapi juga memperdengarkan testimoni seorang mantan pecandu narkotika,psikotropika dan zat adiktif (Napza).
Namanya sebut saja Rizki, berusia 34 tahun dan sudah memiliki istri dan anak.
Kepada sejumlah wartawan, Rizki mengakui dengan gamblang bahwa ia adalah salah seorang mantan pecandu Napza di Kabupaten Karimun.
Ia sudah mengenal Napza sejak berusia belasan tahun atau saat masih duduk di bangku SMP.
Baca: Ditanya Soal Tertangkapnya Honorer Dalam Kasus Narkoba, Ini Jawaban Bupati Bintan
Baca: Terjerat Penyalahgunaan Narkoba, Anggota TNI AU Ini Diberhentikan. Berikut Pesan Danlanud RHF
Baca: Kepri Rawan Narkoba. Di Batam Anak Usia 4 sampai 5 tahun Jadi Sasaran Pemakai
Bahkan saat SD ia sudah mulai merokok yang ia sebut salah satu pintu masuk utama narkoba.
Saat duduk di bangku SMP, ia mulai coba-coba menghisap daun ganja yang dicampur rokok.
“Awalnya coba-coba, keenakan akhirnya keterusan hingga kecanduan,” kata Rizki gamblang.
Karimun yang tengah berkembang pada sekitar tahun 1990, membuat sejumlah tempat hiburan malam (THM) tumbuh pesat.
Bahkan saat itu di Bumi Berazam telah ada sekitar empat diskotek.
Bosan dengan ganja, Rizki bersama sejumlah kawannya kemudian meningkat petualangan mereka masuk ke THM diskotek.
Di situ, ia mulai mengenal dengan yang namanya obat-obatan terlarang seperti ekstasi atau umumnya disebut ineks dan pil koplo serta sejenisnya.
Harganya yang terbilang murah hanya sekitar Rp 40 ribu pada masa itu, disokong ekonomi dari keluarga berada (kedua orangtua Rizki adalah PNS di sebuah institusi vertikal, red), membuat Rizki semakin dalam terjerumus ke lembah hitam.
“Saat itu saya mulai juga mengenal yang namanya main perempuan. Zaman itu, di Karimun, lokalisasi-lokalisasi cukup banyak. Saya tak perlu sebutkan lah, sudah jadi rahasia umum,” katanya.
Bahkan Rizki mengaku pernah 3 bulan lamanya tinggal di lokalisasi dikarenakan memiliki pacar seorang PSK atau istilahnya "bronces" atau brondong simpanan.